Langsung ke konten utama

Manusia? Apa Itu?

      Tentang manusia, itu semua bagiku sangat penting, sampai diriku nekat lihat bagaimana para orang-orang yang mengaku manusia menjelaskan asal-usul mereka. Apalagi para manusia yang sekarang menghuni kepulauan serba ruwet ini, dengan tidak lengah mendalami para manusia yang ada di Eropa atau di daratan Asia, diriku diberi pelajaran dari itu semua bahwa hal itu sangatlah penting. Sebagai anak muda, diriku secara naluri selalu bergelepotan kata-kata besar tentang arti kebenaran, perjuangan masa depan, dan segala hal yang berbau hakekat kehidupan yang harusnya mesti dikaji ulang sebelum tua yang mendekam. Pokoknya paling semangat kalau urusan hal-hal begituan, tetapi sungguh tidak jarang bahwa segala kegagahan kata-kata tersebut tinggal menjadi kembang plastik ketika sampai pada realitas manusianya. Ya ampun ruwet bener sebenernya semua nih. Orang dengan mudah berkenalan dengan nilai sebuah kebenaran, tetapi menghidupi nilai di dalam perilakunya atau sampai dalam kesatuan-kesatuan kejiwaannya adalah sesuatu yang lain lagi. Karena itu apa boleh buat, tema terpenting yang harus kita nikmati adalah tentang manusia.



     Marilah berujar jujur: Apa sebenarnya yang bisa kita perkatakan tentang manusia? Seberapa tak terbatas sesungguhnya pengetahuan manusia tentang manusia itu sendiri? Ya harus aku akui juga sih, seorang dokter ortopedi mampu berbicara tentang tulang belulang hingga segala detailnya dengan gampang. Pun dengan mereka para ahli komputer bisa berkicau di hadapan kita menguraikan benda ajaib itu hampir 100% dijamin kebenarannya. Tetapi dari itu semua, betapa lumpuh sesungguhnya pembicaraan mereka yang katanya ahli manusia ketika menjelaskan tentang detail manusia? Manusia itu sendiri tak bisa disepakati definisinya. Dan uniknya adalah bahwa kita sebagai manusia harus setiap detik berlaku sebagai manusia. Bagaimana cara kita menjalani hidup ini jika kita sendiri gak paham tentang bagaimana itu manusia, gak ada ilmu yang disepakati pula, yang penting nggak kayak binatang ya udah berarti seperti mansuia, kecuali kalau itu binatang dalam tahap evolusi menjadi manusia. Ada juga cuma psikologi, yang mana itu cuma ilmu cabang dari filsafat, yang kebenarannya juga gak ada yang bersepakat mutlak. Yang lebih rumit adalah tentang pertanyaan; kapankah manusia mulai berhenti disebut sebagai manusia? Kita udah sampai sejauh ini loh, apa iya kita masih mau ber-evolusi jadi robot? Lalu si robot nanti jadi apa? Apa iya jadi rongsokan?


     Ada yang bilang bahwa manusia adalah raga kita ini, yang mampu dinilai oleh mata. Ada juga yang menilai bahwa manusia adalah jiwa, yang dengannya raga kita menjalani kemauannya. Malah ada yang memilih garis tengah, yaitu bahwa manusia sesungguhnya adalah garis pertemuan antara raga dan jiwa. Dan mereka semua berdebat, berperang saling bunuh baku hantam, hanya untuk mempertahankan argumen mereka sendiri-sendiri. Di manakah sebenarnya manusia? Di manusia manakah kita? Alangkah ruwet dan tersipu-sipunya kita untuk berbicara tentang yang bernama manusia. Tetapi menggairahkan juga manusia nih, seperti mengupas rahasia yang mana kita sendiri yang menjaga itu rahasia. Dan juga, sangat banyak yang coba memahami manusia dengan jalan meneliti manusia lainnya, sampai lupa bahwa dirinya juga manusia. Betapa kita ini gak mengenal diri kita sendiri, malu pastinya diri kita nanti tau akan hal ini. Cobalah kali ini kita berproses memasuki realitas yang paling nyata dan pentingnya ini. 

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar