Sebagai pembuka yang terdapat dalam Jitapsara, nah bahwa jitapsara ini sangat unik dalam karangannya, seperti Lauh Mahfudz kalau dalam Islam. Bayangin dahulu sewaktu Kresna mengatur siasat unik dalam merebut hak kepenulisan, kalau umpama Kresna gak berbuat begitu maka perang Barathayuda akan sangat kacau. Mungkin juga Kresna berbuat begitu juga udah dituliskan sejak awal. Lalu kali ini Mbah Ronggowarsito menulis banyak hal dalam karangan Paramayoga beliau. Nabi Adam sendiri masuk dalam bahasan awal Mbah Ronggowarsito, Sang Hyang Ad-Hama adalah nama sebutan Nabi Adam dalam jitapsara. Membahas Nabi Adam adalah hal yang unik, Nabi Musa sendiri adalah nabi yang paling greget sama nabi Adam, wajar untuk ukuran pemimpin orang Israel, pasti cerdas. Tetapi kalah juga oleh tinta, kayaknya memang segalanya udah tertulis rapi. Kembali pada pembahasan paramayoga, nah saat itu Nabi Adam membuat kesalahan, namun juga mendapat ampunan dari Gusti Allah. Setelah itu, nabi Adam menjadi khalifatullah di kusniyamalebari, nah kusniyamalebari ini adalah nama kerajaan atau wiyalah yang menjadi markas nabi Adam dalam memimpin, kalau sekarang wilayah kuniyamalebari ini ada di antara laut Kaspia dan laut Hitam. Memang di sana itu enak hawanya, pinter juga beliau memilih tempat singgah, dalam paramayoga ini Nabi Adam adalah pemimpin dari segalanya di bumi, termasuk para binatang. Kalau menurut penuturan sesepuhku sih dulu itu binatang dan manusia bisa saling ngobrol, malahan kaum binatang lebih tau banyak hal ketimbang manusia sendiri. Unik ya
Pada saat itu nabi Adam membuat dua sistem kalender, yakni tahun Syamsiyah dan tahun Qomariyah. Nah berarti sejak awal emang udah ada kalender, bahkan komplit gak cuma satu. Lalu zaman Sultan Agung tuh kalender dibuat unik dengan kombinasi kalender Jawa. Tahun awal saat itu dinamakan tahun Adam, dan memasuki tahun 129 Matahari atau 133 Bulan, nah kan selisih antara kalender Matahari dan Bulan itu sangat banyak, biar awet muda maka yang ideal adalah pakai kalender Matahari. Kembali pada paramayoga, bahwa tahun 129 Matahari nabi Adam melangsungkan hubungan suami istri dengan Hawa, gak usah ditanya siapa yang menjadi penghulu atau saksinya. Pokonya setelah itu nabi Adam dan Hawa memasuki masa berkembang biak dan terus berlangsung hingga lahir anak kembar sampai angkatan kelima. Anak kembar yang pertama lahir, wajah rupanya kalah rupawan dengan anak kembar berikutnya. nah malah yang harus dijodohkan adalah yang kurang rupawan sama yang rupawan gitu, lalu ya pasti muncul benih gak setuju dari pihak yang rupawan dong. Lebih rumit lagi ketika si Hawa juga gak setuju dengan ide nabi Adam dalam menikahkan anak-anaknya, debat sengit terjadi antara suami istri ini, udah sejak dahulu pertengkaran rumah tangga terjadi.
Dalam paramayoga, nabi Adam dan Hawa gak ada yang mau mengalah, mungkin nabi Adam gak mau lagi menuruti kemauan Hawa seperti yang dulu waktu di surga, keduanya sangat marah sampai mengeluarkan rahsa (mengeluarkan darah) mereka ke dalam sebuah wadah bernama cupumanik. Lalu keduanya memanjatkan doa kepada Gusti Allah, siapa kiranya yang menang dalam perang rahsa tadi. Selesai doa maka dibukalah cupumanik milik keduanya, ternyata rahsa nabi Adam berubah menjadi bayi yang hanya berbentuk tubuh ragangan saja, tetapi naas bagi Hawa ketika rahsa beliau gak berubah dan tetap berwujud darah doang seperti semula. Hawa sangat berduka saat itu, makanya diriku sebagai lelaki nanti kalau umpama tarung pendapat sama istri harus berani mengeluarkan rahsa. Sampai kapankun kayaknya kaum hawa ini emang adalah penggoda yang rumit jalannya.
Suatu ketika, bayi yang terdapat dalam cupu milik nabi Adam tadi mendapatkan kodrat dan iradat Gusti Allah. Si bayi mendapat tiupan ruh dan akhirnya menjadi manusia yang sempurna. Setelah itu, cahaya kenabian yang ada dalam tubuh nabi Adam berpindah ke dalam tubuh bayi tadi hingga bayi itu dapat hidup sempurna. Nabi Adam lantas mendapatkan bisikan dari Gusti Allah agar bayi tersebut diberi nama Syayidina Sis. Namun dalam jitapsara sendiri namanya adalah Sang Hyang Sita. Nabi Adam selanjutnya memanjatkan syukur kepada Gusti Allah setelah menjalankan bisikan gaib tersebut. Untuk selanjunya nabi Adam menggendong bayi tersebut dengan penuh haru. Sebuah cerita yang begitu spiritual.
Bersambung....

Komentar