Langsung ke konten utama

Manfaat Membaca

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang

Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Kita semua pasti sudah tak asing lagi dengan istilah "membaca", walau aku lumayan asing sendiri kalau dengar kata "membaca" ini. Aku lebih suka melihat sesuatu segalanya lalu menindaklanjutinya, ketimbang membaca apa apa yang kayaknya perlu aku baca. Tapi aku kalau udah membaca, pasti gak mau berhenti, dan lebih sering aku ketawa sendiri kalau lagi membaca, terlebih karya pemuda pemudi. Apalagi kalau bacaannya itu novel atau cerpen atau puisi, ya ampun ini bacaan, berbahaya bener. Pemicunya cukup jelas, mereka menulis menuruti kemauan hatinya, ya asli nya semua manusia itu kalau disuruh jujur sejujur jujurnya, pasti lucu. Padahal udah dibilang sama banyak penasehat ulung, bahwa kejahatan paling buruk adalah menipu diri sendiri. Jika yang dinilai adalah hati, maka semua manusia itu baik, dan masuk surga semua, udah itu.


Katanya, membaca itu berguna untuk supaya mampu melihat dunia lebih jelas. Apakah emang dunia ini tersajikan dengan buram? Agar tidak salah jalan, guna mengarungi luasnya samudera kehidupan. Membaca ini saja aku udah hampir pingsan, ada kemungkinan bahwa bacaan adalah nutrisi terbaik untuk jiwa kita. Menurut penuturan Emha Ainun Nadjib, kita itu gak usah lah ribet ribet baca segala aspek bentuk dan ragam tulisan, baca aja Alqur'an udah. Karena segala hal ada di situ. Sedang tulisan yang selainnya itu kan cuma bentuk cara pandang manusia tentang suatu hal, ya wajar kalau aku ketawa kala membaca tulisan orang. Ketawanya bukan ngeremehin, lebih tepatnya ya itu tadi, kenapa jujur sekali. Dunia lebih indah jika komunikasi melalui tulisan.

Katanya, membaca itu berguna bagi keuntungan diri kita. Ya orang lain juga untung sebenarnya, coba bayangin kalau kita ngobrol sama orang yang males membaca, lalu kita sendiri suka membaca, ya terpaksa kita sendiri yang mengalah, jadi supaya terlihat pintar, kita tidak diharuskan membaca. Membaca itu membuat kita makin sadar dan rendah hati. Walau kadang bisa membuat kita lupa diri juga sih, tergantung suasana diri dan lingkungan. Ada lagi istilah bahwa membaca adalah jendela dunia, kita bisa menengok apa apa yang ada di dunia hanya dengan membaca. Jendela juga berguna sebagai masuknya udara segar. Makanya propaganda itu juga menyasar pada tulisan. Ya aku kira, insan Pers itu harus didominasi kalangan cendekiawan wanita.

Yang lebih parah lagi ungkapan ini, bahwa membaca secara tidak langsung akan menambah perbendaharaan kata bagi kita dalam melancarkan proses komunikasi. Perlu diketahui bahwa mayoritas manusia yang suka membaca adalah mereka yang berkepribadian kurang dalam hal cara wicara. Lihat aja, nanti pasti dia suka bicara sendirian, seperti seolah dunia dan semua manusia adalah miliknya saja. Tapi ya gak masalah, lagian kita akan terlihat lebih hidup jika punya banyak kosa kata yang orang lain belum tentu paham. Contoh kecil puisi, dibaca gak paham, gak dibaca kok kayaknya punya kata kata yang diramu dengan elegan, rumit malah kalau kita suka membaca itu. Sabar. Apalagi puisinya Mbak Shofi itu, ya ampun kenapa ada nama si dia coba di sini, khawatir aku jadinya.

Rajinlah membaca mulai sekarang, karena ada yang bilang bahwa orang yang jarang membaca itu, rentan dibodohi orang lain. Oleh sebab, wawasan dan pengetahuannya lemah. Alhasil, dia memiliki pandangan yang melenceng dari kebenaran, oleh karena kurang kritis. Kasihan. Lebih lagi, tega bener yang membodohi itu, udah tau ada yang lemah secara wawasan, malah disantap pula. Ini udah lumrah terjadi saat ini dan emang udah sejak dahulu. Biasanya, orang yang suka memanfaatkan orang lain demi keuntungan sendiri itu saat belajar dahulu, kurang menghormati gurunya. Makanya ilmunya gak membawa keberkahan bagi dirinya ataupun sesama. Membaca itu malati. Nah, karena membaca itu juga ada adab aturan tak tertulisnya, jadi mesti paham hal dasarnya terlebih dahulu. Ini juga berlaku untukku, apalagi aku ini paling gak suka aturan ini itu, nasib aku nanti jadi penjahat ilmu.

Kalau aku baca situasi saat ini, nah emang membaca situasi itu paling menyenangkan, seperti membaca karangan kaum cewek yang berjuang menapaki jejak masa lalunya. Cewek itu emang suka dengan mengenang sebuah kenangan, kasihan ya mereka itu. Malah aku jadikan hiburan tersendiri kadang, ya gimana lagi, kalau aku baca tulisan para lelaki, yang ada cuma tema politik atau tentang arti hidup. Nasib emang, karena kalau pria nulis sebuah kenangan, ya pasti secara otomatis harga diri kita makin terkikis. 'Pria itu harus kuat!' Kata para pria lain yang aslinya juga belum terlalu kuat juga sih. Saling bahu membahu menyembunyikan realita. Itu semua tak berlaku untukku, ya karena aku ini lumayan kritis dalam hal apapun. Nah, membaca juga bisa membuat kita makin sombong begini, lagian jika aku baca sebuah penjelasan terbaik, bahwa sombong itu bukanlah menunjukkan apa apa yang lebih dari kita, tetapi bahwa sombong adalah kita menutup diri dari sesuatu yang baik.


Sebagai penutup akhirnya begini, jika kamu membaca hanya karena ingin tau, lebih baik gak usah membaca, eh bukan itu, maksudku perbaiki niat awalmu gitu. Menurutku, membaca itu membuat kita lebih menjadi... rahasia lah pokoknya. Coba kamu cari banyak tulisan, lalu kamu baca, dan nanti tau sendiri apa itu "Membaca".

The Introvert, Ridwan

Loh, inikan esai, harusnya aku lebih menganjurkan mereka supaya percaya dengan pemahamanku. Paham gak paham yang utama itu baca ya udah. Sekarang cari tulisan yang unik dan jujur itu lumayan ribet, apa apa kalau udah ada unsur uangnya, maka nilai guna hal tersebut akan terkikis sedikit demi sedikit. Kenapa ya... terpaksa mungkin.
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar