Mari kita baca dengan seksama, bagaimana Mbah Nun memerincikan tentang uang, yang beliau namakan sebagai uwang. Sebuah penerbitan kawan-kawan kita di sana memuat hasil omong-omong mereka dengan "Pak Lurah"-nya:
"Apa orang Jerman suka rokok kretek, ya? ah, tak seperti di Holland, rokok kretek sudah dikenal, jadi pasarannya bagus, sayang, padahal saya punya kenalan namanya R, sudah bilang kepada saya akan mengirim rokok kretek sebanyak saya mau. Si R itu masa mudanya seperti kalian juga dan otaknya pinter dagang. Lho, sebenarnya bisnis di Jakarta itu mudah, asal punya kreasi dan inisiatif. Banyak kenalan saya misalnya, ada yang bisnis belut, dia beli belut dari petani dengan harga 100 rupiah seekor, lalu eksportir datang ke dia membeli belut misalnya harga 150 rupiah seekor. Sehari bisa 10 ton terjual. Jadi, bisa saudara bayangkan berapa uang yang masuk ke dia."
"Orang bilang di Jakarta itu susah cari kerja. Padahal, sebenarnya mudah, asal punya kreasi dan relasi. Di Jakarta masih banyak yang bisa kita bikin bisnis. Seperti misalnya salon kecantikan. Di mana-mana pun orang kepengen tampil cantik, baik laki-laki maupun perempuan. Di Jakarta, salon kecantikan tumbuh di mana-mana, seperti jamur. Ada seorang nona pernah sekolah di London, lalu dia buka tempat mandi lilin di Jakarta. Caranya seluruh badan dibungkus dengan lilin. Wah, langsung orang antre deh, ibu-ibu yang gede-gede itu langsung pada datang ke sana, duit masuk ke nona itu berjuta-juta."
"Pokoknya, di Jakarta semua ada dan banyak. Asal kita tahu apa yang belum ada dan mendapat banyak pasaran. Jangan cuma ikut-ikut apa yang sudah ada saja. Pernah lihat gambar-gambar kecil di sampul buku? Kenalan saya kerjanya ya cuma ngurus itu saja. Dia punya mesin cetak sendiri, untuk sekali cetak satu gambar 10 rupiah. Pesanan yang masuk banyak. Waktu saya datangi, sambil ngobrol dia mencetak: sepuluh rupiah, sepuluh rupiah ... sepuluh rupiah ... tapi kali berapa puluh rupiah! Sama saja dengan mencetak uang!"
"Saya sendiri juga sudah pikir-pikir, lho. Di Jakarta nanti saya akan bisnis pariwisata. Wah, itu bisa maju. Kita bisa bikin hotel-hotel untuk turis. Ketika saya pulang, saya akan buka hotel kecil-kecilan di dekat lapangan udara. Sasarannya untuk pedagang dari luar Jawa. Di depan hotel saya sediakan warung Padang, juga tempat sembahyang di kamar-kamar. Kan orang di luar Jawa itu umumnya taat beragama. Sehari 20.000 rupiah sih pasti masuk. Yang kerja di situ ya famili saya saja, seperti Cina juga, semua yang kerja famili sendiri ...."
"Saya ini kan bisnismen, di Jakarta saya juga bisa bisnis bola lampu. Pada masa pembangunan ini, juga banyak pabrik pupuk yang butuh banyak kantong plastik juga. Lho, apalagi istri saya juga pebisnis, istri saya mirip Cina, kalau di Glodok sering dipanggil Tacik. Wah, saya ini punya banyak relasi, hampir semua menteri saya kenal, dan itu penting untuk bisnis. Contohnya begini, saya ini kan banyak bisnis dengan orang Cina, suatu hari ada seorang Cina datang kepada saya, butuh pinjaman uang 50 juta. Wah, tentu saja saya nggak punya dong, lalu saya pergi ke bekas teman saya di Hollad dulu. Saya tanya sama dia, Jadi, ada you sekarang? Dia jawab, ada enggak uang lembaran 10.000? kalau ada tolong lihat tanda tangan di situ. Itu tanda tangan saya! Saya tertawa, dan saya lalu bilang, tapi kan you bisa jadi gubernur di situ berkat pilihan kami!"
"Nah, sekarang baru tahu kan, saya ini kerja di badan yang menentukan siapa yang duduk di pos mana-mana! Selain itu, Liem Swie Liong dan lain-lain juga kenalan saya ...!"
"Masa depan Indonesia itu cukup baik, kalau bisa di Indonesia nanti you bikin bisnis sama saya. Saudara-saudara sebagai orang muda yang penuh semangat dan kreatif pasti mudah untuk bisnis. Di sini juga bisa lihat-lihat kita bikin bisnis apa. Banyak juga yang datang sama saya untuk kerja sama sama saya. Misalnya, suami istri dokter itu pernah nawarin saya bisnis senjata. Saya langsung telepon, tentara Indonesia masih butuh perlengkapan apa saja. Ah, tapi itu kan senjata. Kalau saya sih lebih suka nyimpan duit dalam bentuk dollar. Rupiah kan tidak stabil, lagi pula diperbolehkan juga menyimpan uang dalam valuta asing di Indonesia.!"
Demikianlah, sekedar satu contoh kecil. Saya kira hal tersebut adalah kursus kewiraswastaan yang baik. Soalnya di luar negeri tidak ada fakultas wiraswasta. Lurah kita sangat tahu apa yang paling dibutuhkan oleh para penduduknya. Di samping itu, di negeri Astinapura, orang tidak mau membatasi diri untuk sekedar berfungsi bagi bangsa dan negaranya. Dursasana pun juga sibuk berdagang. Apalagi Aswatawa, anak pendeta Durna dengan seekor kuda itu.
Sebenarnya, tulisan-tulisan beliau nggak ada yang aku pahami. Kalaupun diriku paham, hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk diriku diam. Cuma bisa mengamati dengan sendiri, apakah benar apa yang dibicarakan oleh Mbah Nun? Dan kalau pun benar, diriku males melakukan sesuatu. Karena bagiku, kehidupan bernegara adalah hiburan paling ramai dan paling menyenangkan dalam kehidupan dunia nih, gimana nggak gitu coba, kita disuguhi banyak aksi drama, yang sebenarnya hanyalah bersifat manja doang. Ruwet bener.

Komentar