Langsung ke konten utama

Hubungan dalam Kekeluargaan

      Nah, diriku paling males sebenarnya kalau bahas hubungan dalam keluarga, seperti sia-sia, oleh karena diriku adalah manusia yang memiliki watak gak berhubungan maka menjalin sebuah hubungan adalah sebuah keterpaksaan, aku gak ngomong bahwa hubungan adalah hal yang harusnya sehat loh ya, kalau nyatanya ada hubungan yang sehat dan bahagia maka hubungan yang sebaliknya juga adalah bisa disebut sebuah hubungan. Bayangno, aku nulis satu paragraf tentang hubungan aja udah gak positif begini, oleh karena bagiku bahwa sebuah hubungan adalah hal yang ruwet dan mboseni, seperti belajar fikih tentang bab tayamum, bayangno urip neng negara tropis disuruh belajar total masalah tayamum, kan ribet. Tetapi dibalik semua alasan tersebut, diriku sebagai manusia yang pantang menyerah adalah sangat seru dalam mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan hubungan, walau ujungnya tetep aja lah aku balik pada pribadiku yang nyaman dengan sebuah kesendirian, semoga nanti diriku gak jadi duda dengan cepat, harus diakui bahwa hidup bebas sendirian dan hidup menduda sendirian adalah dua hal yang sangatlah berlawanan, sangat berlawanan loh ya, ingat, sangat berlawanan. Ya mau gimana lagi, ada sebuah mitos yang cukup menakutkan bagi diriku yang bergenre pria ini, katanya bahwa kalau sang istri wafat terlebih dahulu maka gak lama tuh pria bertahan hidup, satu-satunya cara biar hidup lebih lama lagi adalah dengan nikah lagi setelah sang istri tadi wafat, kan kesannya bahwa pria itu gak ada yang setia. Ya ampun nasib diriku jadi pria, udah gak pandai berhubungan, malah sekalinya punya hubungan mesra malah dipanggil Yang Maha Kuasa. Mengapa manusia diberi perasaan sih? Apakah supaya menderita? Dan yang uaneh lagi adalah bahwa perasaan manusia itu akan sangat peka dengan hal-hal yang berbau penderitaan, yang membahagiakan susah dicium, padahal sekalinya bisa mencium tuh rasa bahagia, maka hilang seribu penderitaan.



     Nah, kembali diriku utarakan tentang hubungan dalam berkeluarga. Diriku ini selalu penasaran dan suka bertanya pada kerabatku yang udah jadi orang tua, gini-gini diriku juga punya kerabat yang lumayan dekat loh ya, tetapi ya dalam level hubungan yang wajar. Kan heran juga diriku lihat ada sesosok ataupun tepatnya sepasang manusia yang sangat akrab banget hubungannya, seperti satu orang yang bercermin aja, gak ada pikiran curiga atau malu dalam mereka berhubungan, bagiku hal tersebut adalah sebuah keajaiban manusia yang paling susah kucerna. Diriku aja sangat curiga dengan diriku sendiri, jangan-jangan diriku ada hasrat berkhianat padaku, padahal udah aku kasih makan tiap hari ini diri, tapi masih aja kelaparan. Perlu diketahui bahwa faktor utama sebuah kekacauan adalah kelaparan, waspadalah dengan mereka yang kelaparan, jangan sampai nasibmu seperti Louis XVI.


     Diriku juga heran, kan ya ada juga dalam satu keluarga itu bisa sepakat semua, bahkan termasuk menantunya juga sepakat, selalu riang gembira bersama, makan bersama, kemana-mana juga barengan, terus dipajang juga foto mereka bersama di ruang depan istana. Apa iya selama itu mereka gak pernah cekcok? Kan ini manusia loh, tapi kenyataannya bahwa mereka rukun sentosa terus loh, malah diriku sering dikasih ramuan supaya hubunganku dengan sesiapapun terutama keluarga bisa sehat. Tapi bagaimanapun adalah bahwa diriku gak cakap dalam masalah hubungan, setiap mau memulai hubungan itu loh masalahnya, padahal kalau mereka mulai duluan ya diriku juga ikut iramanya, tetapi anenhnya untuk memulai terlebih dahulu dalam menghadapiku adalah sebuah tantangan maha berat. Ya diriku punya beberapa manusia yang bisa diajak bermanusia-manusiaan aja udah bahagia kok. Walau harus diakui bahwa faktor utama keharmonisan hubungan adalah komunikasi yang sehat lancar, tetapi bagi diriku adalah bahwa pendiaman yang gak marah adalah hal yang menyenangkan. Dalam hati jadinya main tebak-tebakan.


     Yang lebih parah adalah bahwa ada saja dari jenis manusia yang sangat akrab bersahabat, diriku benar-benar gak mampu memikirkan bagaimana pola hubungan mereka, apa itu yang namanya jodoh? Tetapi yang paling ruwet adalah bahwa kata mereka yang suka masalah bab dunia persahabatan, adalah bahwa persahabatan akan rusak ketika cinta melanda, bahkan sahabat bisa jadi musuh bebuyutan hanya karena cinta yang gak berkeadilan. Ya ampun ruwet bener mereka tuh, kok ada juga jenis yang begitu coba, heran gak kalian? Diriku ini sangat canggung kalau mau bersahabat dengan siapa gitu contohnya, seolah gimana gitu rasanya, dia nanti merasa terganggu denganku atau nggak, atau kehadiranku membuat suasana rusak atau nggak, atau diriku merugikan atau nggak, terus pokoknya perasaan yang sinis macam begitu. Makanya kalau ada lirik lagu atau film yang mengisahkan tentang sebuah kesendirian adalah hal yang aku minati, heran aja diriku mengapa ada jenis manusi yang begitu gak pandai berhubungan coba, tetapi dalam sebuah kumpulan manusia di manapun dan kapanpun itu akan tetap ada satu atau dua orang yang terkucilkan atau lebih tepatnya lebih memilih untuk mengucilkan diri. Alasannya juga bermacam-macam, yang paling parah adalah karena faktor hinaan dari manusia lainnya, hal tersebut mampu mengubah dirinya menjadi penjahat atau orang yang gak berguna, tetapi yang namanya hidup, pasti yang paling menyenangkan adalah kemungkinannya,, bahwa dia yang terkucilkan atau yang mengucilkan diri juga bisa tumbuh menjadi sesosok pahlawan, ya ini adalah cuma khayalan orang yang suka sendirian. Payah emang, bila cinta mampu membuat orang menjadi buta, maka kesendirian juga mengakibatkan kebutaan akan realitas hidup. Tetapi adalah hal yang aneh bahwa untuk menjadi sesosok manusia yang bijak penuh wibawa, maka jalan yang harus ditempuh adalah dengan bertapa, kan bertapa itu ciri khasnya adalah sunyi dan sendiri, hahahaha..... aduh malah ketawa ujungnya, sampai pengen misuh.



    Wes lah, kuterima kau apa adanya, yang penting jangan lupa untuk selalu berbagi, walau sekedar berbagi hal yang harusnya untuk dirimu sendiri. Jujur nih ya, diriku ini penasaran sangat betul dengan bagaimana hubunganku nanti dengan belahan jiwaku, masalahnya diriku ini udah sangat terbiasa dengan kesendirian dan seharian gak ngobrol dengan seseorang. Ya udah nanti aku ajak terbang melintasi langit biru, cuma itu yang aku bisa sayang.

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar