Langsung ke konten utama

Supaya Bisa Tekun


       Kenapa kita tidak memiliki sikap rajin? Karena kita percaya bahwa Tuhan sudah merencanakan masa depan kita. Kenapa kita berserah seperti itu kepada Tuhan? Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kenapa kita tidak tahu masa depan kita? Karena kita tidak percaya adanya masa depan. Kenapa kita tidak percaya? Karena bisa saja besok kita mati. Seribu alasan plus satu untuk membunuh sikap rajin, hanya untuk menutupi sikap malas kita, hanya untuk menunjukkan kealiman kita. Untuk apa kita rajin bekerja jika besok kita mati, bukankah lebih baik jika kita hidup hanya fokus untuk beribadah saja? Itu bisa membuat kita tenang dan bahagia. Walaupun kita rajin bekerja, itu hanya untuk memenuhi kebutuhan diri kita sendiri dan keluarga kita sendiri, bukankah hal itu merupakan sikap profesional dan bisa membuat orang lain merasa bahwa tanggungjawab hidup ini milik kita sendiri. Banyak alasan yang bisa menutup sikap malas kita, Indonesia tidak membutuhkan pemalas, tidak ada pemalas di dunia ini. Sampai aku harus bicara kasar begini coba...

Istirahat sejenak dulu : Sheila On 7 Terlalu Singkat



     Kita mulai rajin bekerja kali ini. Jangan banyak alasan hanya untuk menutupi sikap malas, lebih baik kita berjuang mengalahkan sikap malas, itu juga bisa dihitung sebagai sikap tekun. Kita tidak bisa makan jika kita tidak rajin bekerja, bukankah masih ada jalan, yaitu meminta belas kasihan pada orang yang tekun bekerja?, untungnya adalah; orang yang rajin bekerja pasti dermawan, bukankah ini bisa dimanfaatkan? Itulah jalan para pemalas. Bekerja dengan rajin adalah sikap paling mulia, tidak ada yang perlu menanyakan sikap ini, hanya saja yang mau mengakui jumlahnya sangat sedikit, itu mengapa sikap tekun membuat semua orang malas melakukannya, manusia memiliki sifat yang sangat buruk, yaitu sikap ingin mendapat sesuatu jika melakukan sesuatu. Bila dipikirkan, sikap rajin bekerja adalah investasi masa depan yang sangat menguntungkan, bukankah ini adalah peluang? Kita sering melakukan suatu pekerjaan, hanya saja kita melakukan itu hanya karena keterpaksaan, bekerja bukanlah sesuatu yang menyenangkan, tetapi jika kita menjunjung sikap rajin, maka kita akan merasakan bagaimana nikmatnya bekerja. Jika kita memikirkan hasil, maka kita akan sangat rajin bekerja, karena kita tahu bahwa hasil yang baik hanya bisa dicapai dengan proses yang menjunjung sikap tekun. Nah ini baru lumayan untuk dibaca, biasanya cuma kalimat nggak jelas arah tujuan pembahasan.

Teh + Yakult : Aku, Kita, dan Manusia

       Ketika bekerja, kita sering termakan suatu propaganda; ‘Proses lebih baik daripada hasil!’. Jika kita amati, sebenarnya jika kita fokus dengan proses, kita akan bekerja dengan semestinya, tanpa memikirkan hasil akhir, kita hanya memikirkan yang penting prosesnya berjalan lancar. Dengan lancarnya proses maka hasil sudah pasti datang, bagaimana jika hasilnya melenceng dari target awal? Inilah intinya, fokus kita harus pada seberapa rajin kita, proses yang baik akan menelurkan hasil yang baik, sialnya adalah, hasil merupakan sesuatu yang belum jelas, itu mengapa kita sering terlena, hanya melakukan proses dengan semestinya. Yakinlah, jika kita tekun dalam prosesnya, maka hasilnya akan membuat kita puas. Silahkan dipikir sampai matang, lalau segera coba laksanakan!

Makan malam : Mungkin Nanti?

      Rajin bekerja akan membawa kita pada kejayaan. Kita tidak boleh menjunjung sikap rajin hanya untuk kepuasan kita sendiri, walaupun orang lain sering memanfaatkan sikap rajin kita, itu bukan sesuatu yang bisa membuat kita menyalahkan orang lain dan menghentikan sikap rajin kita. Sikap rajin hanya bisa lahir ketika kita sadar akan keadaan kita, walaupun kita tahu bahwa masa depan adalah misteri, tetapi jika kita hanya berserah tanpa rajin, maka hal itu hanya akan membuang waktu. Tekunlah bekerja, bukan karena kita tahu bahwa suatu saat nanti kita akan mendapat balasannya, balas atau tidak dibalas, sikap tekun harus menyatu dengan jiwa kita. Kita rajin karena kita ingin kejayaan bersama di masa depan. Indonesia tidak membutuhkan pemalas, dan sialnya, pemalas akan selamanya memanfaatkan yang rajin.


      Bisa dikatakan, jika kita rajin, maka kita secara otomatis membantu para pemalas, biarlah pemalas menjunjung sikap malasnya dan berserah akan masa depannya. Yang pasti, jika kita rajin bekerja maka kita akan menyebarkan virus ketekunan. Semoga situasi bisa membuat para pemalas menyadari pentingnya sikap tekun dalam bekerja.

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar