Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Ternyata beginilah dan begitulah tepatnya, hidup. Tadinya aku mau nulis banyak hal tentang Bung Hatta ataupun Pak Nasution, malah buntu, apa yang mau aku tulis. Dulu saya pernah baca karangan beliau berdua sebenarnya. Tapi kalau aku pikir ulang, beliau berdua ini selalu bernasib dan nasib sampai akhir selalu mujur. Sama sama kelahiran Sumatera, aku harus bangga seharusnya.
Begini, sejak dahulu yang namanya manusia yang bisa disebut dan aku kira udah mencapai tingkat "Jadi manusia", akan selalu menorehkan jejak yang layak ditelusuri sebagai nasehat bijak. Cukup kematian yang menjadi nasehat, dan tau kan gimana beliau berdua wafat? Semoga Allah Yang Maha Pengampun, memaafkan segala kesalahan beliau berdua.
Sayang, aku gak punya foto Bung Hatta ataupun Pak Nasution, setidaknya para penerus beliau berdua itu masih menyimpan harapan. Harus dicekoki sama karyanya Mas Andrea Hirata mereka itu, supaya punya rasa dedikasi yang super tinggi. Begini, jangan sampai aku jadi gila. Udah.
Seterusnya begini, kenapa nasib jenis orang seperti Bung Hatta dan Pak Nasution itu selalu mujur? Beliau berdua memiliki dedikasi yang udah gak bisa dijelaskan, saya sendiri sampai gak ada kata untuk membahasnya. Kesederhanaan dan sikap mengalah adalah yang paling aku bisa dapat dari jejak hidup beliau berdua. Jenis beliau berdua selalu dijaga oleh Tuhan Yang Maha Penyayang, selalu saja tidak pernah dilibatkan pada hal situasi yang bisa menyeret pada masalah yang memalukan. Padahal secara kemungkinan, beliau berdua sangat mungkin terlibat, tetapi Tuhan selalu cinta pada semua ciptaannya yang ... entah apa namanya, dari sejak tadi aku gak punya kata yang sempurna.
Terakhirnya begini, rasanya benar bahwa kita itu hidup untuk saling menasehati, kata menasehati itu sangat sensitif lho. Masalahnya begini, siapa yang layak dinasehati? Dan yang layaknya menasehati? Coba kalau saya menasehati Saddam Husein dulu waktu hidup, udah di bakar suratku pakai rokoknya. Harus diakui, nasehat terbaik adalah kematian. Coba kita lihat ke belakang, orang yang memiliki jejak hidup kurang ajar, akhir hayatnya pasti kasihan, belum lagi ada kemungkinan bahwa sebelum wafat, gila duluan. Jadi, siklusnya adalah, lahir-tumbuh-berkuasa-semena mena-gila-mati-dicaci. Kurang mujur ya nasibnya, itu semua tidak lebih adalah pelajaran untuk kita yang saat ini di fase tumbuh. Pada saatnya nanti, kita pasti berkuasa. Tinggalkan saja lah semuanya, daripada menyesal nantinya.
Seberapa kalian menjunjung prinsip? Filsafat kesederhanaan dan sikap mengalah harus menjadi tonggak jalan kita. Apa arti dari tonggak? Saya sendiri kurang jelas, kayaknya kata tonggak itu keren. Dulu kita punya pimpinan yang sangat berdedikasi. Bener kata siapa entah itu, hanya dengan beberapa orang saja kita mampu mengubah apa apa yang layak dirubah dari suatu sistem kepemimpinan. Katanya Jepang dulu cuma diurus oleh tidak lebih dari 100 orang yang sangat berminat pada sebuah kemajuan peradaban. Seberapa pentingnya apa yang saya sebut sebagai kemashyuran? Kemashuran? Kemasyhuran? Gimana nulisnya ini.
Ternyata aku bisa nulis panjang begini, dan lagi begini, saya baru tau bahwa setiap zaman itu membutuhkan jenis orangnya secara khusus. Ada musimnya kalau bahasa perkebunannya itu. Orang yang sederhana dan mengalah macam Bung Hatta ataupun Pak Nasution itu belum musimnya untuk saat ini. Dan ya biasanya musim manusia seperti beliau berdua itu gak lama, bikin kangen saja emang. Jika hidup adalah ujian, yang paling masuk akal memang begini. Coba kita pikir mendalam, nasib orang yang udah jadi "Manusia" itu selalu mencemaskan. Ditahan, diawasi, diinterogasi, dilarang begitu begini, dibuang pindah sana sini, sangat mujur kalau bisa wafat sampai usia lanjut.
Harus diakui, kita semua apalagi saya, sangat ingin punya pimpinan yang seperti Bung Hatta ataupun Pak Nasution, walau saat ini aku baru sadar bahwa manusia itu bisa kehilangan sisi manusianya jika udah memegang pucuk pimpinan. Harus kuat dan sabar, aku jadi males mau jadi presiden jadi nya. Kata "Jadi" itu memiliki kekuatan mistis yang unik bila kalian tau. Jadi, doronglah lidah bibir kita untuk supaya sesering mungkin melantunkan kata "Jadi". Jadi, kesannya akan seperti manusia jadi jadian. Kita sekalian ini emang dijadikan untuk menyadari bahwa kita itu cuma makhluk jadi jadian. Yang aslinya itu ya bukan kita sebenarnya. Aku bicara seperti tau saja begini, jadinya malah nggak jadi tulisan yang baku.
Oh iya satu lagi, bukan hanya sikap semena mena yang menjerumuskan kita pada nasib gila, jatuh cinta yang tak terwujud juga bisa membuat kita jadi gila. Jadi, jangan sampai jatuh cinta pada sesama jenis.
Ya aku hari ini mendapat pelajaran sangat menarik dari Bung Hatta dan Pak Nasution. Beliau berdua emang gak sesakti Gusdur, tapi dedikasi beliau berdua itu gak ada yang mampu memprotesnya.
Benar juga, saya harus mulai memikirkan dan mendalami kisah klasik bangsaku sendiri mulai sekarang. Lebih murni dan kaya nasehat. Aku akhirnya berpendapat, ...... gak ketemu.
Udah itu saja. Tadi aku baca cerpen tentang gadis yang jadi gila karena ditinggal wafat kekasihnya. Penulis sekarang udah mulai kelewatan kalau bikin ide cerita. Dedikasi para penulis saat ini udah gak bisa diukur lagi, semangat terus imajinasinya. Implikasinya nanti pasti unik.
The Introvert, Ridwan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Ternyata beginilah dan begitulah tepatnya, hidup. Tadinya aku mau nulis banyak hal tentang Bung Hatta ataupun Pak Nasution, malah buntu, apa yang mau aku tulis. Dulu saya pernah baca karangan beliau berdua sebenarnya. Tapi kalau aku pikir ulang, beliau berdua ini selalu bernasib dan nasib sampai akhir selalu mujur. Sama sama kelahiran Sumatera, aku harus bangga seharusnya.
Begini, sejak dahulu yang namanya manusia yang bisa disebut dan aku kira udah mencapai tingkat "Jadi manusia", akan selalu menorehkan jejak yang layak ditelusuri sebagai nasehat bijak. Cukup kematian yang menjadi nasehat, dan tau kan gimana beliau berdua wafat? Semoga Allah Yang Maha Pengampun, memaafkan segala kesalahan beliau berdua.

Sayang, aku gak punya foto Bung Hatta ataupun Pak Nasution, setidaknya para penerus beliau berdua itu masih menyimpan harapan. Harus dicekoki sama karyanya Mas Andrea Hirata mereka itu, supaya punya rasa dedikasi yang super tinggi. Begini, jangan sampai aku jadi gila. Udah.
Seterusnya begini, kenapa nasib jenis orang seperti Bung Hatta dan Pak Nasution itu selalu mujur? Beliau berdua memiliki dedikasi yang udah gak bisa dijelaskan, saya sendiri sampai gak ada kata untuk membahasnya. Kesederhanaan dan sikap mengalah adalah yang paling aku bisa dapat dari jejak hidup beliau berdua. Jenis beliau berdua selalu dijaga oleh Tuhan Yang Maha Penyayang, selalu saja tidak pernah dilibatkan pada hal situasi yang bisa menyeret pada masalah yang memalukan. Padahal secara kemungkinan, beliau berdua sangat mungkin terlibat, tetapi Tuhan selalu cinta pada semua ciptaannya yang ... entah apa namanya, dari sejak tadi aku gak punya kata yang sempurna.
Terakhirnya begini, rasanya benar bahwa kita itu hidup untuk saling menasehati, kata menasehati itu sangat sensitif lho. Masalahnya begini, siapa yang layak dinasehati? Dan yang layaknya menasehati? Coba kalau saya menasehati Saddam Husein dulu waktu hidup, udah di bakar suratku pakai rokoknya. Harus diakui, nasehat terbaik adalah kematian. Coba kita lihat ke belakang, orang yang memiliki jejak hidup kurang ajar, akhir hayatnya pasti kasihan, belum lagi ada kemungkinan bahwa sebelum wafat, gila duluan. Jadi, siklusnya adalah, lahir-tumbuh-berkuasa-semena mena-gila-mati-dicaci. Kurang mujur ya nasibnya, itu semua tidak lebih adalah pelajaran untuk kita yang saat ini di fase tumbuh. Pada saatnya nanti, kita pasti berkuasa. Tinggalkan saja lah semuanya, daripada menyesal nantinya.
Seberapa kalian menjunjung prinsip? Filsafat kesederhanaan dan sikap mengalah harus menjadi tonggak jalan kita. Apa arti dari tonggak? Saya sendiri kurang jelas, kayaknya kata tonggak itu keren. Dulu kita punya pimpinan yang sangat berdedikasi. Bener kata siapa entah itu, hanya dengan beberapa orang saja kita mampu mengubah apa apa yang layak dirubah dari suatu sistem kepemimpinan. Katanya Jepang dulu cuma diurus oleh tidak lebih dari 100 orang yang sangat berminat pada sebuah kemajuan peradaban. Seberapa pentingnya apa yang saya sebut sebagai kemashyuran? Kemashuran? Kemasyhuran? Gimana nulisnya ini.
Ternyata aku bisa nulis panjang begini, dan lagi begini, saya baru tau bahwa setiap zaman itu membutuhkan jenis orangnya secara khusus. Ada musimnya kalau bahasa perkebunannya itu. Orang yang sederhana dan mengalah macam Bung Hatta ataupun Pak Nasution itu belum musimnya untuk saat ini. Dan ya biasanya musim manusia seperti beliau berdua itu gak lama, bikin kangen saja emang. Jika hidup adalah ujian, yang paling masuk akal memang begini. Coba kita pikir mendalam, nasib orang yang udah jadi "Manusia" itu selalu mencemaskan. Ditahan, diawasi, diinterogasi, dilarang begitu begini, dibuang pindah sana sini, sangat mujur kalau bisa wafat sampai usia lanjut.
Harus diakui, kita semua apalagi saya, sangat ingin punya pimpinan yang seperti Bung Hatta ataupun Pak Nasution, walau saat ini aku baru sadar bahwa manusia itu bisa kehilangan sisi manusianya jika udah memegang pucuk pimpinan. Harus kuat dan sabar, aku jadi males mau jadi presiden jadi nya. Kata "Jadi" itu memiliki kekuatan mistis yang unik bila kalian tau. Jadi, doronglah lidah bibir kita untuk supaya sesering mungkin melantunkan kata "Jadi". Jadi, kesannya akan seperti manusia jadi jadian. Kita sekalian ini emang dijadikan untuk menyadari bahwa kita itu cuma makhluk jadi jadian. Yang aslinya itu ya bukan kita sebenarnya. Aku bicara seperti tau saja begini, jadinya malah nggak jadi tulisan yang baku.
Oh iya satu lagi, bukan hanya sikap semena mena yang menjerumuskan kita pada nasib gila, jatuh cinta yang tak terwujud juga bisa membuat kita jadi gila. Jadi, jangan sampai jatuh cinta pada sesama jenis.
Ya aku hari ini mendapat pelajaran sangat menarik dari Bung Hatta dan Pak Nasution. Beliau berdua emang gak sesakti Gusdur, tapi dedikasi beliau berdua itu gak ada yang mampu memprotesnya.
Benar juga, saya harus mulai memikirkan dan mendalami kisah klasik bangsaku sendiri mulai sekarang. Lebih murni dan kaya nasehat. Aku akhirnya berpendapat, ...... gak ketemu.
Udah itu saja. Tadi aku baca cerpen tentang gadis yang jadi gila karena ditinggal wafat kekasihnya. Penulis sekarang udah mulai kelewatan kalau bikin ide cerita. Dedikasi para penulis saat ini udah gak bisa diukur lagi, semangat terus imajinasinya. Implikasinya nanti pasti unik.
The Introvert, Ridwan
Komentar
Digunakan tapi nggak izin :(