Langsung ke konten utama

Imajinasi adalah Pilihan Mereka, kecuali

     Ada yang mencoba menyelamatkan Tuhan dengan cara mengembangkan teologi baru untuk membebaskannya dari sistem pemikiran empiris (hasil pemikiran yang berdasar atas pengalaman) ya ampun rumit bener orang barat menjelaskan sesuatu. Walau udah bergaya begitu, ateisme tetap eksis bertahan dan terus tumbuh di sana. Orang barat itu sangat goblok dalam menjelaskan agama. Entah otak mereka isinya apa nggak jelas. Katanya lagi, ada pula reaksi menentang kultus terhadap akal, bahkan para penyair, novelis, dan tentu saja para filosof gerakan Romatik (gerakan apa coba ini, kan nggak jelas gini. Lagian mengapa orang barat itu selalu punya ide tertentu dalam melawan ataupun mendiktekan sesuatu. Dan mereka juga mudah bersatu pula, heran) mengemukakan bahwa nasionalisme yang habis habisan akan bersifat reduktif, karena katanya akan mengabaikan aktivitas imajinatif dan intuitif manusia. Ya biarin dong mengalami reduksi, lagian sejak dahulu kayaknya udah berkurang setiap dari apa yang dulu pernah ada. Tapi sebenarnya hal tersebut tidak perlu terjadi. Aku kira, aktivitas intuitif telah bertanggung jawab dalam hal ini. Apalagi mereka mereka yang suka dengan imajinasi yang katanya kreatif. Ya ampun mengapa pula orang Jawa nggak turun tangan coba, tapi mengapa pula orang Jawa nggak peka dengan apa yang niscaya terselenggara?


     Imajinasi ini dipandang sebagai daya yang dapat menciptakan sebuah kebenaran baru. Bahkan nih ya, seorang penyair Inggris yang hidup tahun 1795-1821 (umurnya cuma 26 tahun ya ampun kasihan bener) namanya adalah John Keats. Si John Keats ini mengungkapkan perihal imajinasi dengan sangat lugas: "Imajinasi bagaikan mimpi Adam, dia terjaga dan menemukan kebenarannya." Nampaknya, ungkapan si John Keats ini berasal dari imajinasinya setelah menelusuri proses penciptaan Hawa dalam Paradise Lost karya Milton yang menyebutkan bahwa ketika Adam terjaga, setelah bermimpi tentang suatu realitas yang belum lagi tercipta. Dia melihatnya dalam wujud seorang perempuan yang berdiri di hadapannya. Diriku sebenarnya frustasi, mengapa orang barat begitu aneh dalam hal imajinasi realitas. Mereka begitu bangganya menjelaskan sebuah realitas yang begitu jelas dengan menggantinya sesuai imajinasi perspektif mereka sendiri. Wajar kalau orang Jawa dan para pejalan sufi sangat nggak tertarik sama pikiran orang barat punya. Ya ampun, orang barat sangat mengutamakan akal imajinasinya. Harusnya mereka segera bertobat sebelum bertindak lebih jauh dan merusak peradaban secara perlahan dan pasti. Kalaupun begitu, kita juga ujungnya yang akan disalahkan oleh orang barat. Nggak jelas emang mereka itu.

     Dalam surat yang sama, John Keats juga menulis tentang imajinasi yang katanya sebagai daya pikir yang suci: "Aku tidak bisa memastikan apa-apa, kecuali tentang kesucian perasaan hati dan kebenaran imajinasi. Apa yang ditetapkan oleh imajinasi sebagai keindahan pastilah juga merupakan kebenaran. Entah itu telah ada sebelumnya atau tidak." Sehingga dalam hal tersebut, peran akal sangatlah terbatas dalam proses yang dia sebut sebagai kreativitas. Hampir saja si John Keats ini menarik diriku dalam lubang imajinasinya. Kesan pertama yang dia ungkapkan tadi lumayan menarik menurutku, apalagi dia juga mengatakan bahwa: "ketika seorang manusia mampu berada dalam ketidakpastian, misteri, keraguan tanpa sedikit pun tergoda untuk meraih fakta dan akal." Ungkapan yang menurutku sangat menarik, kadang diriku berada dalam situasi seperti itu, rasanya emang nyaman sih, tapi ujungnya diriku nggak mendapat kepuasan sebagai makhluk yang berakal. Tetapi bagi seorang mistikus, melampaui akal dan membiarkan dirinya berada dalam sikap menanti yang hening adalah kepuasan tertinggi. Apa iya mereka sungguh begitu nyaman ya, kalau zaman dulu kayaknya normal normal aja sih, tapi gimana dengan saat ini yang mana lingkungan dan apapaun udah mulai aneh dan mengganggu daya khayal.

     Bagi segelintir manusia, menyatukan akal dan alam adalam kaniscayaan. Sebenarnya, akal nggak memiliki alam nya tersendiri, sedangkan alam memiliki akalnya sendiri. Bagaimana cara menyatukan keduanya, yang mana adalah keduanya termasuk kekuatan tertinggi dalam dunia nggak jelas ini. Bayangin, di kala alam mengungkapkan akal intuisinya, tentu saja akal kita akan senantiasa merespon, sangat nggak nyaman menurutku. Tetapi memang itulah, bahwa akal kita sejatinya adalah untuk memberitahu tentang apapun segala ciptaan kepada diri kita. Ketahuilah bahwa apa yang aku ungkap di sini adalah bentuk ketidakpercayaanku pada apa apa yang saat ini orang barat sebarkan. Pikiran dan imajinasi mereka sungguh telah meracuni realitas. Semoga mereka mau sadar suatu saat nanti, tapi itu adalah nggak mungkin, karena takdir mereka udah begitu sejak mereka belum ada. Terima aja nasibmu.

     Aku juga menutupnya dengan ungkapan mistis yang mereka orang barat sebut sebagai mistis:

Perasaan yang diberkati itu
Yang di dalamnya beban misteri,
beban yang berat dan lelah
dari seluruh alam yang tak tercerap ini.
Menjadi ringan: perasaan yang tenteram dan diberkati itu
yang di dalamnya rasa cinta deengan lembut menggiring kita,
Hingga, jiwa berbingkai jasad ini
dan bahkan gerak aliran darah kita,
Nyaris terhenti. Kita akan terlelap.
Di dalam tubuh, dan menjadi jiwa yang hidup:
Sementara, dengan mata yang ditenangkan oleh kekuatan
Harmoni, dan daya kebahagiaan yang dalam,
Kita akan melihat ke dalam segala sesuatu.

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar