Ketika ia merenungkan dirinya sendiri
ia tidak ada kini, dahulu atau nanti
karena ia dipahami bukan sebagai sesuatu yang ada
sebab ia melampaui segala sesuatu.
Akan tetapi,
jika disebabkan oleh sesuatu
yang tak terucapkan itu
ia jatuh ke dalam keberadaan.
Ia hanya ada didalam tatapan pikiran
hanya ia yang ada di dalam segala sesuatu,
dan ia ada kini,
dahulu,
dan nanti.
Tidaklah masuk akal untuk menyebut "Tiada"
Komentar