Pernahkah mendengar seseorang yang bernama Yaqub ibn Ishak Al-Kindi? Seorang muslim pertama yang menerapkan metode rasional terhadap Al-Quran. Beliau mendapat pendidikan di Basrah, tetapi menetap di Bagdad dengan santunan dari khalifah Al-Ma'mun, seorang khalifah yang sangat menjunjung ilmu dan para penempuh ilmu. Sementara Al-Kindi sendiri sangat fasih dalam ilmu matematika, filsafat, dan juga ilmu alam. Walau begitu, oleh karena Al-Kindi sangat mengutamakan agama, beliau mendapat kritik keras dari para penempuh ilmu filsafat. Beliau sendiri memandang filsafat sebagai alat bantu guna memahami sebuah wahyu. Al-Kindi juga sangat bersemangat untuk menemukan kebenaran di dalam tradisi-tradisi agama selain Islam. Al-Kindi sangat meyakini bahwa kebenaran itu tunggal, dan adalah tugas para filosof untuk mencarinya dalam bungkus budaya atau bahasa apa pun yang telah diambilnya selama berabad-abad.

"Kita tak usah malu meyakini kebenaran dan mengambilnya dari sumber-sumber mana pun ia datang kepada kita, bahwan walaupun seandainya ia dihadirkan kepada kita oleh generasi terdahulu dan orang-orang asing. Bagi siapa saja yang mencari kebenaran, tak ada nilai yang lebih tinggi kecuali kebenaran itu sendiri; kebenaran tidak pernah merendahkan atau menghinakan orang yang mencapainya, namun justru mengagungkan dan menghormatinya."
Dalam banyak hal, Al-Kindi bersesuaian dengan Al-Quran, akan tetapi beliau juga kadang melangkah lebiih jauh karena dia tidak membatasi diri pada nabi-nabi saja, melainkan juga berpaling kepada para filosof Yunani. Al-Kindi menggunakan argumen-argumen Aristoteles untuk membuktikan eksistensi Penggerak Pertama. Dalam dunia yang rasional, Al-Kindi berargumen bahwa segala sesuatu pasti mempunyai sebab. Oleh karena itu, mestilah ada suatu Penggerak yang Tak Digerakkan untuk memulai menggelindingkan bola. Prinsip pertama ini adalah Wujud itu sendiri, tidak berubah, sempurna, tak dapat dihancurkan. Namun, setelah tiba pada kesimpulan ini, Al-Kindi berpisah dengan Aristoteles dengan mengetengahkan doktrin Al-Quran tentang penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo). Aksi dapat didefinisikan sebagai mengadakan sesuatu dari ketiadaan. Aksi ini, menurut Al-Kindi, bersifat prerogratif bagi Tuhan. Dia adalah satu-satunya wujud yang benar-benar dapat melakukan aksi dalam pengertian yang seperti ini, dan Dia pulalah sebab nyata bagi seluruh aktivitas yang kita saksikan di dunia sekeliling kita ini.
Oleh karena falsafah menolak penciptaan dari ketiadaan, maka Al-Kindi tidak bisa disebut sebagai seorang faylasuf. Walau begitu, beliau adalah pelopor dalam upaya Islam untuk menyelaraskan kebenaran agama dengan metafisika sistematik. Dan beliau juga memiliki murid-murid yang lebih radikal lagi.
Nah, demikianlah rancangan makan malam kali ini, diriku hampir yakin bahwa para filosof adalah mereka yang bijak dalam memandang hal yang material, tetapi nyatanya bahwa hidup itu kebanyakan yang paling utama adalah yang bentuknya abstrak. Ya ampun rumit bener ujungnya.
Komentar