Kita saat ini berbicara tentang menjadi manusia yang benar benar makhluk yang dicipta. Para kaum yang suka dengan hal mistis, tentu saja sangat menyukai tema penciptaan ini. Walau sebenarnya kadang aku malah gak begitu puas dengan anggapan kaum penyuka mistis, mereka terlalu indiviual sih menurutku. Masalahnya adalah bahwa jika kita tidak memikirkan hal penciptaan ini, maka hanya akan mengetahui kenyataan-kenyataan tersebut setelah kita mati. Tadi diriku mengikuti prosesi pemakaman sesepuhku, diriku merasa sangat aneh dan was was. Apa yang terjadi adalah bahwa jasad kita yang kita banggakan saat ini ternyata sangat nggak berharga, cuma dibuang seperti barang menjijikkan. Lalu, bagaimana nasib Ruh ketika udah selesai urusan di dunia? Yakni ketika Ruh mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah. Begitu diriku sangat khawatir dengan hal tersebut, ternyata penciptaan kita bukanlah sekedar senda gurau. Apalagi nanti setelah semua itu, bahwa pada hari penghisaban, tiap dari kita akan berpikir dan menyaksikan kebenaran atau kenyataan yang saat ini kita penasaran dibuatnya. Ada yang lega senang oleh sebab sesuai perkiraan, dan nggak sedikit yang terkejut.
Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk
kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami segala macam kebenaran, hal tersebut tentu akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Yakinilah bahwa kehidupan yang asli itu ya di akhirat kelak. Tetapi dari data yang aku dapat, ada banyak gambaran tentang kehidupan setelah ini, sebenarnya diriku mau cari buku yang mengupas tuntas tentang Ruh. Tetapi kadang diriku takut juga sih, membayangkan bagaimana kebenarannya, adalah hal yang wajar jikalau harusnya diriku berpikir bahwa gak ada pentingnya memikirkan kelanjutan dari diri ini, tampaknya diriku masih begitu terkontaminasi dengan anggapan bahwa diriku ini benar benar penting dan ingin menjadi penting setidaknya. Dengan alasan inilah, Gusti Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya tempat kita diuji. Diriku sangat yakin bahwa kita di sini itu benar benar diuji, sangat aneh kalau membayangkan bagaimana kita diciptakan dan lalu diuji. Bukanlah hal yang mampu aku jangkau, setidaknya diriku masih bertanya tanya, mengapakah aku gak pernah memahaminya?
Pernahkah kita memikirkan bahwa kita tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini? dan kita telah
diciptakan dari sebuah ketiadaan? Bayangin bagaimana awal dari kita ini? Dan mengapa setiap dari kita gak ada yang sama baik secara fisik maupun mental. Dan sejak kapan aku memikirkan tentang mental, hingga kadang diriku heran bukan main, kok bisa ya. Dan anehnya adalah mengapa setiap kali kita saling bertemu, ada perasaan ingin menyapa tetapi kadang ingin menjauh juga, padahal Pencipta kita adalah sama, hanya karena kita diciptakan berbeda, kita jadi canggung akhirnya. Pernah gak kita menebak pikiran orang lain, dan apakah kita sangka orang lain juga nggak menebak pikiran kita? Apakah saling memikirkan sesama kita adalah bentuk ujian tertinggi? Yang mana hal tersebut bisa membuat kita menghilangkan fokus pikiran kita yang harusnya memikirkan yang menciptakan kita.
Pernahkan kita berpikir bagaimana bunga yang setiap hari kita lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni? Bukan hanya manusia, dari mana sketsa bunga? Mengapa bentuk dan aromanya seperti yang kita ketahui sekarang? Dan aneh lagi adalah bahwa gak ada juga aroma bunga yang sama, bayangin coba. Mungkin kalau orang barat yang merenunginya, maka mereka dengan lancangnya mengambil posisi Gusti Allah. Diriku sebenarnya heran juga, dari mana nama setiap bunga yang saat ini kita sepakati ini? Apakah gimana ya, kalau bunga bangkai, mungkin masuk akal namanya begitu karena aromanya emang macam bangkai. Tetapi kalau bunga Melati, coba gimana asal muasalnya coba, bahkan ada manusia yang namanya adalah Melati. Yang membuatku khawatir adalah bahwa apa apa yang ada di bumi ini adalah hasil evolusi. Bagaimana bisa sampai seperti saat ini adalah hasil seleksi alam yang begitu menakjubkan. Tahan, aku mau memikirkan tentang bagaimana naluri manusia yang inginnya adalah berguna.
Pernahkan kita memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari diri kita, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya? Jika memang nyamuk juga termasuk hasil seleksi sebuah evolusi, bayangin gimana sesepuhnya para nyamuk. Tetapi yang mengherankan dari seekor nyamuk adalah tingkah lakunya yang gak mau ambil pusing. Gak peduli nanti gimana, yang penting adalah ikut nalurinya. Apakah bijak jikalau kita coba mengikuti rekam jejak para nyamuk itu? Apa yang dipikirkan nyamuk adalah apa yang juga ingin aku pikirkan, sayangnya adalah diriku belum yakin apakah diriku memiliki keberanian setangguh itu. Diriku tampaknya mulai tertarik dengan pola tingkah satu makhluk yang di belah jadi dua, gimana hubungan pria dan wanita, aku sangat ingin menginterogasi sebanyak mungkin wanita, tetapi kadang gak sesuai dengan apa yang aku ingin, tampaknya adalah bahwa kaum Hawa adalah yang paling sensitif dalam hal pola kerja otaknya.
Pernahkan kitaa berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika kita sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota kita hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja kita pun kehilangan segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini? Sebenarnya kita punya apa di dunia ini? Kita muncul dari rahim ibu hanya sebatang tubuh dengan isian Ruh luar biasa, cuma itu. Diriku juga kadang heran, kita gak langsung paham setelah ada di dunia ini, kita harus mengisi segala apa yang kita amati pelajari sampai kita tau dengan sendirinya. Itupun juga bukan kita yang murni tau, kita cuma diberitau sama senior kita, dan anehnya adalah kita setuju. Bersyukur sajalah oleh karena saat kita selesai urusan di sini, kita diperbolehkan membawa setidaknya kain cukup untuk menutup badan. Pernah bayangin nggak ketika lahir kita langsung membawa apa gitu, yang mana hal itu adalah apa yang menjadi fokus hidup kita. Lahir langsung bawa istri misal, kan aneh. Yang jelas adalah, diriku ingin bertanya pada Tuhanku tentang bagaimana segalanya tentang diriku, tetapi alangkah lancang bahwa menganggap bahwa diriku layak untuk diberitahukan tentang segalanya tentang diriku. Apa yang dipikirkan Ruh yang bersemayam dalam diriku saat ini? Apakah diriku bersemayam dalam Ruh, ataukah Ruh sangat tersiksa kala aku ingin tau kebenarannya, oleh karena kata para penyuka alam gaib, bahwa Ruh adalah makhluk surga, tentu saja gak sesuai hidup di dunia yang segalanya adalah fana. Seperti apakah bentuk Ruh ku saat ini? Apakah dia juga berubah seperti perubahan fisikku? Adalah hal yang gak mampu aku jangkau, diriku saat ini adalah Ruh itu sendiri, ataukah Ruh ini hanya meminjam diriku untuk menjalani ujiannya? Mengapa aku mulai memikirkan tentang keberadaan diriku? Siapa diantara kita yang ada wahai Ruh? Saat aku berbicara sendirian, seolah ada dan emang ada yang menjawab, siapakah dia? Adalah hal yang unik bahwa setiap jawaban adalah baik. Ruh, maafkanlah diriku yang penuh nafsu ini, engkau niscaya yang harus menghadap nantinya, demi mempertanggungjawabkan segala apa yang dilakukan diriku yang sejatinya engkau pedulikan ini, terima kasih sekali lagi, andai kita bisa bertemu nanti, dirimu yang begitu baik dan diriku yang hanya tau berbuat yang fasik.
Padahal Allah telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia. Berpikir atau merenung untuk
kemudian mengambil kesimpulan atau pelajaran-pelajaran dari apa yang kita renungkan untuk memahami segala macam kebenaran, hal tersebut tentu akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan di akhirat kelak. Yakinilah bahwa kehidupan yang asli itu ya di akhirat kelak. Tetapi dari data yang aku dapat, ada banyak gambaran tentang kehidupan setelah ini, sebenarnya diriku mau cari buku yang mengupas tuntas tentang Ruh. Tetapi kadang diriku takut juga sih, membayangkan bagaimana kebenarannya, adalah hal yang wajar jikalau harusnya diriku berpikir bahwa gak ada pentingnya memikirkan kelanjutan dari diri ini, tampaknya diriku masih begitu terkontaminasi dengan anggapan bahwa diriku ini benar benar penting dan ingin menjadi penting setidaknya. Dengan alasan inilah, Gusti Allah mewajibkan seluruh manusia, melalui para Nabi dan Kitab-kitab-Nya, untuk memikirkan dan merenungkan penciptaan diri mereka sendiri dan jagad raya tempat kita diuji. Diriku sangat yakin bahwa kita di sini itu benar benar diuji, sangat aneh kalau membayangkan bagaimana kita diciptakan dan lalu diuji. Bukanlah hal yang mampu aku jangkau, setidaknya diriku masih bertanya tanya, mengapakah aku gak pernah memahaminya?
Pernahkah kita memikirkan bahwa kita tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini? dan kita telah
diciptakan dari sebuah ketiadaan? Bayangin bagaimana awal dari kita ini? Dan mengapa setiap dari kita gak ada yang sama baik secara fisik maupun mental. Dan sejak kapan aku memikirkan tentang mental, hingga kadang diriku heran bukan main, kok bisa ya. Dan anehnya adalah mengapa setiap kali kita saling bertemu, ada perasaan ingin menyapa tetapi kadang ingin menjauh juga, padahal Pencipta kita adalah sama, hanya karena kita diciptakan berbeda, kita jadi canggung akhirnya. Pernah gak kita menebak pikiran orang lain, dan apakah kita sangka orang lain juga nggak menebak pikiran kita? Apakah saling memikirkan sesama kita adalah bentuk ujian tertinggi? Yang mana hal tersebut bisa membuat kita menghilangkan fokus pikiran kita yang harusnya memikirkan yang menciptakan kita.
Pernahkan kita berpikir bagaimana bunga yang setiap hari kita lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni? Bukan hanya manusia, dari mana sketsa bunga? Mengapa bentuk dan aromanya seperti yang kita ketahui sekarang? Dan aneh lagi adalah bahwa gak ada juga aroma bunga yang sama, bayangin coba. Mungkin kalau orang barat yang merenunginya, maka mereka dengan lancangnya mengambil posisi Gusti Allah. Diriku sebenarnya heran juga, dari mana nama setiap bunga yang saat ini kita sepakati ini? Apakah gimana ya, kalau bunga bangkai, mungkin masuk akal namanya begitu karena aromanya emang macam bangkai. Tetapi kalau bunga Melati, coba gimana asal muasalnya coba, bahkan ada manusia yang namanya adalah Melati. Yang membuatku khawatir adalah bahwa apa apa yang ada di bumi ini adalah hasil evolusi. Bagaimana bisa sampai seperti saat ini adalah hasil seleksi alam yang begitu menakjubkan. Tahan, aku mau memikirkan tentang bagaimana naluri manusia yang inginnya adalah berguna.
Pernahkan kita memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari diri kita, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya? Jika memang nyamuk juga termasuk hasil seleksi sebuah evolusi, bayangin gimana sesepuhnya para nyamuk. Tetapi yang mengherankan dari seekor nyamuk adalah tingkah lakunya yang gak mau ambil pusing. Gak peduli nanti gimana, yang penting adalah ikut nalurinya. Apakah bijak jikalau kita coba mengikuti rekam jejak para nyamuk itu? Apa yang dipikirkan nyamuk adalah apa yang juga ingin aku pikirkan, sayangnya adalah diriku belum yakin apakah diriku memiliki keberanian setangguh itu. Diriku tampaknya mulai tertarik dengan pola tingkah satu makhluk yang di belah jadi dua, gimana hubungan pria dan wanita, aku sangat ingin menginterogasi sebanyak mungkin wanita, tetapi kadang gak sesuai dengan apa yang aku ingin, tampaknya adalah bahwa kaum Hawa adalah yang paling sensitif dalam hal pola kerja otaknya.
Pernahkan kitaa berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika kita sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota kita hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja kita pun kehilangan segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini? Sebenarnya kita punya apa di dunia ini? Kita muncul dari rahim ibu hanya sebatang tubuh dengan isian Ruh luar biasa, cuma itu. Diriku juga kadang heran, kita gak langsung paham setelah ada di dunia ini, kita harus mengisi segala apa yang kita amati pelajari sampai kita tau dengan sendirinya. Itupun juga bukan kita yang murni tau, kita cuma diberitau sama senior kita, dan anehnya adalah kita setuju. Bersyukur sajalah oleh karena saat kita selesai urusan di sini, kita diperbolehkan membawa setidaknya kain cukup untuk menutup badan. Pernah bayangin nggak ketika lahir kita langsung membawa apa gitu, yang mana hal itu adalah apa yang menjadi fokus hidup kita. Lahir langsung bawa istri misal, kan aneh. Yang jelas adalah, diriku ingin bertanya pada Tuhanku tentang bagaimana segalanya tentang diriku, tetapi alangkah lancang bahwa menganggap bahwa diriku layak untuk diberitahukan tentang segalanya tentang diriku. Apa yang dipikirkan Ruh yang bersemayam dalam diriku saat ini? Apakah diriku bersemayam dalam Ruh, ataukah Ruh sangat tersiksa kala aku ingin tau kebenarannya, oleh karena kata para penyuka alam gaib, bahwa Ruh adalah makhluk surga, tentu saja gak sesuai hidup di dunia yang segalanya adalah fana. Seperti apakah bentuk Ruh ku saat ini? Apakah dia juga berubah seperti perubahan fisikku? Adalah hal yang gak mampu aku jangkau, diriku saat ini adalah Ruh itu sendiri, ataukah Ruh ini hanya meminjam diriku untuk menjalani ujiannya? Mengapa aku mulai memikirkan tentang keberadaan diriku? Siapa diantara kita yang ada wahai Ruh? Saat aku berbicara sendirian, seolah ada dan emang ada yang menjawab, siapakah dia? Adalah hal yang unik bahwa setiap jawaban adalah baik. Ruh, maafkanlah diriku yang penuh nafsu ini, engkau niscaya yang harus menghadap nantinya, demi mempertanggungjawabkan segala apa yang dilakukan diriku yang sejatinya engkau pedulikan ini, terima kasih sekali lagi, andai kita bisa bertemu nanti, dirimu yang begitu baik dan diriku yang hanya tau berbuat yang fasik.
Oke, siapa manusia itu?
Komentar