'Seakan hidup ini, tak ada artinya lagi...' nah penggalan lirik cantik nan memukau dari D'Masiv itu telah aku klaim sebagai apa yang dinamakan kematangan pikiran. Orang kalau pikirannya udah matang pasti udah nggak ingin hidup lagi, karena hidup hanya aslinya cuma melakukan dua hal : menyakiti atau disakiti. Tetapi karena hidup adalah anugerah, maka kedua hal tersebut pastilah mengandung hikmah. Apa benar sih bahwa hidup ini anugerah? Ada satu lagu yang aku kira memiliki lirik yang ditulis dengan rasa sayang tinggi terhadap hikmah hidup. Dibawakan oleh grup band D'Masiv berjudul Jangan Menyerah. Mengapa harus jangan menyerah, apakah hidup begitu beratkah? Apakah menyerah adalah tanda bahwa kita sudah berhenti dan kalah, atau karena kita ingin memutar arah? Entah, aku mau tunjukkan dulu bagaimana lirik Jangan Menyerah telah membunuh sifat alami manusia : Mengeluh! Dan berikut adalah lirik lengkapnya :
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan tak kenal putus asa
Jangan menyerah (6x)
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan tak kenal putus asa (2x)
Liriknya sangat kental dengan pengulangan, ya emang begitu sih. Supaya orang bisa yakin, maka harus diulang-ulang. Karena sifat manusia yang percaya dengan kebiasaan, maka pengulangan diharapkan bisa membiasakan si manusia yang hidupnya di ujung tanduk. Apalagi biasanya mereka yang di ambang kekalahan itu selalu mengeluh, tidak akan mempan hanya dengan satu kali ucapan, seperti layaknya untuk menumbuhkan tanaman, maka harus disiram berulang-ulang, mungkin begitu. Propaganda juga selalu diulang-ulang kan, hingga manusia nggak punya lagi pijakan. Perang!
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Apakah aku menyesal dengan apa yang terjadi? Kalau telah terjadi itu, artinya udah masa lalu. Siapakah kiranya yang masih menyesali masa lalu? Lagipula, masa lalu memang pasti disesali, masa kini dijalani, dan masa depan dicemasi. Manusia memang begitu, cuma jangan berlebihan. Lagipula, kita itu menyesal oleh karena saat ini kita tau ternyata ada yang lebih baik, 'kenapa aku dulu nggak begini sih...' begitu kalimat penyesalan yang biasa diucapkan. Ya kan aku juga kadang berpikir bahwa apa yang aku lakukan saat ini adalah yang terbaik, cuma nanti mungkin ada hal lebih baik lagi, ya itu lain cerita. Kalau mau diperbandingkan ya nggak selesai, ujungnya terus menyesal. Tetapi mungkin maksud lirik pembuka tadi begini : terima dengan lapang dada segala apa yang Tuhan berikan, pasti ada maksud tertentu untuk berputarnya roda kehidupan. Walau manusia saat ini lebih memilih filosofi populer begini : 'hidupku pilihanku, mau jadi seperti apa terserah diriku.' Aku kira begitu, ya nggak...
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Pertanyaannya, adakah cobaan yang bersifat ringan? Tetapi aku kira bahwa semua cobaan adalah ringan, menjadi berat saat mulai kita beri respon negatif. Jadi, selalu berpikirlah positif, supaya masih ingin terus hidup. Biasanya emosi kita saat berusia remaja itu yang riskan, mayoritas remaja itu kan belum kuat dan paham masalah cobaan. Taunya mereka cuma bahwa hidup ini adalah kebahagiaan. Semua yang ada disekitar harus bahu membahu guna mewujudkan kebahagiaan mereka, kan susah kalau begini. Kala ada cobaan sekali saja, udah kelabakan mau mati saja. Ini pengalamanku waktu hidup di sekolahan, jangan ditiru. Sekolah adalah pusat kebahagiaan, hingga aku nggak mau sekolah lagi. Bahagia jadi kebiasaan sih, trauma jadinya.
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Untuk melakukan sesuatu yang baik, maka harus dimulai dengan rasa syukur terlebih dahulu. Supaya nanti saat hasilnya nggak sesuai niatan awal, maka dengan mudah kita mensyukurinya. Coba bayangin kalau bersyukur aja belum khatam, pas sudah semangat melakukan yang terbaik, lalu diuji Tuhan dengan hasil yang nggak sesuai, gimana coba... bisa menganggap hidup nggak ada artinya lagi nanti. Kan bahaya. Intinya syukur terlebih dahulu, dan tingkatan syukur itu juga bermacam-macam. Salah satu yang paling aku sukai adalah cabang syukur dalam hal apa ya... ternyata aku sendiri juga belum pandai bersyukur, nasib dah, begitu beratkah rasa syukur itu?
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan tak kenal putus asa
Jangan menyerah (6x)
Pertama yang aku pikirkan adalah tentang hubungan putus asa dan jangan menyerah. Apa itu putus asa? Putus itu artinya nggak lagi tersambung, awalnya pasti itu tersambung. Caraku mengartikannya kok nggak bermutu gini sih, ya terserah lah. Intinya awal mulanya bahwa perjuangan itu sifatnya terus menerus bertaut. Akan putus jika ada sesuatu yang kiranya menganggu, aku kira di sini pentingnya sifat sabar. Saat tau bahwa ada gangguan dalam menjalankan asa, ya jangan diterobos dong, jangan sok berani gitu lah, penting juga untuk sabar dulu. Siapa tau itu gangguan akan hilang atau dihilangkan oleh karena kesabaran kita. Aku sudah cukup mendengar bagaimana manusia yang sabar dalam merajut asa, mereka pasti nggak pernah merasakan bagaimana asa mereka putus. Makanya jangan menyerah untuk terus sabar. Nah itu aku kira.
Begitulah caraku menikmati rasa dari lirik jangan menyerah karya band D'Masiv. Nama band nya kok aneh juga ya. Kok nggak ada nama band yang bercita rasa apa gitu, misal Kutu band, atau Jempolan band, atau Terserah band gitu, dan band-band yang lain. Ya nggak masalah mau apa namanya, yang penting bagaimana rupa dan rasa karyanya. Begitulah caraku menutup imajinasi di sore ini. Di sini tadi udah gerimis seolah mau hujan deras, ternyata nggak jadi hujan. Sabar menunggu, karena hujan bisa membuka pikiran lebih cemerlang. Coba kalian memikirkan hal yang sama, tetapi dalam dua keadaan yang berbeda, yaitu saat hujan dan kala terik panas mencekam. Pasti nanti kalian akan terkejut betapa ternyata pikiran kita itu adalah bentuk penjabaran dari kondisi alam. Kita memikirkan alam, atau kita yang dibuat berpikir oleh alam?
Bulan demi bulan, aku kira penutup dari bung Tomo ini sangat oke. Pidato 10 November 1945, isinya juga tentang bagaimana kita harus menumbuhkan sifat jangan menyerah. Walau musuh udah nggak bisa kalah, tapi jangan menyerah adalah bentuk penjabaran dari sifat sabar dalam menerima kekalahan. Toh ujungnya si Inggris juga nggak bisa berkutik lagi, mau ngapain lagi di Surabaya, kalau nggak segera pulang kampung, artinya seakan hidup di sini nggak ada artinya lagi. Nah begitu saja aku kira.
‘Bismillahhirrohmanirrohim... Merdeka!!!
Saudara-saudara rakyat jelata, di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya. Kita semuanya telah mengetahui, bahwa hari ini, tentara Inggris telah menyebarken, pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita diwajibken untuk dalam waktu yang mereka tentuken, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang. Mereka telah minta, supaya kita dateng kepada mereka itu, dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta, supaya kita semua dateng pada mereka itu, dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.
Saudara-saudara, di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukken, bahwa rakyat Indonesia di Surabaya. Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi, pemuda-pemuda yang berasal dari pulau Bali, pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini. Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing, dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung, telah menunjukken satu pertahanan yang tidak bisa dijebol, telah menunjukken satu kekuatan, sehingga mereka itu terjepit di mana-mana. Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara, dengan mendatengken Presiden, dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk memberhentiken pertempuran. Tetapi pada masa itu, mereka telah memperkuat diri. Dan setelah kuat, sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara, kita semuanya, kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu, dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya, ingin mendengarken jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarken jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini. Dengarkenlah ini, tentara Inggris!!! Ini jawaban kita!!! ini jawaban rakyat Surabaya!!! Ini jawaban pemuda Indonesia!!! kepada kau sekalian!!!
Hei tentara Inggris!!! Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu, kau menyuruh kita mengangkat tangan dateng kepadamu, kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahken kepadamu. Tuntutan itu, walaupun kita tahu, bahwa kau sekalian akan mengancam kita, untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada, tetapi inilah jawaban kita. Selama banteng-banteng Indonesia, masih mempunyai darah merah!!! Yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih!!! Maka selama itu, tidak aken kita mau menyerah kepada siapapun juga!!!.
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah!!! keadaan genting. Tetapi saya peringatken sekali lagi, jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu. Kita tunjukken bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin Merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak Merdeka!!! Semboyan kita tetap, Merdeka atau Mati!.
Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Merdeka!!!.
The Introvert

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan tak kenal putus asa
Jangan menyerah (6x)
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan tak kenal putus asa (2x)
Liriknya sangat kental dengan pengulangan, ya emang begitu sih. Supaya orang bisa yakin, maka harus diulang-ulang. Karena sifat manusia yang percaya dengan kebiasaan, maka pengulangan diharapkan bisa membiasakan si manusia yang hidupnya di ujung tanduk. Apalagi biasanya mereka yang di ambang kekalahan itu selalu mengeluh, tidak akan mempan hanya dengan satu kali ucapan, seperti layaknya untuk menumbuhkan tanaman, maka harus disiram berulang-ulang, mungkin begitu. Propaganda juga selalu diulang-ulang kan, hingga manusia nggak punya lagi pijakan. Perang!

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Apakah aku menyesal dengan apa yang terjadi? Kalau telah terjadi itu, artinya udah masa lalu. Siapakah kiranya yang masih menyesali masa lalu? Lagipula, masa lalu memang pasti disesali, masa kini dijalani, dan masa depan dicemasi. Manusia memang begitu, cuma jangan berlebihan. Lagipula, kita itu menyesal oleh karena saat ini kita tau ternyata ada yang lebih baik, 'kenapa aku dulu nggak begini sih...' begitu kalimat penyesalan yang biasa diucapkan. Ya kan aku juga kadang berpikir bahwa apa yang aku lakukan saat ini adalah yang terbaik, cuma nanti mungkin ada hal lebih baik lagi, ya itu lain cerita. Kalau mau diperbandingkan ya nggak selesai, ujungnya terus menyesal. Tetapi mungkin maksud lirik pembuka tadi begini : terima dengan lapang dada segala apa yang Tuhan berikan, pasti ada maksud tertentu untuk berputarnya roda kehidupan. Walau manusia saat ini lebih memilih filosofi populer begini : 'hidupku pilihanku, mau jadi seperti apa terserah diriku.' Aku kira begitu, ya nggak...
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Pertanyaannya, adakah cobaan yang bersifat ringan? Tetapi aku kira bahwa semua cobaan adalah ringan, menjadi berat saat mulai kita beri respon negatif. Jadi, selalu berpikirlah positif, supaya masih ingin terus hidup. Biasanya emosi kita saat berusia remaja itu yang riskan, mayoritas remaja itu kan belum kuat dan paham masalah cobaan. Taunya mereka cuma bahwa hidup ini adalah kebahagiaan. Semua yang ada disekitar harus bahu membahu guna mewujudkan kebahagiaan mereka, kan susah kalau begini. Kala ada cobaan sekali saja, udah kelabakan mau mati saja. Ini pengalamanku waktu hidup di sekolahan, jangan ditiru. Sekolah adalah pusat kebahagiaan, hingga aku nggak mau sekolah lagi. Bahagia jadi kebiasaan sih, trauma jadinya.
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Untuk melakukan sesuatu yang baik, maka harus dimulai dengan rasa syukur terlebih dahulu. Supaya nanti saat hasilnya nggak sesuai niatan awal, maka dengan mudah kita mensyukurinya. Coba bayangin kalau bersyukur aja belum khatam, pas sudah semangat melakukan yang terbaik, lalu diuji Tuhan dengan hasil yang nggak sesuai, gimana coba... bisa menganggap hidup nggak ada artinya lagi nanti. Kan bahaya. Intinya syukur terlebih dahulu, dan tingkatan syukur itu juga bermacam-macam. Salah satu yang paling aku sukai adalah cabang syukur dalam hal apa ya... ternyata aku sendiri juga belum pandai bersyukur, nasib dah, begitu beratkah rasa syukur itu?
Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasa-Nya
Bagi hamba-Nya yang sabar
Dan tak kenal putus asa
Jangan menyerah (6x)
Pertama yang aku pikirkan adalah tentang hubungan putus asa dan jangan menyerah. Apa itu putus asa? Putus itu artinya nggak lagi tersambung, awalnya pasti itu tersambung. Caraku mengartikannya kok nggak bermutu gini sih, ya terserah lah. Intinya awal mulanya bahwa perjuangan itu sifatnya terus menerus bertaut. Akan putus jika ada sesuatu yang kiranya menganggu, aku kira di sini pentingnya sifat sabar. Saat tau bahwa ada gangguan dalam menjalankan asa, ya jangan diterobos dong, jangan sok berani gitu lah, penting juga untuk sabar dulu. Siapa tau itu gangguan akan hilang atau dihilangkan oleh karena kesabaran kita. Aku sudah cukup mendengar bagaimana manusia yang sabar dalam merajut asa, mereka pasti nggak pernah merasakan bagaimana asa mereka putus. Makanya jangan menyerah untuk terus sabar. Nah itu aku kira.

Begitulah caraku menikmati rasa dari lirik jangan menyerah karya band D'Masiv. Nama band nya kok aneh juga ya. Kok nggak ada nama band yang bercita rasa apa gitu, misal Kutu band, atau Jempolan band, atau Terserah band gitu, dan band-band yang lain. Ya nggak masalah mau apa namanya, yang penting bagaimana rupa dan rasa karyanya. Begitulah caraku menutup imajinasi di sore ini. Di sini tadi udah gerimis seolah mau hujan deras, ternyata nggak jadi hujan. Sabar menunggu, karena hujan bisa membuka pikiran lebih cemerlang. Coba kalian memikirkan hal yang sama, tetapi dalam dua keadaan yang berbeda, yaitu saat hujan dan kala terik panas mencekam. Pasti nanti kalian akan terkejut betapa ternyata pikiran kita itu adalah bentuk penjabaran dari kondisi alam. Kita memikirkan alam, atau kita yang dibuat berpikir oleh alam?
Bulan demi bulan, aku kira penutup dari bung Tomo ini sangat oke. Pidato 10 November 1945, isinya juga tentang bagaimana kita harus menumbuhkan sifat jangan menyerah. Walau musuh udah nggak bisa kalah, tapi jangan menyerah adalah bentuk penjabaran dari sifat sabar dalam menerima kekalahan. Toh ujungnya si Inggris juga nggak bisa berkutik lagi, mau ngapain lagi di Surabaya, kalau nggak segera pulang kampung, artinya seakan hidup di sini nggak ada artinya lagi. Nah begitu saja aku kira.
‘Bismillahhirrohmanirrohim... Merdeka!!!
Saudara-saudara rakyat jelata, di seluruh Indonesia, terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya. Kita semuanya telah mengetahui, bahwa hari ini, tentara Inggris telah menyebarken, pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita diwajibken untuk dalam waktu yang mereka tentuken, menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang. Mereka telah minta, supaya kita dateng kepada mereka itu, dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta, supaya kita semua dateng pada mereka itu, dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.
Saudara-saudara, di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukken, bahwa rakyat Indonesia di Surabaya. Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi, pemuda-pemuda yang berasal dari pulau Bali, pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini. Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing, dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung, telah menunjukken satu pertahanan yang tidak bisa dijebol, telah menunjukken satu kekuatan, sehingga mereka itu terjepit di mana-mana. Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara, dengan mendatengken Presiden, dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk memberhentiken pertempuran. Tetapi pada masa itu, mereka telah memperkuat diri. Dan setelah kuat, sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara, kita semuanya, kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu, dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya, ingin mendengarken jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarken jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini. Dengarkenlah ini, tentara Inggris!!! Ini jawaban kita!!! ini jawaban rakyat Surabaya!!! Ini jawaban pemuda Indonesia!!! kepada kau sekalian!!!
Hei tentara Inggris!!! Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu, kau menyuruh kita mengangkat tangan dateng kepadamu, kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahken kepadamu. Tuntutan itu, walaupun kita tahu, bahwa kau sekalian akan mengancam kita, untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada, tetapi inilah jawaban kita. Selama banteng-banteng Indonesia, masih mempunyai darah merah!!! Yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih!!! Maka selama itu, tidak aken kita mau menyerah kepada siapapun juga!!!.
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah!!! keadaan genting. Tetapi saya peringatken sekali lagi, jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu. Kita tunjukken bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin Merdeka. Dan untuk kita saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak Merdeka!!! Semboyan kita tetap, Merdeka atau Mati!.
Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Merdeka!!!.
The Introvert
Komentar