Langsung ke konten utama

Tak Gampang Jadi Rakyat

      Demikianlah, menulis adalah spontanitas, sebagai refleksi kecil atas suatu pengalaman, kekagetan, dan ketakjuban. Ia kubiarkan lahir begitu saja dengan kemungkinan bahwa bayi yang terlahirkan ternyata idiot, siapa tau kan?


     Tapi, sungguh: makin salah apa yang kukemukakan itu, makin senanglah diriku. Jika memang ternyata tidak demikian anatomi tengkorak mentalitas manusia kita, hasil ronsen teknologi rendah itu, maka diriku justru bisa bernafas lega. Karena memang tidak demikianlah manusia Indonesia sebenarnya. Yang menarik adalah refleksi atas refleksi ini, "Beginilah kalau pejuang amatiran, single fighter! Tak punya kawan!" begitu kata diriku yang dulu gila akan perjuangan. 


     Maka, kutuding-tuding diriku sendiri: "Hei, Rid! Ngapain kowe nongkrong dan bikin kacau balau terus di situ! Rene kowe, belajar dulu untuk lahir!...." Bagaimana diriku tidak harus belajar lahir lagi, kalau ada saat dimana segala yang kuperbuat dan kuucapkan tak ada yang benar dan tak layak tuk didengar pula. Kalau setiap kata jadi molo, setiap nafas jadi kentut, setiap ludah jadi api, setiap laku jadi keliru, maka segala pengemukakan itu kukembalikan kepada diriku sendiri sahaja. Rasanya semuanya macam kendurenan, pengalaman itu memberiku banyak hal yang semula tak kuketahui tentang manusia. Diriku kaget menyaksikan kenyataan-kenyataan dahsyat, yang semula sama sekali tak kuduga, tentu tentang manusia.

Rakyat suka menengok ke belakang


     Pelajaran terbesar yang kuperoleh ialah bahwa betapa tak gampang menjadi rakyat. Ternyata tak terduga menjadi rakyat ialah suatu pilihan yang mewah, rupanya, rakyat itu harus dipimpin. Dan harus mau dipimpin lagi. Lebih rumitnya harus meletakkan diri dengan rela di bawah suatu garis kepemimpinan. Tapi menurutku, rakyat harus dimanjakan, tidak boleh repot-repot memimpin dirinya sendiri, titik.


     Aduh, Minister! Presiden! Pelayan!: orang yang duduk di depan jamaah, mengerjakan segala sesuatu yang ditugaskan oleh jamaah itu. Ya ampun, rupanya rakyat yang harus menjadi minister, rakyat yang menjadi presiden. Melamun dengan bangga adalah yang paling bahagia. Kita lupa atau presiden yang gak mau ingat? Jadi pengen denger lagunya mbak Ratih Purwasih supaya ingat bahwa dulu rakyat dan pemimpin kehujanan bersama, malah aku yang dulu gak kehujanan. Rasanya seperti nostalgia: melintasi tanggul-tanggul, duduk di punggung kerbau, lihat tebing dan sapi di pematang sawah. Nyanyi jowo ora jelas, lupa aturan pakem babad, yang penting sesuai aturan dan ketentuan pak lurah.


     Maka, diriku bermelodrama, kepada angin aku bertanya: "Wahai angin! Sudah tidak munafikkah engkau sebelum naik jadi pemimpin? Sudah cukup munafikkah engkau sebelum naik jadi pemimpin?" Itulah dahulu kala, sekarang diriku pun makin heran dan bertanya pula: "Pernikahan siapa?" kepada batu.

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar