Langsung ke konten utama

Puisi Madu


Di malam yang sesunyi ini
aku sendiri
tiada yang menemani....

Madu jamu : Ari Lasso untuk Arti Cinta 

   Begitu kalimat dari kisah cinta Chrisye yang cocok untuk suasana malamku saat ini. Sebenarnya aku malu nulis bait dari Chrisye tadi, tapi udah terlanjur ya sudah, Seppuku aja nanti. Aku sadar bahwa saat situasi macam ini, paling riskan untuk merangkai puisi. Aku lupa, seperti apa situasiku saat itu, apakah memang aku ini sangat terpengaruh lingkungan sekitar? Harusnya aku yang memengaruhi. Tetapi karena dorongan jiwaku, tak ada alasan lain untukku tidak mempublikasikan sebuah puisi. Tentunya seperti biasa, aku tak mampu membuat keputusan mengenai judul puisi ini.

     Tema tetap pada percintaan, karena di mana ada cinta, di situ pula lahir sastra. Jadi, si cinta kalau mau menikah, anaknya pasti namanya sastra. Seperti Dewi Gangga yang melahirkan Bhisma. Lagipula saat ini momen hidupku tengah mempropagandakan produk cinta. Baiklah, berikut adalah puisi dariku untuk dikau wahai kekasih, lama aku tak berjumpa denganmu. Setelah aku pikir kembali, siapa makhluk yang aku jadikan ladang imajinasi di sini? Apakah dia sudah mati? Dengan bait puisi dariku ini, berharap kau selesaikan urusanmu denganku. Seperti Dewi Amba yang merindukan kesetiaan dan kemurnian cinta Bhisma Yang Agung. Entah apa yang aku bicarakan di sini. Sampai aku kasih gambar sepasang manusia yang ditakdirkan bersama pula coba... bukannya aku terlalu berlebihan dalam berimajinasi? Lagipula, siapa yang musti aku salahkan? Nggak ada!

Waduh : Pernikahan dan aku?


Merindu!
Jangan tanya kisah asmara
dirimu juga sama,
iya, kan?

Ulasan hantu mereka itu
Kisah cintaku perlahan melayu
Cuma terngiang rasa rindu.
Terus merindu!
Dan terus begitu.

pernah kalah sesekali,
Berulangkali giliranmu!
Apa kau masih pongkah!
Tolong bebaskan aku!

Kau coba hidangkan nasi,
aku ingin bubur saja!
nona yang kurindukan!
Dalam sungguh rinduku ini

Andai kau mati saja
Semua baik-baik saja.


The Introvert
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar