Langsung ke konten utama

Seperti yang Dulu

Aku bersandar di gerbang kayu,
Ketika salju kelabu seperti hantu
Dan sisa musim dingin membuat sendu
hari yang makin suram.
Tangkai gandum menggapai langit
Bagaikan tali-tali harpa sumbang,
Dan semua manusia di sekitarnya
Ingin berdiang di perapian mereka.

Sosok tanah patah-patah tampak seperti
Jenazah Century terbujur,
Liang lahatnya tudung langit,
Angin adalah ratapan kematiannya.
Relik purba benih dan tunas
Mengerut keras dan kering,
Dan setiap ruh di atas bumi
Tampak layu seperti diriku.

Seketika melengking suara di antara
Ranting-ranting kering di atas kepala
Menyenandungkan sepenuh hati tembang
kegembiraan tak berbatas;
Seekor burung tua, lemah, kurus, dan kecil
Dalam bulunya yang mekar indah,
Telah memilih untuk membuang jiwanya
Ke atas kesuraman yang makin bertambah.

Sedikit alasan untuk bergembira
Mendengar lengkingan suara itu
Tersurat di atas bumi
Yang dekat atau yang jauh,
Sehingga aku bisa berpikir melintasi
Udara malamnya yang bahagia
Beberapa Harapan yang diberkati, yang diketahuinya
Sementara aku tak tahu.
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar