Langsung ke konten utama

Obat Mujarab untuk Menghadirkan Hati

     Diriku ingin membahas tentang kehadiran hati dalam shalat, masalahnya adalah sangat sulit saat ini untuk shalat dengan hati yang hadir, sangat berat sekali, apalagi untuk orang awam. Coba saja saat ini, di depan rumahku ada banyak pemuda yang karaokean dengan musik remix lagi. Gimana bisa konsen coba, paling pas adalah shalat di perkebunan sawit yang rindang dan tenang dari gangguan manusia. Tetapi di kebun sawit juga banyak hewan yang mengusik hati, sangat rumit. Tetapi lebih rumit lagi jika kita gak shalat hanya karena khawatir shalatnya gak khusyuk. Nah, marilah kita simak bagaimana para ulama kita dulu menjaga shalatnya, tidak ada yang melalaikan shalat kecuali perkara-perkara yang mengganggu hatinya. karena itu obat mujarabnya adalah dengan menyingkirkan perkara-perkara yang mengganggu tersebut. Dan tidak bisa menyingkirkannya kecuali dengan menyingkirkan sebab-sebabnya. Adapun sumber dari perkara-perkara tersebut adakalanya datang dari luar ataupun bisa juga datang dari dalam diri seseorang itu sendiri.

     Adapun perkara yang datang dari luar adalah yang tidak terdengar oleh telinga dan tidak terlihat oleh mata, namun setelah dirasakan, perkara itu telah mencuri perhatiannya. Sehingga perhatiannya terbawa dan terfokus kepada perkara tersebut. Dari perhatian itu, pikiran kita ikut mengurusnya. Berat kalau sudah begini, maka cara yang dianjurkan oleh para kyai adalah sadar diri bahwa kita tengah menjalankan shalat. Pokoknya bagi orang awam, shalat adalah sebuah peperangan yang begitu mengerikan, lawannya adalah setan yang terkutuk. Tetapi siapa saja yang kuat niatnya dan besar perhatiannya terhadap shalatnya, maka dia tidak akan pernah dilalaikan oleh apapun yang terekam oleh pancainderanya. Ada obat yang lumayan ampuh untuk orang awam yang mau latihan menghadirkan hati, yaitu dengan cara memejamkan kedua mata ketika shalat, mengerjakan shalat diruangan yang gelap, lalu membuang semua yang biasanya mengganggu pikirannya. Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar tidak pernah meningalkan mushaf di tempat shalatnya, tidak pernah meninggalkan pedang kecuali mencabutnya, dan tidak pernah meninggalkan tulisan kecuali menghapusnya. Bagi diriku, shalat yang paling menyenangkan adalah saat bumi sepi.



     Adapun perkara yang mengganggu dan keberadaannya tersembunyi adalah pengganggu shalat yang paling berat, hati siapa yang kuat adalah juaranya. Ketahuilah, siapa saja yang perhatiannya hanyut dalam urusan duniawi, maka pikirannya tidak terbatas hanya memikirkan satu hal saja, tetapi akan terbang ke sana ke mari, maka memejamkan mata dan shalat di tempat gelap belum mampu mengusir gangguan tersebut. Nah, dalam masalah ini obat paling mujarab adalah dengan mengikuti dominasi akalnya, cuma si akal diajak paksa untuk memikirkan apa yang dibaca dalam shalatnya. Tetapi yang namanya banyak pikiran duniawi, tetp saja gangguannya akan sangat rumit, yang jelas niatkan sebelum shalat bahwa kita ingin berusaha sekuat yang kita mampu guna bermunajat kepada Allah swt.

     Yang menjadi penyakit utama hati hanya satu, yaitu cinta dunia. Pantas jika para ulama sepakat bahwa cinta dunia adalah induk segala kesalahan, dasar dari berbagai kekurangan, dan sumber utama kerusakan. Siapa saja yang hatinya penuh dengan cinta dunia, sehingga cenderung menjadikannya bukan sebagai bekal, bukan pula sebagai penolong kehidupan akhirat, maka jangan pernah berharap dirinya akan menemukan kenikmatan bermunajat dalam shalatnya. Dan lagi seringkali bila kita bermunajat kepada Allah swt yang kita fokuskan adalah urusan duniawi, ribet lah pokoknya jadi orang awam, makanya cara paling tepat adalah terus menimba ilmu sampai hati kita hadir dalam setiap ibadah kita. Secara umum, perhatian terhadap dunia dan perhatian terhadap akhirat seperti air yang dituangkan ke dalam wadah yang penuh dengan cuka. Semakin banyak jumlah air yang kita masukkan ke dalam wadah tersebut, semakin banyak pula jumlah cuka yang keluar. Namun, tidak mustahil keduanya bisa bercampur.

     Al-Quran tidak turun kepada Rasulullah dalam susunan seperti yang kita jumpai saat ini. Dahulu, susunannya acak sesuai peristiwa peristiwa yang datang dan penyimakannya atas makna yang lebih dalam. Diriku mungkin akan menjadi pencatat wahyu kalau dulu udah lahir, tapi ada kemungkinan juga diriku yang malah melawan. Yang jelas, setiap kali wahyu diturunkan, Rasulullah yang nggak bisa baca tulis akan mengucapkannya kepada pasa sahabat. Lalu mereka mencatatnya dan ada pula yang sampai menghafalnya. Bagi yang tidak bisa mengapresiasi keindahan bahasa Arab, maka Al-Quran tampak membosankan dan bertele-tele karena sering mengulang ulang tema yang sama. Walau begitu, jangan sampai kita tidak mau mengkajinya. Karena pada dasarnya, Al-Quran adalah tentang inti keimanan tertinggi. Coba bayangin, diriku aja sangat kesusahan kalau harus mengkaji Al-Quran, padahal seru juga. Apalagi yang temanya Hari Akhir. Harusnya diriku lebih belajar tentang ikhlas, supaya kalau mengkaji ilmu bisa tepat.


Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar