Langsung ke konten utama

Jiwa Islamis

     Pertama, aku sendiri sangat bersyukur karena dilahirkan dalam naungan keluarga Islami, walau nggak paham betul masalah agama, setidaknya hal tersebut bukanlah masalah. Yang penting Islam dulu, coba bayangin kalau dahulu diriku lahir dalam keluarga Bushman di Kalahari, kan jadi rumit ceritanya. Makanya, proses kelahiran adalah awal dari petualangan, tentunya pasti perhitungan ku akan berbeda dengan sesiapa yang lahir di Bolivia. Pokoknya hidup paling ribet ada di sekitaran Amazon, bayangin gimana rasanya tinggal di dunia yang nggak ada kesan supranatural nya sama sekali.

     Terserah dengan kelahiran, itu semua adalah anugerah dan cobaan. Lagian banyak yang sering berangan angan jikalau dilahirkan di metropolitan, dalam keluarga Islami dan terhormat, ningrat pula, kalau aku malah pilih minggat. Banyak aturan nggak jelas pasti di keluarga begitu. Tetapi anehnya, aku baru menemukan sepenggal puisi elok nan rupawan. Aneh juga sih, kenapa pula jari tanganku nggak luwes begini mengeja kata? Apa karena lemas oleh sebab puasa? Hari ini aku menyalahkan puasa banyak kali. Untungnya, di sore hari aku temukan puisi yang hebat. Jikalau awang awang itu ada, maka kita akan menemukan keseriusan dunia. Oleh karena bagiku, dunia ini tidak lebih hanyalah awang awang yang tersawang.

Nah, beginilah puisinya

Hujan setetes untuk mataku saja
Agar terbaca
Bahwa langit tengah mengeja
Dunia baru
dari mulutku

Angin merembes dari hati
Menari sekilas di hati
Lalu lesap menuju peti mati
Adakah tuntas
Apa yang terbahas

Ah,
Aku belum menuai bahasa

     Dibandingkan puisi, aku juga tengah mendalami, atau tepatnya tengah menyadari bahwa diriku ini berjiwa Islam. Ada yang mengatakan bahwa orang muslim saat ini berada pada masa puber. Padahal kalau begitu keadaannya, ke depan masih ada sisa perjalanan panjang yang tidak hanya melelahkan. Dengan pemahaman agama yang simplistik, dan juga kurangnya apresiasi terhadap penafsiran rasionalistik atas agama, membuat masa puber begitu melenakan. Ditambah lagi dengan terus merasa benar sendiri. Sebagai manusia, harusnya kita belajar bagaimana memahami dan mengambil dari orang lain tanpa harus hanyut ke dalamnya.

Sekian dulu sore ini, seharian cuma main hujan.
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar