Langsung ke konten utama

Semua adalah Pengayom

Pertama, apa itu pengayom?

Ayom, apakah ayom ini anak cucu dari ayam? Kayaknya iya, seperti daging ayam yang dipanggang, maka siapa saja yang menikmatinya akan merasakan sesuatu yang ayem. Dan coba dengar suara ayam berkokok, jiwa senantiasa ayem, karena kokokan adalah pertanda bahwa si ayam tengah melihat dan merasakan kehadiran malaikat rahmat. Ya sudah final, bahwa ayom dan ayam adalah satu keluarga. Siapapun yang memiliki kemampuan mengayomi, maka bisa aku pastikan bahwa dia sangat tekun dalam berkokok. Sialnya, aku baru menyadari bahwa mayoritas yang punya jiwa pengayom adalah wanita, bagaimana cara wanita berkokok? Ini cuma imajinasi, perlu diketahui bahwa cara terbaik untuk membuat diri sendiri ayom adalah dengan berimajinasi salah satunya. Tetapi tidak semua menyukai dan bisa berimajinasi. Lalu bagaimana cara mereka mengayomi diri mereka sendiri? Tentu itu bukan urusanku, karena manusia adalah makhluk yang selalu punya keunggulan tersendiri. Apakah aku unggul dalam berimajinasi? Tanya pada ayam betina di waktu pagi.

Orang sekarang sangat suka dengan berbagai kalimat yang sangat bermartabat, membuat yang dengar jadi hormat, padahal rasa ayom itu bukanlah apa yang keluar dari kedua bibir. Tapi, ada kalanya dengan sebuah penjelasan yang sangat jujur dan elegan, jiwa jadi tenteram. Apalagi nasehat dari seorang Ibu, walau nasehatnya ya cuma itu saja, cuma diulang ulang tanpa bosan, jiwa tetap terasa dan menjadi tenang. Enaknya punya Ibu yang gak punya banyak pengalaman ya begini, satu nasehat yang berulang akan selalu lebih unggul ketimbang banyak nasehat yang gak memuaskan. Kenapa ya semua Ibu itu selalu memberi pengayoman pada anaknya? Apakah beliau khawatir nanti si anak lupa diri atau bagaimana gitu, kadang aku bertanya heran, mengapa aku gak dilahirkan sebagai perempuan? Kalau aku tanya Ibuku, beliau itu memberi pengayoman karena tau bahwa anak itu butuh pondasi jiwa yang kokoh. Walau aslinya nanti kalau udah nikah, si Istri akan lebih cerewet ketimbang Ibu. Ya ampun nasib jadi lelaki. Lelakunya selalu tak mampu berdiri sendiri.

Kalau aku pahami dari arti bahasa, ayom ini artinya jaga, rawat, ataupun ya itu saja kayaknya. Kalau aku jaga, belum tentu aku rawat, tetapi jika udah aku rawat, pastilah aku juga jaga. Alhasil bahwa ayom adalah bermakna rawat. Apakah perawat juga termasuk pengayom? Atau apakah semua orang aslinya adalah pengayom? Karena yang aku tau adalah bahwa ayom adalah hasil dari ketekunan dalam merawat. Karena ternyata ayom juga berarti tenteram. Pengayom juga berarti mereka yang memberikan selalu ketenteraman. Artinya bahwa pengayom sejati adalah pak polisi. Aku jadi ingat bagaimana kisah romansa pak Jenderal Hoegeng waktu muda, bersama gadis pujaan hatinya, yang entah aku lupa siapa namanya. Pasangan asmara yang sangat berlawanan dari cerita drama yang mereka berdua mainkan. Tentu saja aku bisa katakan bahwa dengan mengulik cerita begituan, jiwaku terasa tenteram. Apalagi cerita romansa bung Hatta bersama siapa istri beliau sih. Ya pokoknya pelajaran pertama tentang keseimbangan perasaan adalah mendengar dan meneliti kisah asmara. Karena ketenteraman adalah hasil perpaduan antara laki-laki dan perempuan. Siapa yang memadukan? Apakah perjodohan? Coba tanya beliau Siti Nurbaya. Ngomong ngomong, saya belum pernah tau secara detail tentang kisah Siti Nurbaya, cuma cuplikan dari orang orang sekitar.

Orang yang berjiwa pengayom biasanya mampu memberikan rasa nyaman kepada orang di sekitarnya, melalui pembawaannya. Dia bisa melindungi dan membela orang yang memang perlu mendapatkan hal tersebut. Maka tak jarang dia kerap bersikap seperti seorang pemimpin yang bisa bertanggung jawab atas segala sesuatu. Maka tak heran jika orang-orang akan menaruh rasa nyaman kepada si pengayom. Sudahkan kita memberikan rasa nyaman pada orang lain? Ataukah malah sebaliknya? Sebaiknya jangan tanya pada sampah masyarakat seperti diriku ini. Walau begitu, aku tampaknya butuh pengayoman, tetapi anehnya secara tidak sadar aku tidak butuh pengayom. Tetapi jika kamu yang mengayomi, aku niscaya akan tenteram secara jasmani rohani. Nah itu....

Kenapa semua rambut orang Indonesia berwarna hitam? Apakah benar kita ini berbeda-beda? Apa yang menjadi pembeda? Bukankah kita juga sama?



Dia tak gegabah dalam mengambil setiap keputusan, selalu dipikirkan dahulu sebelum merealisasikannya menjadi sebuah tindakan. Sebab dia paham bahwa setiap tindakan harus berdasarkan prioritas agar bisa didapatkan keputusan yang baik bagi dirinya maupun orang lain yang terlibat dengannya. Cukup rumit juga untuk mewujudkan sebuah keseimbangan ayom rupanya. Karena aku kira bahwa kenyamanan setiap orang tidaklah sama, perlu juga sikap empati dalam diri para pengayom. Kalau aku jelaskan masalah ini pada orang sekitarku bagaimana ya, apa mereka bisa paham? Mengapa mayoritas manusia itu susah untuk memahami? Harus diakui bahwa sangat sedikit yang peduli dengan sesama, mereka lebih suka menindas dan mempermalukan sesamanya. Mengapa kebodohan sosial gak pernah selesai? Setidaknya jangan terlalu gak tau gitu, apa iya sampai kiamat kita akan terus begini? Apalagi aku udah gak kuat melihat berbagai tindakan dan ucapan mereka itu, mengapa hidup begitu dipandang sangat santai, padahal kalau kalian nyantai gitu, aku yang susah. Lagipula, mengapa aku gak bisa egois seperti kalian, kan rumit. Selalu aku peduli pada kalian, walau kalian gak peduli pada diri kalian sendiri, apalagi peduli padaku. Mungkin saja bahwa pengayom sejati adalah mereka yang terasing. Dalam hal ketenangan, mereka yang terasing udah tersertifikasi, makanya aku kira bahwa para polisi harus dulu ikut meditasi di gua kidul. Kenyamanan adalah tentang keseimbangan perasaan, dan hanya para wanita yang paham akan hal demikian.

Cara pandang dan sikapnya yang dewasa membuat orang dengan kepribadian pengayom punya tingkat kepedulian yang super tinggi. Dia selalu bisa menempatkan orang lain di atas kepentingannya. Mengalah bahasa mudahnya, tetapi juga melihat tentang prioritas. Pembawaan dia yang seperti itu, membuatnya sangat peka dengan lingkungan sekitar sehingga mudah mengulurkan tangan untuk membantu sesama. Karena prioritas utama adalah senyuman dari mereka yang kita sayang dan perjuangkan. Tetapi kadang dia nggak mau senyum, oleh karena perpisahan yang terlalu menyakitkan tengah menanti di depan. Makanya aku selalu ingin mengayomi setiap yang aku sayang, supaya lebih terkesan menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Begitu...

Kecuali si dia, seorang gadis berkerudung merah. Semoga senyumanmu selalu menyebarkan berkah, oleh karena setiap senyuman adalah bentuk perlindungan yang paling menenangkan. Hai... 



Orang yang berjiwa pengayom juga termasuk pengamat sejati. Sejak tadi aku penasaran, mengapa selalu menyebut kata orang, apakah cuma orang yang mampu menjadi pengayom? Bukankah orang-orangan di sawah juga dicintai para padi dan tanaman? Bukankah tumbuhan juga berjuang mati-matian guna mengayomi kita para makhluk yang disebut orang ini? Apakah aku harus berpikir ulang bahwa ternyata adalah manusia yang biasa disebut orang inilah yang nggak punya jiwa pengayom? Apakah kita mampu memahami peran setiap apa yang ada di sekitar ini dengan baik? Dengan begitu, maka kita tidak akan mudah menghakimi setiap apa yang dikerjakan oleh apa yang ada di seluruh alam ini. Sebab harus diketahui bahwa setiap kesalahan adalah hal yang wajar dan tak perlu dibesar-besarkan. Justru hal yang lebih penting adalah mengingatkan dan memberikan semangat agar orang tersebut tak mengulangi kesalahan yang sama. Lalu berharap akan ada sesuatu yang membuatnya menjadi pengayom sejati. Lagipula, bagaimana kita membedakan antara pengayom dan pengacau?

Setiap yang berjiwa pengayom cenderung mampu melindungi. Sehingga kebanyakan orang yang memiliki kepribadian pengayom layaknya seorang pemimpin. Dia bisa mengarahkan kepada hal yang benar dan mau merangkul agar bisa menuju ke arah kebaikan secara bersama-sama dengan orang di sekitarnya. Kita kembali pada pembahasan jiwa pengayom sebagai makhluk manusia. Karena aku kira bahwa setiap dari kita adalah pengayom, janganlah dibuat aneh-aneh dengan mengatakan bahwa pengayom itu harus begini dan begini. Kita hanya perlu mengubah sudut pandang bahwa aslinya apa yang dilakukan orang lain adalah hasil dari pengamatan dan pengalaman. Dan jika kita rasakan, maka mereka telah membuat kita nyaman. Keegoisan adalah sikap yang paling bertanggungjawab dalam hilangnya rasa ayom.

Wahai ayom... datanglah pada setiap kejadian. Walau tidak semua akan tau dan yakin bahwa dirimu adalah si ayom yang sejati. Perlu diketahui bahwa tidak ada alasan yang tepat jika ingin memberikan rasa ayom, karena setiap dari kita sangat butuh rasa ayom ini. Tidak peduli seperti apa bentuk si pengayom, yang penting ya begitulah pokoknya. Udah.

Semoga kita semua makin bergairah dalam memahami sebuah Ilmu. Segala hal adalah ilmu, tinggal mau memahaminya atau acuh dan hancur masa depan. Kenapa kita gak mau mengoptimalkan segala hal yang dianugerahkan? Semoga nanti aku bisa menambah sedikit nutrisi pada mereka. Kapan ya?

The Introvert, Ridwan
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar