Langsung ke konten utama

Cobalah Mengerti

Aku
tak kan pernah berhenti
Akan terus memahami
Masih terus berfikir
Bila harus memaksa
atau berdarah untukmu
Apapun itu asal kau
mencoba menerima ku

     Sebenernya ini bukanlah masalah eksistensi, katanya bahwa setiap manusia akan mengalami situasi yang tergambarkan dalam lirik awal tersebut. Tetapi diriku pernah membaca dengan tidak sengaja sebuah artikel yang mengupas tentang bagaimana peran akal dalam merasionalisasikan apa yang dinamakan dengan menerima seseorang dengan setulusnya. Dalam artikel tersebut sangat gamblang bahwa ternyata manusia memiliki otak yang sangat top, sampai diriku berfikir bahwa sudah sah bahwa mayoritas manusia adalah sangat ngalem, minta dimanja terus maunya. Padahal pada dasarnya adalah bahwa manusia adalah yang paling tangguh dalam hal hubungan sosial. Tetapi apa boleh buat juga, terkadang diriku juga sekelibat terkena demam pikiran yang begitu menguras perasaan, rasanya itu sangat gak enak, seolah pikiran memaksa untuk terus mengajak membahasnya terus terusan, hingga yang paling mengerikan adalah bahwa demam tersebut mampu membuat stamina dan cadangan semangatku turun drastis, kalau aku paksa lawan maka ujungnya adalah diriku emosi dan terluka sendiri, luka fisik loh ya, diriku ini cukup kuat secara mental loh. Ruwet dirimu nih. Jujur saja diriku ini sangat benci dengan segala apa yang menjadi suasana masa muda, gak enaknya minta ampun dah, rumit. Kalau aku pikir ulang, harusnya kita itu memaksa dalam urusan penerimaan, ya gak tau juga sih gimana rasanya diterima ataupun menerima, yang jelas mengapa kita harus memakai perasaan dalam hal penerimaan? Apakah diriku pernah meyakinkan atapun yang sejenis itu demi diterima oleh seseorang? Kadang menurutku diterima lingkungan aja susah bener apalagi diterima seseorang yang mana dalam diri seseorang itu terdapat berbagai jenis lingkungan. Diriku mulai mengerti bahwa ternyata pria memang sangat mendahulukan kepalanya, padahal kalau mau memahami tentang hal tersebut maka dada harus coba dipahami detakannya. Diriku pernah suatu kali mengelus mesra diriku punya dada, ternyata sangat nyaman dan aku tebak di dada inilah letak suatu inti manusia. Sedang ketika kepala yang aku elus dengan tenang, maka secara aneh diriku seperti mengeluarkan aura angkuh yang begitu ngeri. Ya sebenernya ada banyak hal yang menjadi pembelajaran dari bagaimana kita menyikapi setiap apa yang terjadi, yang pasti akan sangat rumit kalau pakai perasaan,, tetapi akan tersakiti salah satu pihak jika kepala yang jadi pemutus setiap permasalahan.



Dan kamu
hanya perlu terima
Dan tak harus memahami
Dan tak harus berfikir
Hanya perlu mengerti
Aku bernafas untukmu
Jadi tetaplah di sini
Dan mulai menerimaku

     Nah inilah keputusan yang paling bijak, tetapi perlu diketahui terkadang ketika kita menyuruh seseorang untuk "tidak" maka orang yang bersangkutan malah akan melakukannya. Begitulah konsep manusia yang begitu haus akan rasa penasaran, dan begitu dahaga akan mengerti dan mencoba menuntaskan segala yang menggelitik dirinya. Dan gak sedikit, bahkan mayoritas manusia akan sangat tak patuh, ya kan ketika kita diminta oleh seseorang misalnya, maka secara naluri kita akan melawan karena jika patuh maka seolah kita direndahkan. Tetapi diriku yakin hal ini gak akan menimpa kaum wanita, aku sangat yakin bahwa sepatuh-patuhnya manusia adalah para wanita, mereka disuruh setan aja berangkat loh, apalagi kekasih hati yang mendikdatori. Haduh ruwet bener nih makhluk. Diriku kadang ingin menguji sesiapa antara pria ataukah wanita yang paling mau menerima, ataukah kita itu sebenernya menerima oleh karena sebuah alasan yang sebenernya adalah keterpaksaan? Sebuah pemahaman yang begitu rumit, kalau umpama diriku bertanya pada kaum rasionalis maka jawabnya akan sangat memuaskan bagi kepalaku, tetapi kadang hal tersebut seperti membunuh diriku yang sebenernya adalah sesosok manusia. Tidurlah dan selamat malam, udah itu aja yang bisa aku katakan. Kenapa lagu tahun 70' 80' an begitu enak di gendang hati sih, begitu menyayat walau entah nyata atau nggak sih, oh sakitnya hatiku, diriku yang kurang ajar ini sangat ingin hatiku terluka, tetapi hatiku sekeras baja ini pernah terluka oleh goresan rindu loh, edan ra kuat aku. Tapi ujungnya ya balik lagi ke kepala, udah sayang, itu hanya hiburan belaka, bukannya pelajaran? Bukan? Ratih katanya berarti Dewi Kesuburan. Haduh ruwet bener gini ujungnya


Cobalah mengerti
Semua ini mencari arti
Selamanya takkan berhenti
Inginkan rasakan
Rindu ini menjadi satu
Biar waktu yang memisahkan

     Yang terakhir ini adalah yang begitu lumayan memuaskan, bukan lagi terkadang loh ya, tetapi sangat sering bahwa keputusan final kalau masih muda adalah dengan ketidakmauan dalam mengalah. Biasanya yang paling pandai mengalah itu ya pria, tetapi anehnya adalah bahwa pria tuh mengalah dengan harapan dapat berkah, yaitu hati si wanita luluh oleh sikapnya yang begitu lembut, katanya. Kalau ada yang bilang bahwa kaum pria adalah yang paling biadab maka diriku ikut setuju. Kadang ya aneh juga sih, kok ada saja wanita yang bisa kena coba, si laki yang begitu top atau si wanita yang kurang batu sandungan? Wanita itu harus banyak menangis supaya gak menangis lagi ketika berhadapan dengan pria yang seperti bawang nih. Yang membuatku penasaran adalah satu hal, apa iya bahwa waktu mampu memberi kepuasan pada setiap hubungan? Apakah si waktu ini sangat pandai memberi obat penumbuh ataupun pembasmi sebuah senyuman? Diriku yang ngenes ini belum pernah sekalipun tersenyum oleh seseorang. Kadang ya penasaran juga, cuma kadang loh ya, bahwa apa yang akan terjadi padaku nantinya ketika diriku dibuat tersenyum coba, apa diriku akan pingsan dan butuh ciuman untuk siuman? Atau diriku akan menengok ke belakang tersebab ada orang lain yang jadi penerima itu senyuman? Ada banyak lagu ataupun puisi yang bercerita tentang perpisahan ataupun tentang meyakinkan seseorang betapa dia begitu ingin dia. Sampai diriku kadang berpikir jantan: "Apakah mereka gak punya kerjaan ataupun aktivitas lain yang menyita pikiran?"

Sebagai penutup adalah sangat unik, diriku dapat dari mereka yang sangat menjunjung akal, ya jangan pula diriku dikaitkan ataupun seolah diriku setuju dengan mereka loh ya, ya kan mereka cuma mengatakan dengan lantang bahwa nafsu adalah perasaan, sedang akal adalah kebijaksanaan. Jadi, kalau ingin memutuskan sesuatu ikutilah akalmu, jangan pakai perasaan, ribet nanti.

Baik, terima kasih.

Ya ampun kasihan bener para muda mudi kita ini ya, sibuk masalah sesuatu yang sangat menyita waktu mereka, tetapi bagi mereka adalah bahwa diriku inilah yang telah menyia-nyiakan waktu muda yang begitu...? begitu apa coba kata mereka, ya mereka itu siapa sih sebenernya, ya kan diriku gak sebut nama, jadinya gak berburuk sangka ini mah, malah mereka yang kayaknya buruk sangka, atau diriku dan mereka yang ternyata salah sangka? Prasangka dan tersangka adalah dua dari satu yang dulunya terjerat suatu masalah yang pelik. Tapi cenderung bahagia, bagi yang ikut nikmati sangkaannya sih.

Malam, dan cobalah berjanji padaku. Diriku ini sangat terpengaruh oleh sebuah keterpaksaan, makanya diriku sangat suka berjanji atapun menjanjikan sesuatu, ya cuma untuk motivasi saja kok.
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar