Selama abad kedelapan belas, kaum deis menolak Kristen Barat tradisional terutama karena telah menjadi begitu kejam dan tidak toleran. Saat itu Kristen sudah menjadi senjata yang begitu tajam mengerikan, dan untungnya orang Barat adalah yang paling vokal dalam penindasan. Jikalau mereka menemukan hal-hal apapun itu yang kiranya gak menguntungkan bagi kemajuan mereka maka akan dengan mudah mereka akan membuat tandingan. Dan saat itulah lahir deisme. Kalau kita coba mengikuti alur peradaban agama di Barat maka akan ada banyak kelucuan yang diriku temukan. Yang ruwet adalah bahwa mereka menggunakan "Tuhan" untuk menopang cinta dan kebencian mereka sendiri, yang mereka nisbahkan sebagai cinta dan kebencian Tuhan. Bahkan diriku pernah lihat film yang mengupas tentang agama dan kehidupan sosial mereka, rasanya mereka orang barat gak begitu percaya dengan siapakah Tuhan yang coba dijelaskan oleh para penganut Kristen tradisional. Berat kalau urusan agama di sana, aku sampai kadang berpikir bahwa sepertinya orang Barat itu manusia bar-bar yang taunya cuma bertahan hidup. Adalah tidak layak seseorang yang menyebut diri beragama untuk menoleransi sebuah sistem sosial yang tidak adil.
Orang Barat sebenarnya teriak-teriak kalau masalah ketidakadilan dan kesetaraan, tetapi kasih sayang mereka terlihat begitu seperti peribadatan yang berpura-pura. Sebenarnya mereka itu suka membaca kitab-kitab suci, tetapi selalu saja mereka memikirkannya sendiri, dan akhirnya gagasan mereka gak tepat jika harus diterapkan di lingkungan masyarakat. Terdapat perbedaan besar antara mereka yang melaksanakan bentuk agama kultus dengan mereka yang menumbuhkan rasa tentang Tuhan Yang Penyayang. Para filosof sejak dahulu selalu percaya bahwa gagasan mereka kelak akan mampu mengubah tatanan dunia, dan ya bisa dilihat sekarang. Dunia memang menjadi sesuatu yang sangat manusiawi dan rasional. Tetapi di balik itu semua, ada sekelompok minoritas yang mengamalkan agama kasih sayang dari Tuhan Yang Maha Penyayang. saat ini mayoritas manusia telah menggunakan agama sebagai obat mujarab, sebagai alternatif bagi kehidupan duniawi mereka, bahkan yang lebih aneh lagi adalah menggunakannya sebagai objek fantasi bagi hawa nafsu mereka. Bahkan kalau diriku perhatikan, saat ini pemaknaan akhirat sudah sangat keduniawian, yang dijelaskan cuma tentang kesenangan-kesenangan yang sifatnya material dan gak ada kesan spiritualnya sama sekali. Apakah hanya karena permintaan akal manusia yang saat ini begitu mendukung keduniawian, sampai kita tega menduniawikan segalanya?
Namun pada awalnya sih, Tuhan dipakai manusia untuk membantu menusia dalam memusatkan perhatian pada dunia ini dan juga untuk menghadapi segala realitas yang begitu tak menyenangkan. Namun perlahan-lahan melahirkan banyak mitos-mitos yang aneh dan menyesatkan. Sampai pada akhirnya agama Islam lahir, dan selalu menyerukan untuk ditegakkannya kehidupan masyarakat yang bermoral dan adil. Agama biasanya selalu mendapat tantangan dari nilai-nilai lama masyarakat yang sudah mengakar kuat. Bagi diriku, sesuatu yang mistis adalah alternatif yang lumayan menarik, bagi mistisme sejak dahulu mereka menegaskan bahwa Tuhan bukanlah Wujud Lain. Kita sebagai manusia sangatlah tidak layak menggambarkan Yang Maha Mutlak. Tetapi bagi manusia modern saat ini, mistisme adalah hal yang begitu mencurigakan. Harus diakui bahwa mistisme untuk saat ini bukanlah sesuatu yang memikat, mengingat mayoritas manusia saat ini telah terbiasa dengan pemuasan sesegera mungkin, komunikasi yang instan, dan makanan batin yang materialistik.
Padahal nih ya, beberapa sikap mistikus mungkin saja dapat kita raih. Walaupun kita tak mampu mencapai derajat kesadaran lebih tinggi yang telah dicapai oleh seorang mistikus, setidaknya kita bisa belajar bahwa Tuhan tidak mengada dalam pengertian yang sederhana. Pengalaman tentang Tuhan akan menjadi berbeda setelah didekati melalui jalan mistisme ini, sebuah jalan yang tak dapat dijangkau oleh daya nalar logis. Tetapi mistisme juga lumayan ruwet ketika ada sekelompok mansuia yang mengatakan bahwa kaum mistik seolah telah menciptakan Tuhan mereka sendiri. Sejak dahulu manusia adalah makhluk yang punya keunikan yang aneh. Dahulu, manusia selalu menciptakan simbol-simbol demi menumbuhkan rasa kagum dan menjadi fokus spiritualitas. Berbeda dengan sekarang, manusia saat ini cenderung berlomba-lomba tentang pengutaraan perihal Tuhan, dan bermunculanlah ide-ide tentang Tuhan. Ide-ide itu biasanya akan memudar tanpa terasa, dan akan digantikan oleh ide yang menurut manusia saat ini adalah yang paling ideal. Rasa kagum manusia terhadap Tuhan seringkali membuat mansuia malah perlahan-lahan kehilangan spiritualitasnya. Dan berujung pada keputusasaan, hingga saat ini tidak sedikit yang sudah melupakan segalanya yang berhubungan dengan Tuhan.
Sangatlah beruntung diriku tinggal di Indonesia, yang mana dari darah Jawa pula. Tau sendiri kan bagaimana mistisme Jawa telah begitu melegenda. Menurutku, orang Jawa adalah mistikus paling beruntung di antara semua mistikus sejak dahulu kala. Makanya saat ini adalah sebuah kenikmatan tersendiri yang tak mampu terkatakan olehku, bahwa ternyata Tuhan begitu memberkati tanah Jawa dan seluruh penghuninya, walau aku kenyataannya tinggal di Sumatera, tetapi aura Jawa sangatlah begitu mistik di sini.

Komentar