Dengarkan suara buluh
bagaimana ia mengisahkan sebuah cerita
Yang mengeluhkan keterpisahan.
Sejak aku terpisah dari rumpun bambu,
Ratapanku telah membuat semua orang sendu.
Ku ingin dadaku terbelah oleh derita
agar aku bisa menyingkap (kepada orang itu),
kekuatan hasrat cinta.
setiap yang terpisah jauh dari sumbernya
pasti mendambakan saat-saat ketika bersatu
Apa yang tampak salah bagimu, benar baginya
yang racun bagi seseorang, madu untukmu
kemurnian dan kecemaran,
kemalasan dan ketekunan,
Tak ada artinya
Aku jauh dari semua itu
Tidaklah perlu diurutkan dari yang terbaik
atau dari yang terburuk dari yang lain
melakukan apa yang ingin mereka lalukan,
semuanya adalah benar, dan semuanya benar
Aku tak mendengar kata ucapan mereka
Aku menatap ke dalam sikap yang rendah hati
Yang membuka kerendahan itu adalah Realitas,
bukan bahasa, lupakan pengucapan!
Aku ingin yang membakar, yang membakar
dengan apimu, bakarlah pikiranmu!
dan semua bentuk ekspresimu!
Terima kasih untuk semuanya, dan semoga kelapa sawitku makin merajalela hahahahaha. Andai si cicak nggak berulah, tentulah nasib Paduka Angling Dharma gak akan begitu, tapi ternyata adalah bahwa setiap pembicaraan tentang Tuhan pastilah sama absurdnya dengan yang diucapkan oleh si cicak tersebut. Tetapi, jika seseorang menerawang menmbus tabir untuk melihat keadaan apa adanya, maka kita akan menyadari bahwa keadaan itu berbeda dengan semua prasangka.
Komentar