Langsung ke konten utama

Mempelajari yang Menenangkan

    Bukan tanpa alasan sebuah kata dipilih. Mengapa kata Ngalah lebih maju ke depan dibandingkan kata Menang. Pastinya itu mewakili sebuah proses yang amat panjang ataupun sesuatu yang teramat detail yang apabila dijabarkan mungkin teramat panjang yang kadang-kadang logika akal malah kesulitan mencapainya. Apalagi akal para manusia jaman sekarang, mengurus Great Depression 1929 aja gak kuat. Untung ada Perang Dunia II, bisa dibilang bahwa krisis ekonomi itu kadang bisa ditangani dengan perang, kecuali perang yang dilancarkan Mesir pada Israel dulu itu. Contoh lain juga cara yang digunakan pendahulu kita tahun 60an itu. 

     Kembali pada masalah kedudukan sebuah kata, kata “Ngalah” yang konon cerita berasal dari kata Allah. Kemungkinan lain berasal dari kata kalah. Tetapi menurut Pak Agus Sunyoto, seorang yang bergelut dengan ilmu-ilmu sejarah, kata kalah tidak ada akar bahasanya, atau tidak pernah kata kalah dikenal sebelum-sebelumnya, sedangkan dipihak lain justru kata Ngalah yang populer sejak dulu. Pernah dengar dahulu saat anak Adam bertengkar masalah kurban?



     Jadi, dapat disimpulkan bahwa kata dasar “Ngalah” kemungkinan besar adalah “Allah”, sebuah kata yang dipopulerkan pertama kali oleh seorang Quraisy yang hidup di wilayah Timur Tengah bernama Muhammad yang merepresentasikan sesosok yang Maha Esa, Maha Tinggi, Maha Agung dan maha-maha lainnya atau puncak dari segala puncak tertinggi. Terkadang untuk memudahkan pemahaman seringkali dipadankan dengan Cahaya Ilahi. Tapi entah bagaimana sebenarnya, memahami padanannya saja sudah lebih dari cukup memberi kebahagiaan hati yang tiada tara, entahlah apa yang terjadi seandainya bisa mencapai lebih dari itu. Yang jelas itu bukan untuk diangan-angankan tetapi dijalani mulai saat ini juga. Sebuah impian mulia dariku, saat ini kata Ngalah telah dipahami sebagai bentuk hinaan tersendiri. Mungkin belum pada tau, pedoman Ngalah yang tepat.
     Terakhir, dari jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, sedikit benang merah bisa ditarik bahwa ilmu tertinggi adalah Ngalah. Pelajarilah kala masih muda, sedikit menyiksa emang, tapi kalau diterima dengan lapang dada, ya setidaknya ngeluh sedikit juga gak masalah, yang jelas jalani saja sikap Ngalah tiap harinya, lalu nanti bisa dibuktikan sendiri hasil akhirnya. Ngalah pada hakekatnya adalah kembali kepada Allah, tunduk pada ketentuan-ketentuan Allah dengan seluruh kerendahan hati dan diri. Diri ini hanya bisa merintis jalan menuju Cahaya Sejati hanya bila telah mengalahkan lawan tertangguh yakni nafsu diri. Diri ini hanya bisa mengalahkan lawan tertangguh hanya bila mau berusaha sekeras-kerasnya dengan seluruh energinya. Allah itu sangat menyukai siapa saja yang berusaha keras, sampai seolah yang menentukan hasilnya itu ya kita sendiri, padahal perlu diingat bahwa hasil itu hak mutlak Allah. Mudahnya, usaha keras termasuk salah satu doa paling mujarab. Cuma kadang kita sebagai manusia sampai lupa pedoman untuk berusaha keras, lalu hasilnya mengecewakan dan berakhir menyalahkan Gusti Allah. Kan rumit kalau gak paham pedoman Ngalah.
     Siapapun yang bisa mengalahkan dirinya sendiri, pastilah dengan amat mudah mengalahkan orang lain. Sering saya dapat nasehat begini dari para pejalan kehidupan, para sesepuh yang banting pikiran melawan nafsu jasmani. Belum selesai lagi, setelah mampu mengalahkan dirinya sendiri, dimulailah titik kritis pencapaian dari perjuangan, pertandingan, perlombaan di gelanggang kehidupan seorang manusia. Kritis karena disinilah manusia diberi pilihan tersulit dalam hidupnya. Pada titik ini manusia ada pada level tidak terkalahkan oleh manusia lainnya alias selalu menang, tetapi disisi lain manusia memiliki ketentuan untuk bersiklus antara menang dan kalah. Ketika pada titik ini manusia tiba-tiba kehilangan kesadaran akan keharusan bersiklus, maka ia akan menggunakan kekuatannya untuk mengalahkan, menindas, menginjak-injak manusia bahkan makhluk lainnya sampai kemudian ia tersadar saat ia mengalami fase akhir kehancuran karena sesungguhnya ia tidak akan pernah bisa mengalahkan dirinya yang Sejati. Siapa yang sesungguhnya tak terkalahkan?
     Namun, bila pada titik ini kesadaran tetap terjaga maka ia akan memilih menyerahkan segala urusan dan nasib kepada Allah, atau dengan istilah yang lebih sederhana ia memilih Ngalah. Bila ini pilihannya maka ia akan berusaha meninggikan lawan-lawannya, menghargainya, mengayominya, menghiburnya bahkan mengobati lawannya yang sakit parah, karena ia sadar bahwa meraih kemenangan bersama-sama jauh lebih nikmat daripada meraihnya seorang diri. Keegoisan dan keserakahan adalah musuh utama kala akan mewujudkan sikap Ngalah.
     Untuk mencapai dan menjaga kesadaran itu dibutuhkan pengamatan, penelitian, kecermatan yang teramat panjang secara sistematis, empirik, metodologis dan logis. Semua proses itu sering diwakilkan dengan kata ilmiah dengan produknya yang sering kita sebut dengan “ILMU”. Jadi wajarlah kalau kemudian ada yang mengatakan bahwa Ngalah adalah puncak ilmu atau ilmu tertinggi. Wajar pula kalau kata Ngalah seharusnya diawali dengan huruf besar sedangkan kata kalah diawali dengan huruf kecil hanya sebagai pengingat bahwa keduanya berada pada kutub yang berseberangan disekitar kata menang. Wajar pula bila ada yang menyebut Ngalah itu sebenarnya kita sedang bersyahadat yakni bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

     Apa itu Ngalah? Aku belumlah lagi paham. Dunia memang sangat menyakitkan, kalau aku disuruh memilih, aku mau pulang. Tetapi hanya di sinilah aku bisa temukan sikap Ngalah, malahan aku berkali kali ingin dan berhasrat mau menang. Lihatlah ketika menang, selalu ada pihak yang dirugikan. Berbagai pedoman kehidupan ingin aku santap, mumpung masih muda juga, karena kita sebagai Ruh, bertugas menghidupi jasad yang tau nya hanya kalah dan menang. Sangat malang.

The Introvert, Ridwan
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar