Langsung ke konten utama

Dasar Manusia!

      Diriku nulis judulnya bagus kan? Ya diriku kali ini sangat tertarik dengan apapun yang berhubungan dengan manusia. Pada mulanya, manusia yang kebingungan karena kurangnya pengetahuan tentang Tuhan, atau lebih tepatnya kaum setan membutakan akal batin para manusia. Manusia pada awalnya banyak yang menciptakan satu Tuhan yang menurut mereka adalah penyebab pertama bagi segala sesuatu dan juga penguasa langit dan bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apa pun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadanya. Dia terlalu luhur untuk ibadah manusia yang tidak memadai. Tetapi, yang namanya manusia, maka keyakinan Tuhan semacam itu lama-kelamaan memudar dari kesadaran akal mereka. Dia telah menjadi begitu jauh sehingga mereka memutuskan untuk tak lagi menginginkan Tuhan yang semacam itu. Tampaknya setan juga gak pernah puas dengan kesesatan manusia saat itu, masih saja diajak untuk menjadi lebih jauh tersesat. Yaitu dengan meyakinkan para manusia bahwa Tuhan telah menghilang. Dan uniknya adalah, banyak manusia saat itu yang percaya. Begitulah manusia dahulu, setidaknya mereka gak sampai menyembah setan. Sebenernya, diriku sedikit heran dengan cara setan mengelabui manusia masalah Tuhan, mengapa setan gak pernah membujuk manusia untuk menyembah mereka?

     Pada dasarnya, manusia pada dahulu kala mengungkapkan kerinduan pada Tuhan melalui doa, mereka percaya bahwa Tuhan mengawasi mereka dan akan menghukum mereka jika berbuat dosa. Namun demikian, manusia saat itu mulai penasaran dengan tidak hadirnya Tuhan dalam keseharian hidup mereka. Nah dalam hal inilah setan tertawa bahagia. Harus diakui bahwa manusia semakin cerdas malah semakin melenceng pikirannya tentang Tuhan. Akhirnya manusia saat itu mencoba untuk membuat acara khusus untuk memuja Tuhan, dan bahkan mereka mulai menciptakan gambaran untuk Tuhan. Kultus yang begitu mengerikan akhirnya menguasai manusia pada saat itu. Telah banyak teori tentang apapun yang mengupas agama dan Tuhan. Namun, manusia sejak lama telah menciptakan tuhan-tuhan yang menurut mereka paling ideal. Ketika satu ide keagamaan tak lagi efektif, maka segera mereka ganti. Bahkan kian kemari makin brutal saja, banyak yang saat ini dengan terang-terangan mengklaim bahwa Tuhan telah mati. Ruwet bener urusannya, kalau ikut manusia yang mistik, maka jawaban mereka tentang Tuhan juga kadang gak bisa diriku pahami.

     Di Eropa Barat sana, tampak jelas bahwa Tuhan telah disirnakan dari kehidupan mereka. Mereka kini jikalau membicarakan Tuhan, maka mereka mengutarakan tentang "lubang yang pernah diisi oleh Tuhan" dalam kesadaran mereka karena, meski tampak tak begitu relevan bagi sebagian orang, bagaimanapun Tuhan telah memainkan peran yang sangat krusial dalam sejarah manusia sejak dahulu kala. Yang paling menjadi masa keemasan dalam sejarah ketuhanan adalah masa sekitar 14.000 tahun silam. Masa itu adalah masa-masa penuh kemistikan dan hal yang gaib adalah yang paling viral. Beda dengan saat ini yang suasana hidup manusia terasa gak mistik sama sekali, dahulu ada banyak jenis keajaiban ataupun azab balasan untuk manusia dengan sangat mengenaskan dan membuat seluruh manusia benar-benar diliputi kegaiban. Saat ini, kultur ilmiah kita telah mendidik kita untuk selalu memusatkan perhatian hanya pada dunia fisik dan material yang hadir di pandangan kita. Walau kultur seperti ini telah membuat banyak kemajuan tentang peradaban, tetapi manusia semakin kehilangan kepekaan tentang yang "suci" dan "spiritual", padahal dahulu kala pengalaman esensial manusia tentang dunia adalah dari hal-hal yang spiritual.

     Itulah sedikit cerita tentang bagaimana manusia dahulu sampai sekarang dalam memaknai Tuhan. Yang jelas bahwa orang yang memakai akal dalam mencari Tuhan maka pastilah disesatkan setan. Adalah hal yang gaib, yang menjadi dasar dalam agama, tetapi ya itu tadi, manusia adalah makhluk yang terlalu lemah terhadap hal yang gaib. Dahulu kalau ketemu tempat atau sesuatu apa gitu, yang mereka rasa gaib, maka mereka akan menyembahnya. Tetapi perlahan-lahan mereka gak mau menyembahnya lagi, malah mereka mengkeramatkannya, dan menjadi takut akhirnya. Dan parahnya adalah, saat ini agama udah dianggap sebagai mata pelajaran, ritual-ritualnya udah dinilai sebagai acara sosial kemanusiaan, entah apa yang akan terjadi ke depan. Harus digali kembali suasana mistisnya kalau begini ceritanya.

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar