Langsung ke konten utama

Pujian Kepada Allah dan Nabi Muhammad

      Al-Ghazali berkata, "Alhamdulilah", segala puji meliputi pujian yang dipanjatkan para malaikat pembawa 'Arsy, para malaikat pembawa Kursi, dan pujian yang dipanjatkan oleh segenap penghuni langit. Demikian pula segala puji yang dipanjatkan para nabi semenjak Nabi Adam as. hingga Nabi Muhammad saw., dan segala puji yang dipanjatkan para wali dari golongan ulama serta pujian dari segenap makhluk. "... dengan sebenar-benar pujian" atau pujian yang bersifat umum. Adapun untuk pujian yang terperinci maka tidak ada satu pun makhluk yang sanggup melakukannya. 

     Bagiku, pujian memiliki nilai yang begitu nikmat, tetapi pada dasarnya diriku ini belum begitu paham makna sebenarnya dari sebuah pujian. Diriku sendiri akhir-akhir ini banyak sekali mendapat pujian. Bagi makhluk, pujian adalah hal yang paling berbahaya, tetapi kadang kalau diriku kurang mendapat pujian rasanya gak nyaman juga, mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang sangat suka dipuji, sampai kadang gak terima kalau dihina. Ada yang gak terima secara diam-diam, ada juga yang langsung panas di depan, ada juga yang esoknya siap menerkam demi kepuasan belaka. Tolong dikurangi lah pujian antar makhluknya.

     Dalam menghadapi pujian dari sesama manusia, diriku sebenarnya diajari Mama untuk merendah dan atau diam saja. Tetapi dalam prakteknya, diriku malah ngelunjak kalau disanjung orang, malah diriku ikut memuji betapa diriku ini layak mendapat sanjungan dan tepuk tangan, ya ampun. Ya hal ini aku lakukan demi satu hal, yaitu menerima ketentuan Allah kepada tiap manusia, lagian gak semua manusia itu suka memuji sesamanya, ada juga yang sukanya menghina, dan ada juga yang biasa saja gak gampang ngumunan. Diriku ini kadang heran juga, pastilah sesiapa yang suka memuji itu gak suka mengerjakan sesuatu, mereka kalau mendapat tugas pasti gak diselesaikan dengan optimal, malah kadang gak sampai diselesaikan. Intinya, sesiapa yang suka memuji sesamanya pastilah pemalas orangnya. 

     Dan anehnya mereka gak suka memuji Tuhan Pencipta keseluruhan, ya kan harusnya sebelum memuji seseorang harusnya puji dulu Penciptanya, dan juga panutannya. Dan diriku juga kurang hebat sih, harusnya ketika mendapat pujian, selayaknyalah diriku memuji Allah swt. dan Rasul saw. tetapi jangan khawatir karena itu adalah urusan hatiku. Biarlah para manusia pada gak tau, lagian menjadi tidak tau adalah hal yang menyenangkan, karena saat nanti pas menjadi tau, kita jadi manusia yang beruntung.



     Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada makhluk Allah yang paling mulia, Muhammad saw., utusan Allah kepada seluruh makhluk; dia adalah hamba-Nya, sang pemilik derajat tertinggi. Apa yang terjadi ketika kita bertatap muka dengan beliau Rasulullah saw.? Sangat beruntunglah mereka yang pernah dan setidaknya memiliki keinginan. Tetapi aneh juga kadang, bahwa sepertinya untuk mampu bertemu beliau maka syarat dan ketentuannya lumayan unik. Diriku sering ikut acara Maulid Nabi juga, kalau di sini gak ada ulama yang menjelaskan tentang acara Mauludan ini, yang jelas masyarakat sini menunggu makanannya kalau acara beginian, tetapi aku yakin berkah. Dulu waktu SD kan makanannya masih dibungkus daun jati atau pakai daun pisang, tetapi diriku suka yang dibungkus daun jati, pasti nasinya lebih gurih. Pokoknya kenangan tak terlupakanlah, dan gak boleh jatuh loh kalau bawa tuh makanan, bahaya. 

     Untung untuk ukuran pria yang hidup dilingkungan yang kurang pengetahuan agama, diriku ini lumayan luas pandangan cakrawalanya. Ya kan anehnya ketika udah tau banyak hal, malah lingkungan kurang bisa mengimbangi, alhasil stress sendiri. Padahal dengan berbaur dan berpikir seperti pada umumnya masyarakat disini maka diriku akan pastilah bahagia. Lagian kenapa bisa jadi seperti ini coba. Kadang diriku begitu senang melihat tingkah pikiran manusia di sini, seolah mereka itu benar-benar konservatif tulen, atau akalnya yang terlanjur karaten? Entahlah, tetapi adalah anugerah tersendiri berbaur dengan mereka, daripada hidup dengan para manusia yang penuh retorika. Tetaplah selalu mensyukuri apapun yang Allah tentukan pada kita, ada banyak hal yang bisa kita jadikan bukti bahwa apapun itu adalah yang paling cocok untuk kita. Sebenarnya diriku ini kurang percaya dengan teori adaptasi yang katanya adalah kemampuan utama manusia. Entah kalau manusia yang lainnya sih, tetapi manusia ini ya beginilah nyatanya.


     Al-Bahr al-Basith, seorang penyair pernah mengungkapkan puisi mengenai Rasulullah saw. dengan struktur atau gaya Bahr al-Basith:

Nabi Muhammad tidak pernah bermimpi junub

Tidak pula pernah menguap selama hidupnya

binatang-binatang pun tidak lari menjauh darinya

dan seekor lalat tak pernah hinggap di tubuhnya yang indah

yang ada di belakang tampak nyata seperti di hadapannya

tiada pernah terlihat bekas air seni yang dikeluarkannya

meski matanya terpejam namun hatinya selalu terjaga

orang berakal tiada melihat bayangannya di bawah cahaya sang surya

pundaknya tampak lebih tinggi dati pundak kaumnya saat duduk bersama

ketahuilah, saat terlahir Ia sudah dalam keadaan dikhitan

perhatikanlah berbagai keistimewaan ini, engkau akan aman

dari bayaha api, para pencuri, dan fitnah kehidupan

... dan semoga dilimpahkan pula kepada para ahlul bait

dan para sahabat yang datang sesudah beliau. 'Amma ba'du,


Bagi diriku, mengulang suasana saat itu adalah yang paling aku impikan, tetapi rasanya kok jauh sekali untuk mampu kembali seperti dahulu itu, untungnya suasana semacam itu sangatlah membekas diingatan khayalan. Senyum, perangai, dan caranya bertingkah adalah sangat mempesona, walau belum sempat mendengar suaranya, tetapi dengan hal tersebut udah mampu membuatku takjub. Semoga Allah memberi lagi padaku suasana yang lebih intim lagi. Cuma itu.

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar