Jangan meneruskan perjalanan ke selatan, wilayah itu masih merupakan hutan lebat penuh semak belukar. Sejak dahulu, manusia selalu mengutamakan wilayah utara, dalam urutan kasta mata angin, tampak utara adalah puncak kedudukan. Katanya nanti yang merusak tatanan Nusantara itu berasal dari utara. Lagian mengapa juga si utara ini identik bener sama bagian atas. Bagaimana dengan pulau Jawa yang juga punya pantai utara dan pantai selatan? Apakah pantai utara lebih utama? Padahal wilayah selatan itu merupakan wilayah pemasok bahan pangan. Tanpa pangan, bagaimana kelanjutan peradaban? Entah mengapa wilayah yang menelurkan peralatan dan perlengkapan selalu lebih diutamakan. Mereka yang ada di sana juga bangganya minta ampun juga, heran juga.
Kalau aku amati, mereka mereka yang mengurus masalah pangan ini punya ketenangan dan berkah. Cuma karena ada sebagian manusia yang nggak mau menikmati proses panjang, maka urusan pangan jadi hal yang mengenaskan.
Karena
Kita orang Indonesia
Suka
menyingkat kata wr.wb
Maka
Rahmat dan berkah Ilahi
pun
Menjadi singkat
dan tidak utuh bagi kita
Urusan mulia seperti pangan, malah diurus oleh mereka yang tau nya cuma membalik tanah dan mereka yang tau nya untung uang. Udah selayaknya ilmu pangan menjadi yang utama diajarkan. Heran juga, mengapa sejak dahulu mereka yang mengurus pangan selalu terbelakang. Dan mereka juya nggak punya pikiran untuk menyimpan dan menikmati sendiri hasil kerjanya. Coba seumpama para penghasil pangan mogok jualan. Tapi sejak dahulu kala, pamor pangan masih kalah jauh dibanding uang ataupun perhiasan.
Yang paling parah lagi begini, penghasil pangan itu sukanya cuma kerja. Maka tanahnya dijual ke bos besar, lalu mereka banting tulang dan malah bangga jadi anak buahnya si bos besar, aneh kan?
Komentar