"Aku telah berperang sebanyak 100 kali, atau bahkan lebih untuk mencari kesyahidan. Tidak ada di anggota tubuhku ini melainkan terdapat bekas luka tusuk, sayatan, atau bekas luka terkena anak panah. Akan tetapi, inilah aku sekarang, aku akan mati di tempat tidur seperti unta tua yang mati. Maka janganlah tidur hai mata para pengecut."
Di masa akhir hayat adalah masa paling mesra bersama apa yang kita impikan. Menghayati segala yang tak dilimpahkan pada kita, adalah hal paling menenangkan. Mencoba menerima apa yang dinasibkan pada diri, pantaskah diriku mengharap tentang nasib akhirku? Jikalau Tuhan punya rencana yang sudah matang?. Diriku pernah mendengar penjelasan yang menenteramkan hatiku,, tentang sikapku nanti dalam menghadapi akhir hayat. Perbanyak saja sujud dan mohon ampunan, gak usah peduli bagaimana nasib akhir, walau sebenernya diriku saat ini masih punya impian tentang nasib akhirku. Nasib itu sangat unik, jikalau akhir hayat adalah tentang nasib, maka tak perlulah diriku khawatir sangat.
Ada lagi yang memiliki kisah mempesona tentang akhir dari seorang manusia, seseorang yang begitu peduli dengan hasrat mulianya. Tetapi, beliau ini sedikit lega, oleh karena segala yang diimpikannya telah dilimpahkan kepada beliau, hingga di akhir hayat beliau malah mempertaruhkan segala apa yang dianugerahkan demi mendapat kebebasan dari siksa yang tak ada habisnya.
"Ya Allah, aku bukanlah orang yang kuat, maka tolonglah aku. Aku juga bukan orang yang bebas dari dosa, maka ampunilah aku. Bukannya aku ini orang yang sombong,, tetapi aku hanyalah orang yang meminta ampun kepada-Mu. Tiada ilah selain Engkau."
Kalimat akhir hayat adalah sebuah kalimat yang begitu istimewa, sebuah untaian kata penuh makna yang tersusun dari segala apa yang sudah didapatkan sejak masa kelahiran. Ada yang bilang bahwa saat akhir hayat nanti, kita senantiasa akan mengingat segala yang sudah kita jalani, hal itu merupakan anugerah Ilahi supaya kita bisa meminta ampun di saat mengingat kesalahan yang dulu pernah kita lakukan. Dan juga untuk mengobati rasa khawatir tentang akhir masa, kita akan diperlihatkan tentang semua kemuliaan yang dahulu pernah kita niat dan jalankan. Bahkan gak sedikit dari kalangan manusia yang malah tertawa bahagia kala akhir hayat menjemputnya. Ada lagi yang sangat melegenda, sebuah akhir yang membuat beliau sangat bahagia, yang mana putranya tengah begitu sedih melihat beliau terbaring tak berdaya di ranjangnya. Tampaknya, beliau ini begitu peduli dengan akhir hayatnya, bahkan sampai mempersiapkan yang nantinya akan dibawa bersama jasadnya. Beliau menyimpannya seperti layaknya kita menyimpan harta paling berharga.
"Aku bertempur melawan orang-orang musyrik saat perang Badr dengan memakai selendang ini. Aku telah lama menyimpannya untuk kematianku hari ini."
Jikalau yang kita bawa adalah kain secukup tubuh kita, maka diriku ingin segera menyiapkannya. Walau begitu, pakaian taqwa adalah yang paling utama. Hal utama yang ingin aku wujudkan adalah menerima dan mematuhi segala apa yang terlimpahkan padaku. Aku begitu ingin membunuh diriku, menguburnya di gurun paling menyengsarakan jiwa, segala apa yang diriku inginkan adalah apa yang yang selalu membuatku sengsara. Diriku ingin dituntun seperti mereka yang buta.
Bahkan ada cerita spektakuler dari mereka para penyair tentang akhir hayatnya. Sebuah pertarungan batin demi mendapat kematian yang pantas untuk jasad yang selalu berpikir ketakutan. Ada yang lihai dengan segera menyatakan bahwa menyatunya jiwa dengan jasad adalah kematian yang sesungguhnya, Neraka yang sejatinya. Maka dengan hal tersebut, jalan paling mulia adalah membebaskan jiwa dengan terus menjaga sebab-sebab sebuah kematian.
Wahai jiwaku, jika tidak terbunuh di sini
engkau akan mati juga
Inilah kematian yang telah engkau masuki
Apa yang engkau harapkan telah terpenuhi
jika engkau mengikuti jejak kedua panglima itu
enkau mendapat petunjuk
Sebagai manusia yang lemah akalnya, bolehkah diriku yang malang ini mengharap sebuah kemuliaan di kala akhir hayat datang?

Komentar