Langsung ke konten utama

"Sandiwara Cinta" dari Nike Ardilla

     Yang paling aku ingat dari beliau, Nike Ardilla adalah bahwa beliau ini sangat totalitas dalam dunia musik. Memiliki suara yang khas, yang saya dengar kayaknya memang beda dengan suara penyanyi cewek pada saat itu, walau secara lirik lagu juga sama seperti lainnya sih. Entah mengapa, mayoritas lirik sejak dahulu selalu berusaha menasihati para pendengar supaya lebih jeli masalah cinta. Tapi beda sama lagu daerah, lebih condong pada kekeluargaan. Apalagi kalau lagunya Didi Kempot, semuanya tentang patah hati. Akhir akhir ini aku menilai bahwa lirik lagu yang berisi tentang optimisme sangat sensitif di telinga, seolah si akal gak mau terima, harusnya setiap dari fiksi itu ya gak boleh terlalu realistik. Enak yang khayalan emang, untungnya aku ini kalau lagi dengar lagu pasti suka mengkhayal, terkena alunan syair dan melodinya. Lemah untuk ukuran seorang pria. Nasib jadi diri begini.

Ada sebuah lagu dari Nike Ardilla yang menyayat hati, semua lagu zaman beliau memang gak ada yang isinya kebahagiaan. Padahal kata ibuku, orang dahulu itu terhitung lebih bahagia, memang beginilah hidup, kalau realitanya bahagia, maka kita cenderung berimajinasi tentang kesengsaraan. Kalau realitanya susah, imajinasinya tentang segalanya hanya bahagia. Manusia memang makhluk yang cakap dalam menghibur. Padahal aslinya jahat lho kalau suka menghibur diri itu. Tapi ya layak dimaklumi,

Mengapa kau nyalakan api, cinta di hatiku
Membakar jiwa yang merana
Kata manismu membuatku, yakin kepadamu
Hingga membuatku terlena

Rindu padamu, setiap hari
Bayang dirimu, menggoda jiwa

     Ternyata, cinta itu energi. Bukan disengaja dinyalakan, tetapi ternyalakan oleh karena rayuan. Dan yang paling cermat dalam merayu hanyalah kami para pria. Padahal gak sedikit dari kalangan wanita yang pandai merayu. Dan mana ada yang kuat menahan rayuan wanita, kadang aku sampai berpikir bahwa wanita itu adalah iblis yang menjelma. Mungkin, hati wanita itu tercipta dari api.

     Oleh karena yang nyanyi adalah wanita, maka seolah kaum pria lah yang bejat. Ya ampun, bagaimana mungkin hidup cuma saling tuduh menjerumuskan? Yang adil itu seperti ungkapan yang umum kita dengar, semua orang ada potensi jahat dan baik. Oleh karena yang nulis saat ini adalah pria, maka aku tetap menjadi pelindung kaum ku sendiri. Kadang aku juga berpikir seperti apa yang terkandung dalam kalimat nyanyian tadi, maklum aku juga manusia. Walau aslinya kalau aku pikir mendalam, mana ada yang sampai tergoda dan sampai sebegitu rindu dan terbayangnya. Yang dibayangin itu lho apa? Apa yang tengah asyik dibanyangin juga membayangkan? Heran ujungnya aku kan.

     Sebagai manusia yang berakal, aku ini takut kalau sampai dikuasai akal. Walau ada yang bilang bahwa segala hal itu masuk akal dan akal pastilah sehat, tetapi untuk beberapa alasan, saya gak mau dipegang langsung oleh akal. Tetapi kayaknya akal itu sangat penting lho,

Mengapa kini kurasakan, lain di hatiku
Kau diam dan acuh tak acuh
Sering kau marah tanpa alasan
Membuatku curiga, terbukalah berterus terang
Apa maumu, katakan saja
Bila kau bosan, kau marah, kau benci katakan saja

     Nah begitu sangat nggak enaknya hubungan, ya kan udah dibilang sejak dulu, jangan ikuti nafsu. Lagian nggak banyak juga yang bisa membedakan mana nafsu dan mana akal sehat. Aku sendiri belum pernah mengalaminya sih, tapi ya emang menurut mereka yang udah terlanjur, rasa bosan, marah, dan benci itu adalah hal pasti dalam menjalani hubungan. Tinggal mengapa kita bosan, mengapa benci dan mengapa marah, semua harus ada alasan yang tepat. Dan ya begitu juga, kalau udah hidup bersama, pasti setan selalu memperlihatkan kepada kita keburukan pasangan, udah pasti itu. Ya ini aku lumayan cemas juga, kalau nggak saling paham tentang pola godaan setan, ya berantakan udah.

     Kadang sampai heran juga, mengapa diriku kalah sama setan. Padahal setan nggak sekolah, dia menikah juga nggak. Seolah malah lebih paham rutinitas hubungan ketimbang manusia itu sendiri. Bukan hanya pada pasangan, kadang godaan rasa bosan dan segala yang negatif juga menimpa antara anak dan orang tua, kadang sama teman setia juga. Nah, begitu menariknya hal tersebut, lebih baik kita pelajari tentang hal ini, rasa bosan, marah dan benci atas dasar peduli adalah baik, segeralah utarakan sebelum hari penyesalan. Tetapi jangan utarakan ketika rasa bosan, marah dan benci hanya berdasar pada penyudutan.

Nah, lumayan oke aku nulis kali ini.

Walau berat hatiku, melupakan dirimu
Jangan kau bersandiwara kepadaku
Bosan, mungkin itu sifatmu
Benci, bila ingat dirimu
Bosan, terserah apa maumu
Jalanku masih panjang

     Kalau umpama hal tersebut kejadian, ya setidaknya jangan utarakan larik terakhir itu. Jalanku masih panjang itu ungkapan penyesalan yang aslinya masih berharap. Ya kasihan emang, tapi mau gimana lagi, katanya wanita kalau udah kecewa pasti begitu keputusannya. Berapa gunung dosa yang dipikul pria atas hal tersebut? Lagian nggak semua pria sejahat itu, cuma sedikit yang begitu. Tetapi pria yang jahat model begitu pasti punya alasan yang spektakuler, nggak punya malu emang. Terus saja merayu, padahal ujungnya menipu. Andai aku tau, udah aku suruh pergi kerja paksa di pulau buru.

     Udah cukup itulah, mengapa diriku males lanjut nulis? Ya karena nggak happy ending sih, sebenernya bisa aja aku sandiwarakan supaya berakhir bahagia, tapi yang namanya sandiwara ya pasti nggak nyaman ujungnya. Sedang apa adanya adalah berat bagi pria, harusnya kaum pria itu membuang akalnya kalau tengah membahas dan menjalani cinta. Tapi kenapa nggak bisa coba, kan aneh


Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar