Langsung ke konten utama

Yang di Batin

      Juga aku yakin, jika kau ke sana, berada atau menatapi segala kemegahan, kemilau, pancaran kecerdasan manusia yang amat tinggi dalam menciptakan benda demi benda, aku yakin, wujud kasatmata dari sukses modernis ini sukar untuk kau hidupkan di dalam batinmu.


     Menyaksikan buruh-buruh yang nerves, melihat gelandangan muda umpamanya, yang setiap hari nongkrong di depan stasiun sentral untuk ngasak koin-koin di boks telepon. Barangkali dirimu lebih merasa karib dengan hal tersebut. "Kami makmur dari suatu kekuasaan besar yang kami bikin sendiri." kata seseorang. "Kami tidak tahu persis, tapi kira-kira bukan ini semua yang sesungguhnya dicita-citakan oleh hati nurani manusia." kata yang lain. Atau, "Tidak ada sesuatu yang lebih kubenci di dunia ini, kecuali individualisme dan kesunyian."

Tapi, itu semua pun cuma sekedar sebuah isi.


     Kota-kota di Eropa mungkin saja tak cukup hidup di batinku, tetapi ia menghidupkan banyak hal dalam diriku. Misal saja kalau lagi naik bus, kereta bawah tanah yang menakjubkan, atau sekedar melihat sekeliling, selalu terpancing pertanyaan: berapakah saham tanah air dan rakyat kita untuk pembangunan serpis-teknologis yang begini mewah? Bangsa yang dulu mencundangi bangsa kita, kini adalah sahabat baik. Tapi, bagaimanakah sebenarnya kita menjelaskan yang dimaksud oleh kata sahabat baik?


     Bertemu dengan anak-anak muda generasi nofutura, punker-punker, generasi apatis, selalu lahir tanda tanya: latar belakang kesejarahan apakah yang memunculkan gejala-gejala semacam itu? Dasarnya adalah mereka ingin memberontak, mereka ingin merdeka: pemberontakan bentuk ke bentuk, kekosongan lama ke kekosongan baru,, kotak ke kotak, stereotip ke stereotip. Dulu, kelahiran musik rock'n roll mampu mengejawantahkan riak ombak suatu generasi dalam mata rantai peradaban. Kau pikir hanya musik pop negeri kita yang nyinyir dan dangkal? Tidak. Datanglah ke Eropa, kita akan tahu bahwa kebudayaan tanah air kita sungguh tak patut untuk berenah diri. 

     Tapi, itupun sekedar satu sisi, ada seribu kemungkinan yang dikandung oleh manusia, di luar yang bisa kita raba, kita tangkap atau kita prasangkai. Namun, kuingat kata-kata seorang sutradara teater, ketika ditanya mengapa sehari-hari ia lebih suka bengong sendirian di atas atap gedung pematuk langit itu: "Kenapa aku lebih suka sendirian di sini? Karena aku bisa menyaksikan beribu-ribu boneka yang berduyun-duyun di jalanan itu...!"

Ah, jangan dengarkan kata-katanya, teliti saja apa yang tak diucapkannya....

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar