Langsung ke konten utama

Entah Judul yang Pas Gimana,

      Gagasan tentang Tuhan yang bersifat personal, telah berkembang di dalam Yudaisme, Kristen, dan juga dalam Islam dengan kadar yang lebih sedikit. Maslahnya adalah terletak pada penafsiran otak manusia dan kadang juga manusia itu makhluk yang inginnya hidup ini harusnya sesuai dengan yang menurutnya mendukung dirinya. Makanya jadi rumit kalau manusia berlomba-lomba untuk memahami agama dengan bebas, harusnya kalau Islam ya masuk pondok pesantren supaya pemahaman Islam jadi padu. Tetapi yang paling susah itu menghadapi para manusia yang punya kelebihan otak lebih encer, lalu orangnya tipe serius lagi, pasti ujungnya si orang ini melawan gurunya demi kepuasan akalnya sendiri, tapi ya nggak semua begini kasusnya. Kalau dahulu sangat sering terjadi perbedaan pendapat antara guru dengan murid, mayoritas sang guru lebih memilih mengalah. Karena kalau nggak ngalah, ujungnya si murid membuat agama yang bersifat pribadi dan ujungnya membuat mereka yang lemah secara pencernaan akal akan terjerumus dengan pemahaman rumit sang murid. Biasanya, manusia itu dalam hal agama, senantiasa mencari dan mencari bentuk terbaik dari sebuah agama, mereka mencoba mencocokkan agama sesuai dengan waktu dan pribadinya, ya ampun kadang diriku sampai gak kuat kalau bahas beginian.


    Bayangin, Tuhan yang personal telah membantu kaum monoteis memuliakan hak individu yang menurutnya sakral dan tidak bisa diabaikan serta menumbuhkan apresiasi terhadap diri manusia. Ujungnya udah pasti, lahirnya humanisme liberal yang merusak agama dengan sangat masuk akal. Sekarang aja udah banyak yang coba menafsirkan agama sesuai akalnya masing-masing, makanya kesatuan persepsi agama makin runyam, gak ada lagi hubungan yang harmonis antara guru dan murid. Tapi setidaknya di Indonesia masih gak parah kasusnya, lagian diriku juga sangat yakin bahwa bangsaku ini sangat dijaga oleh Allah swt, makanya biarain sajalah bangsa lain kelabakan dan makin gak jelas dalam masalah agama. Sejak dahulu, terutama orang Yahudi dan Barat itu emang gak mau disuruh takluk pada aturan Tuhan, mereka pasti mengubah semuanya sesuai dengan yang menguntungkan bagi mereka. Kasihan bener nasib mereka, dan diriku bersyukur dilahirkan di sini, setidaknya dapat hidup nyaman tanpa tekanan nafsu manusia, berat kalau udah di rayu sama manusia. Tapi kadang ya enak juga kalau pakai akal dalam melihat dunia, namun ujungnya diriku was-was. Bahaya. Pilihan uniknya ada dua, pertama adalah percaya dengan diri kita bahwa apa yang kita inginnya akan tercapai dengan usaha, atau pilihan kedua adalah dengan menjadi seorang manusia yang kuat dalam dianugerahi nasib bagaimanapun. Bayangin yang namanya nasib itu gak pernah enak terus dan juga gak buruk terus, menjadi sesorang yang pandai menempatkan diri dalam setiap ujian nasib dari Tuhan adalah yang paling menantang. Bisa lolos dari ujian semester aja bangganya kebablasan sampai coret-coret seragam, apalagi ini sanggup lolos dari ujian Tuhan, setan sampai tepuk tangan pastinya. Sebenarnya saat ini diriku terlalu khawatir sama bangsa Korea Selatan, ya ampun mereka tampaknya sangat ideal sebagai manusia yang sesungguhnya manusia sebagai makhluk yang membangkang.



     Pernah ingat tentang kasus bangsa Israel terdahulu, yang mana mereka membuat ilah Yahweh yang sangat mereka personalisasikan? Tetapi mereka juga melakukan hal yang sangat unik, yaitu menjadikan Yahweh sebagai simbol transendensi. Intinya mereka mencoba membuat tuhan sendiri yang tampaknya sesuai dengan mereka, lalu ya dimanipulasi dan dibuat sedinamis yang mereka bisa. Sampai sekarangpun kalau aku amati, bangsa Israel sangat suka mengutak-atik apapun yang dapat mereka utak-atik. Contoh paling membuat diriku benci adalah saat mereka menyusun tatanan dunia yang menurut mereka ideal, bangsa yang sok tau dan gak mau diatur adalah ya mereka. Tapi diriku juga sangat optimis bahwa mereka gak bakalan mampu memanipulasi orang sini, wong jowo iku sangat percoyo mutlak sama yang namanya nasib. Menurut pendapatku, bangsa Israel itu percaya bahwa nilai-nilai ketuhanan itu juga mampu dicapai oleh manusia, makanya mereka pasti punya akal yang membangkang.


    Aduh gak sampai diriku menjangkau apa yang saat ini terjadi, yang jelas adalah jikalau akal tetap digunakan sebagai landasan utama memahami agama, maka akan ada banyak perbedaan yang mana ujungnya adalah membuat pening manusia yang awam. Hingga personalisasi Tuhan juga menjadi jalan yang ditempuh oleh sebagian orang, agama tak akan mampu mengakar tanpa adanya satu orang yang menjadi panutan sah. Makanya dalam Islam, zaman damai adalah saat masa Rasulullah dan ujung akhir dunia. Selebihnya adalah kehidupan penuh fitnah yang anehnya manusianya juga lemah dan payah, ya ampun diriku juga termasuk. Tetapi diriku juga yakin bahwa jika diriku sukses menghadang zaman kegelapan penuh gemerlap dunia ini, maka aku gak sabar menghantui mereka yang menurutku layak dibalas. Tapi gak bener juga tujuanku kalau begini, tetapi dalam bacaan yang semalam kubaca, ada banyak keseruan setelah kita wafat, semoga diriku bisa menikmati keseruan tersebut, yang mana menurutku adalah ajang membuktikan segala kebenaran dan memuaskan akal secara merdeka dan puas yang sungguh-sungguh puas.


Oke, malam yang begitu rumit dan mencekam, tiap sebelum tidur ada bacaan tentang Ruh yang ternyata memang sangat membuat bulu kuduk merinding. Bayangin, diriku sering ketemu sama leluhurku yang udah wafat, ternyata mereka kemungkinan benar-benar leuhurku yang mencoba mengajakku temu kangen, atau mereka adalah setan yang coba mengajak diriku membual. Bahan bakar Neraka adalah manusia, dan setan adalah penghuni Neraka yang sesungguhnya, ada kemungkinan bahwa kita kalau masuk Neraka nanti, kita yang membakar dan menghajar setan, tapi kalian aja yang mengurus setan, diriku tak nonton dari Surga. Diriku ini gak suka balas dendam, aku lebih suka memaafkan para setan yang membuatku selalu hancur lebur di sini, lagian nasib adalah anugerah yang paling unik. Semoga diriku mendapat anugerah yang begitu menyenangkan, Ruh adalah kesenangan dan penyesalan, cuma itu.

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar