Langsung ke konten utama

Pantun Bocah SMA

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang

Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

    Sebagai awalan pasti aku pilih mahakarya Ibu Sud. Walau memakai bahasa yang sangat sederhana, tapi ya apalah daya sebagai pria yang cukup sederhana aku juga tak kuasa terpana. Apa beda terpana dan terpesona? Ada lagi kata terkesima, ya emang kita ini patut bangga dengan kita punya bahasa. Ada yang bilang bahwa kemajuan suatu bangsa itu juga dipengaruhi oleh kebijakan dalam urusan bahasa. Lihat aja tata bahasa Jepang, katanya begitu. Nah, bisa dibilang bahwa KBBI itu lumayan merusak ketatabahasaan. Ini cuma imajinasi nggak sportif, jangan ditaruh di hati. Cukup di pikir saja, udah mau masuk waktu maghrib pula di sini. Perlu diketahui bahwa saat ini aku berdiam diri di wilayah Nuarmaju, Kabupaten Way Kanan. Bayangin aja, aku sendiri gak tau apa arti nama kampungku ini, tapi aku rasa senang berumah di sini. Nuarmaju, adakah yang tau artinya? Kalau nulisnya juga belum jelas, Nuarmaju atau Nuar Maju. Dulu ikut kampung Sukamaju, tapi sekarang udah mekar menjadi Nuarmaju. Padahal kalau aku amati segala aspek di sini malah mundur gitu. Harusnya nama kampung itu yang bisa menggugah rakyatnya supaya semangat pantang menyerah, misalnya saja kampung Ogahkalah atau kampung Malesnganggur gitu, atau yang sejenis lah pokoknya.

    Padahal aku mau nulis tema cinta di sini, malah ngawur begini. Kan ini pertama kali juga aku mulai menulis sesuatu yang kelihatannya gak penting gini. Lagian apa perlunya sebuah kepentingan, apakah emang hidup itu untuk mewujudkan sebuah kepentingan? Oke bersambung dulu. Pernahkan kalian menjelma menjadi ikan? Kata para pencari cinta, 'Tapi ada rasa ragu yang menggelayut di pikiranmu, karena ada banyak sikapnya yang membuatmu nggak yakin dengan perasaannya.' Nah, sebenarnya aku ini malas kalau nulis tema muda mudi ini, lebih suka nulis kalimat pengembangan sudut pandang manusia, misalnya kata Mas Andrea Hirata begini, 'Kecerdasan itu mempunyai seribu muka.' Jadi, aku masuk yang muka nomor berapa? Lagian apa pentingnya nomor urutan? Lebih enak gak usah berurutan. Nah, ada pantun roman jenaka khas bocah SMA berikut.

Restu udah dibawa
Tak habis pikir
Apalah arti cinta
Jika hanya diucapkan bibir



    Bayangin, ini aku dapat pantun dari buku sekolah SMA kelas XII. Udah dikasih materi cinta sejati begini coba, apa anak labil seperti mereka itu paham? Aku aja dulu waktu SMA gak pernah paham, aku lihat pantun ini juga baru kemarin. Lalu aku pahami begini;

Giat, semua punya cerita dan tempat. Kalau berkaitan dengan cinta, aku punya banyak cerita. Sedikit bohong dan aku lebih-lebihkan, kan aku juga kadang ingin menulis tentang sesuatu segalanya tentang propaganda. Begini, cinta itu selera, dia itu naluri, akan menarik jika cinta adalah sebuah makhluk. Tetapi nyatanya adalah bahwa cinta adalah yang membuat kita disebut makhluk. Tetapi kalau dari pitutur Said Nursi, bahwa keadilan adalah yang membuat kita menjadi hidup. Sedang harusnya, cinta membuat segalanya menjadi adil. Penyokong keberlanjutan kehidupan ini adalah cinta, coba bayangin kalau Tuhan udah gak cinta sama kita lagi, bersyukurlah karena cinta Tuhan pada semua ciptaannya sangat tak terbatas. Kalau aku tulis pembahasan masalah agama, rasanya ada yang salah, lebih tepatnya aku takut salah.

Pisau belati banyak gunanya, pun dengan cinta. Tapi aku selalu dibuat gak jelas oleh kebijakan cinta. Payah udahlah, gak enak jadi pemuda. Lagian aku juga lebih pilih menyelami masalah usahaku, walau gak sesuai dengan pribadiku, ini bisa juga dibilang sebagai tantangan. Aku harus menoba berpikir sebagai manusia yang optimis. Ada pantun lagi dari buku sekolah SMA, aslinya pantun ini karangan sastrawan melayu, aku baru tau ternyata orang melayu juga pandai meramu rayu.

Cintaku manis setinggi langit
Kugapai tangan tak sampai
Hentikan kilaumu sebelum kulilit
Hai....

Kalau orang udah terlilit cinta, mata hatinya pasti buta. Kucing aja bisa lupa makan, lupa majikan, teriak sesuka hatinya. Apa iya kucing juga punya hati? Terserah lah pokoknya. Aku sendiri selalu menggunakan cinta untuk aku punya rasa, paham tak? Dengan jiwaku yang perkasa, mudah bagiku menahan cinta. Tapi aneh kadang rasanya, kalau kata bang Chairil Anwar begini, '... Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.'

     Aku berhutang rindu dengan gadis itu, kapan aku bisa bertemu? Apa aku dapat denda karena telat dan emang sengaja aku tunda. Sudah lama rasanya, dengan mencintainya artinya aku membunuhnya. Lalu kembali aku berhutang padanya, kadang ada rasa kasihan aku padanya. Dengan dia yang pergi, apa aku bisa hidup lagi? Barangkali engkau yang lena dalam hatiku, aku tunggu hingga rinduku sakaratul maut. Nah, seperti inilah kalau aku menulis menuruti kata usia dan hati pemuda. Bisa saja aku menulis seperti orator ulung, sayang nya aku udah gak tertarik dengan politik. Ada juga aku ingin menulis kalimat dari para pemikir optimis, mereka yang selalu mendambakan kecerahan masa depan. Tapi daripada itu semua, lebih aku sukai gaya orisinal dariku, padahal belum pernah aku nulis yang sangat orisinal, cuma tersirat iya.

     Hujan muncul, panas tetap menyengat. Kisah cintaku sungguh tragis teramat, walau belum kiamat, aku udah lumayan sekarat. Membuat cinta kembali bersemi adalah naluri terkuatku. Aku ini tersusun dari Nitrogen Nitrat, dan Calcium Carbonat. Aku mau pergi bersama naluriku ke ujung Jawa, katanya di sana ada tanaman bunga yang kekurangan unsur hara.


    Nah, ini karya pertamaku di tahun 2020. Adakah yang paham dengan gambar dua burung itu? Mengapa harus ada dua ekor burung dalam satu gambar? Harus aku akui untuk kesekian kali, ternyata tangan kaki dan akalku lebih berkuasa ketimbang aku punya lidah bibir muka. Ya udah terima saja, mau aku lawan juga gak enak aku rasanya. Mencari atau menemukan siapa diri adalah dua hal yang berbeda. Nada terakhirku macam tak berguna. Tuan punya sedikit selera, oh iya... kapan aku naik takhta?

The Introvert, Ridwan
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar