Langsung ke konten utama

Manusia Teknologi

     Di awal tahun 2020 ini, seluruh belahan bumi dan langit berhimpun di suatu titik hamparan Nusantara guna menyelaraskan frekuensi agar tidak saling bertabrakan melainkan bersinergi secara terus-menerus dan periodik hingga memiliki kecepatan tinggi melesat sebagai upaya bergabung dengan Energi Sejati. Bukan apa apa, hanya sekedar ingin memberitahu bahwa jika Nusantara ini kacau, bagaimana nasib dunia. Maka berusahalah untuk selalu mewujudkan kesatuan yang utuh, walaupun aku sendiri sangat pesimis dengan hal tersebut. Kita saat ini gak punya sesosok kharismatik yang punya daya pikat super kuat. Makanya seiring waktu, pertengkaran dan ketidakpedulian semakin lumrah. Banyak yang mencoba meyakinkan dan coba menjelaskan, tetapi untuk Nusantara yang unik ini, dibutuhkan lebih dari seorang Sukarno.


     Sedang di sisi lain, teknologi bukanlah tentang alat-alat canggih dan berharga mahal yang konon mampu mengerjakan segala sesuatu secara efisien dan efektif. Kita sering lupa, secanggih-canggihnya alat, tetap saja penentu alat itu berguna atau tidak, bergantung pada manusianya. Dan juga, semakin canggih suatu alat maka semakin mahal pula harganya. Bukan disengaja dijual mahal, tetapi demi tercapainya nilai guna. Alat-alat itu mungkin murah operasionalnya, tetapi tetap saja mahal saat pengadaannya. Pengorbanan adalah memenuhi apa yang nantinya dihasilkan. Sehingga sesungguhnya apabila itu yang masih saja terjadi maka itu tidak memenuhi syarat disebut teknologi, karena alasan mendasar teknologi diadakan adalah memudahkan sebuah pekerjaan dengan sumber daya seminimal mungkin.
     Pada akhirnya teknologi itu adalah sebuah cara atau metode yang digunakan seseorang guna menyelesaikan suatu pekerjaan yang super kompleks dengan langkah-langkah sederhana, sehingga teknologi tidak terletak pada tumpukan alat-alat canggih melainkan akumulasi ide-ide, rencana sistematis, pemikiran-pemikiran logis, kearifan-kearifan yang bersemayam di dalam kepala tiap-tiap manusia. Adakah saat ini Nusantara berkepala? Sejak dahulu kala, kepala kita selalu menelurkan hal hal yang manja, oleh karena anugerah Tuhan pada alam kita. Dulu waktu Belanda bercokol di sini, semua kebutuhan pangan manusia di dunia di kendalikan penuh oleh Belanda. Apa memang kita ini gak bisa galak sedikit sih? Apa galak itu perilaku yang tidak terpuji?
     Manakala seorang manusia mampu menerjemahkan komponen-komponen yang berhimpun di dalam kepala, menjadi sebuah (atau dua buah, tiga buah, empat buah atau lebih) tindakan nyata yang memberi manfaat bagi makhluk lain diluar dirinya, baik makhluk manusia ataupun makhluk lainnya, baik langsung maupun tidak langsung, maka individu itu sesungguhnya sedang berteknologi. Sebuah teknologi lahiriah yang sederhana, banyak yang belum tau dengan sumber energi apa teknologi alamiah ini beroperasi? Bahkan aku sendiri juga gak tau, semakin aku cari tau, makin aku keropos termakan cacian. Ya ampun, apa iya Nusantara diserahkan pada bangsa yang gak pantas? Sebenarnya, kepala kita itu udah diprogram ulang oleh kebijakan dunia yang katanya mendamaikan. Makanya, aku sangat butuh sesosok professor kharismatik saat ini.
     Sebatang pohon yang semenjak kecil menyerap air dan unsur-unsur hara di dalam tanah secara efisien hingga pada suatu ketika pohon itu memancarkan secara efektif apa-apa yang telah diserapnya berupa tumbuhnya kembang atau bunga dan menghasilkan buah pada akhirnya, maka sebatang pohon itupun sesungguhnya tengah berteknologi. Andai kita punya program berdikari di dalam kepala kita saat ini.
     Demikianlah seharusnya manusia berteknologi. Manusia teknologi bukanlah orang-orang yang kemana-mana membawa seabreg alat-alat canggih (katanya), melainkan orang-orang yang senantiasa menyerap gelombang-gelombang elektromagnetik yang bertebaran di luar dirinya (melalui proses melihat, mendengar, merasakan), kemudian mengolah gelombang-gelombang elektromagnetik tersebut (melalui proses melamun, merenung, berpikir, berencana, bertindak). Hingga akhirnya menterjemahkan seluruh pergolakan gelombang-gelombang elektromagnetik tersebut keluar dari persemayamannya di kepala melalui mulut (lisan), tangan dan kakinya (merancang, mengoperasikan, menulis) dengan tujuan utama mencegah kejahatan dan memberi manfaat sebesar-besarnya kepada penghuni bumi dan langit, siapapun kita.
     Dan puncak dari segala puncak adalah mengupayakan tergapainya cinta Sang Sejati bersama-sama, ya, bersama-sama. Karena untuk itulah Nusantara tetap terjaga walau sejak dahulu kala dibidik banyak bangsa. Sampai sekarang masih kayaknya.
     Lupakanlah paparan penuh khayalan ini, karena tulisan ini tidak sedang menyampaikan definisi atau batasan judul.

Ada pidato dari leluhur kita, aku merindukan sosok penuh kepedulian seperti beliau Bung Tomo.
‘Bismillahhirrohmanirrohim... Merdeka!!!

Saudara-saudara rakyat jelata, di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya. Kita semuanya telah mengetahui, bahwa hari ini, tentara Inggris telah menyebarken, pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita diwajibken untuk dalam waktu yang mereka tentuken, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang. Mereka telah minta, supaya kita dateng kepada mereka itu, dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta, supaya kita semua dateng pada mereka itu, dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.

Saudara-saudara, di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukken, bahwa rakyat Indonesia di Surabaya. Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi, pemuda-pemuda yang berasal dari pulau Bali, pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini. Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing, dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung, telah menunjukken satu pertahanan yang tidak bisa dijebol, telah menunjukken satu kekuatan, sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara, dengan mendatengken Presiden, dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk memberhentiken pertempuran. Tetapi pada masa itu, mereka telah memperkuat diri. Dan setelah kuat, sekarang inilah keadaannya.

Saudara-saudara, kita semuanya, kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu, dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya, ingin mendengarken jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarken jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.

Dengarkenlah ini, tentara Inggris!!! Ini jawaban kita!!! ini jawaban rakyat Surabaya!!! Ini jawaban pemuda Indonesia!!! kepada kau sekalian!!! Hei tentara Inggris!!! Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu, kau menyuruh kita mengangkat tangan dateng kepadamu, kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahken kepadamu.

Tuntutan itu, walaupun kita tahu, bahwa kau sekalian akan mengancam kita, untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada, tetapi inilah jawaban kita. Selama banteng-banteng Indonesia, masih mempunyai darah merah!!! Yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih!!! Maka selama itu, tidak aken kita mau menyerah kepada siapapun juga!!!. Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah!!! keadaan genting.

Tetapi saya peringatken sekali lagi, jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu. Kita tunjukken bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin Merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak Merdeka!!! Semboyan kita tetap, Merdeka atau Mati!.

Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Merdeka!!!.

Sejak dahulu, manusia selalu perang dengan sesamanya. Padahal musuh bebuyutan yang sebenarnya adalah diri masing masing. Bikin pening. Kalau si "pening" ditambah "katan" maka menjadi sepasang "peningkatan", setelah itu lahir bayi molek bernama "kestabilan".  Itu nanti dalam masa 40 tahun pimpinan sebelum akhir dari segala kehidupan yang berat sebelah ini. Itupun gak semua boleh dan layak menikmati.

Sabar adalah kunci menjadi makhluk yang berteknologi.
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar