Sarapan bubur itu jujur : Diam dan bernafas!
Bayangkan ada jutaan lampu listrik yang mengelilingi sebuah kota menakjubkan tanpa pernah kehabisan bahan bakar. Bukankah hal ini memperlihatkan bahwa terdapat seorang tukang andal dan ahli listrik yang genius pada pabrik listrik dan lampu itu?
Nah, lampu bintang gemintang yang berada di atap istana bumi di mana menurut ilmu astronomi ribuan kali lebih besar dibanding bumi dan lebih cepat dibanding peluru tanpa pernah merusak sistem, berbenturan, padam, dan kehabisan bahan bakar sebagaimana yang kalian pelajari, semua itu lewat jari jemari cahaya menunjukkan kuasa Penciptanya yang tak terbatas. Matahari, misalnya, yang sejuta kali lebih besar dari planet bumi dan sejuta kali lebih tua darinya, merupakan lampu lentera yang permanen serta tungku perapian abadi bagi negeri jamuan Tuhan (bumi). Untuk tetap menjaga nyalanya setiap hari diperlukan bahan bakar sebanyak lautan bumi, arang sebanyak gunung-gunungnya, dan kayu bakar yang jumlahnya seribu kali bumi. Namun, yang menyalakannya—sekaligus menyalakan seluruh bintang lain sejenisnya—tanpa bahan bakar, arang, minyak, dan tanpa pernah padam, serta yang menjalankannya dengan sangat cepat secara bersamaan tanpa pernah berbenturan adalah kodrat yang tak terhingga dan kekuasaan agung yang tak bertepi.
Duplikat mengikat : Risalah Nur ...
Jagat raya ini berikut sejumlah lampu terang di dalamnya, sesuai ilmu kelistrikan yang kalian pelajari, dengan jelas menerangkan keberadaan Penguasa galeri agung di atas. Ia memperkenalkan keberadaan Zat Penerang, Pengatur, dan Penciptanya yang agung lewat kesaksian bintang-gemintang yang bersinar. İa juga membuat-Nya dicintai oleh semua dengan disertai pujian, tasbih, dan penyucian. Bahkan, ia mengantarkan mereka untuk beribadah kepada-Nya.
Inilah sebuah nasehat dari Bediuzzaman Said Nursi pada kita sebagai generasi muda, seperti yang kita ketahui bahwa generasi muda saat ini sangat mengagumi pola pikirannya sendiri, hingga over dan merendahkan sang Maha Kuasa. Budaya sekuler benar-benar telah menguasai kebanyakan generasi muda saat ini. ketidakpedulian akan menjalankannya dengan tekun apa yang paling penting dalam hidup ini perlahan memudar. Semoga kembali terang setelah kita merenungi Risalah Nur karya monumental Bediuzzaman.
The Introvert
Bayangkan ada jutaan lampu listrik yang mengelilingi sebuah kota menakjubkan tanpa pernah kehabisan bahan bakar. Bukankah hal ini memperlihatkan bahwa terdapat seorang tukang andal dan ahli listrik yang genius pada pabrik listrik dan lampu itu?

Nah, lampu bintang gemintang yang berada di atap istana bumi di mana menurut ilmu astronomi ribuan kali lebih besar dibanding bumi dan lebih cepat dibanding peluru tanpa pernah merusak sistem, berbenturan, padam, dan kehabisan bahan bakar sebagaimana yang kalian pelajari, semua itu lewat jari jemari cahaya menunjukkan kuasa Penciptanya yang tak terbatas. Matahari, misalnya, yang sejuta kali lebih besar dari planet bumi dan sejuta kali lebih tua darinya, merupakan lampu lentera yang permanen serta tungku perapian abadi bagi negeri jamuan Tuhan (bumi). Untuk tetap menjaga nyalanya setiap hari diperlukan bahan bakar sebanyak lautan bumi, arang sebanyak gunung-gunungnya, dan kayu bakar yang jumlahnya seribu kali bumi. Namun, yang menyalakannya—sekaligus menyalakan seluruh bintang lain sejenisnya—tanpa bahan bakar, arang, minyak, dan tanpa pernah padam, serta yang menjalankannya dengan sangat cepat secara bersamaan tanpa pernah berbenturan adalah kodrat yang tak terhingga dan kekuasaan agung yang tak bertepi.
Duplikat mengikat : Risalah Nur ...
Jagat raya ini berikut sejumlah lampu terang di dalamnya, sesuai ilmu kelistrikan yang kalian pelajari, dengan jelas menerangkan keberadaan Penguasa galeri agung di atas. Ia memperkenalkan keberadaan Zat Penerang, Pengatur, dan Penciptanya yang agung lewat kesaksian bintang-gemintang yang bersinar. İa juga membuat-Nya dicintai oleh semua dengan disertai pujian, tasbih, dan penyucian. Bahkan, ia mengantarkan mereka untuk beribadah kepada-Nya.
Inilah sebuah nasehat dari Bediuzzaman Said Nursi pada kita sebagai generasi muda, seperti yang kita ketahui bahwa generasi muda saat ini sangat mengagumi pola pikirannya sendiri, hingga over dan merendahkan sang Maha Kuasa. Budaya sekuler benar-benar telah menguasai kebanyakan generasi muda saat ini. ketidakpedulian akan menjalankannya dengan tekun apa yang paling penting dalam hidup ini perlahan memudar. Semoga kembali terang setelah kita merenungi Risalah Nur karya monumental Bediuzzaman.
The Introvert
Komentar