Langsung ke konten utama

Prasangka

Dengarkan suara buluh

bagaimana ia mengisahkan sebuah cerita

Yang mengeluhkan keterpisahan.


Sejak aku terpisah dari rumpun bambu,

Ratapanku telah membuat semua orang sendu.


Ku ingin dadaku terbelah oleh derita

agar aku bisa menyingkap (kepada orang itu),

kekuatan hasrat cinta.


setiap yang terpisah jauh dari sumbernya

pasti mendambakan saat-saat ketika bersatu


Apa yang tampak salah bagimu, benar baginya

yang racun bagi seseorang, madu untukmu

kemurnian dan kecemaran,

kemalasan dan ketekunan,

Tak ada artinya

Aku jauh dari semua itu


Tidaklah perlu diurutkan dari yang terbaik

atau dari yang terburuk dari yang lain

melakukan apa yang ingin mereka lalukan,

semuanya adalah benar, dan semuanya benar


Aku tak mendengar kata ucapan mereka

Aku menatap ke dalam sikap yang rendah hati

Yang membuka kerendahan itu adalah Realitas,

bukan bahasa, lupakan pengucapan!


Aku ingin yang membakar, yang membakar

dengan apimu, bakarlah pikiranmu!

dan semua bentuk ekspresimu!



     Terima kasih untuk semuanya, dan semoga kelapa sawitku makin merajalela hahahahaha. Andai si cicak nggak berulah, tentulah nasib Paduka Angling Dharma gak akan begitu, tapi ternyata adalah bahwa setiap pembicaraan tentang Tuhan pastilah sama absurdnya dengan yang diucapkan oleh si cicak tersebut. Tetapi, jika seseorang menerawang menmbus tabir untuk melihat keadaan apa adanya, maka kita akan menyadari bahwa keadaan itu berbeda dengan semua prasangka. 

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar