Alkisah, ada seorang raja manusia bernama Prabu Hari. Ia berkuasa di Keling tanah Hindu. Dan tentu saja, sang Prabu sangat tersohor akan kebijaksanaannya serta kebaikan hatinya. Pada suatu hari sang Prabu Hari mendengar kabar bahwa di puncak Gunung Tunggal ada seorang yang bernama Sang Hyang Wenang yang berbuat aneh aneh membut kahyangan surga, yang mengaku sebagai Kang Amurbeng Alam. Sang Prabu Hari pun marah. Lantas, beliau kemudian menengok keadaan Gunung Tunggal, tanpa diringi oleh bala tentaranya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada zaman dahulu? Ada banyak begitu penjelasan seolah zaman dulu sangatlah penuh intrik ilmu kebatinan, pada kenyataannya adalah bahwa wabah kelaparan dan kurangnya ilmu pengolahan tanah adalah yang mengerikan. Menikmati penderitaan adalah keseharian para leluhurku, hanya sedikit cerita yang seolah menafikkan hal tersebut. Segalanya dibuat seolah baik baik saja, ya tentu saja karena yang diceritakan adalah kehidupan kaum bangsawan. Coba saja tengok bagaimana yang terjadi saat ini. Tetapi tentu saja, yang paling nikmat adalah menderita di bawah bayang bayang kesyukuran. Cerita kebangsawanan adalah rumus dialektika yang sangat sempurna bagi diriku.
Sesampainya di Gunung Tunggal, kemudian adu kesaktian dan kepandaian dengan Sang Hyang Wenang. Tetapi sang Prabu Hari kalah, dengan kekalahan tersebut kemudian ia dan seluruh bala tentara dan rakyatnya tunduk takluk kepadanya. Orang orang Keling semua sama sama tunduk patuh kepada Sang Hyang Wenang. Adapun sang putri Prabu Hari yang bernama Dewi Sohati dipersembahkan sebagai upeti. Dan hal tersebut menjadikan senangnya hati Sang Hyang Wenang, selanjutnya udah bisa ditebak bahwa Dewi Sohati dijadikan sebagai istrinya.
Dasar pisang goreng, sejak dahulu ternyata masalah akan beres dan juga masalah akan runyam kalau wanita jadi latar utamanya. Ternyata hidup ini hanya masalah wanita, tapi memang ada kalanya bahwa wanita adalah inti utama dalam hal makhluk. Segala yang tampak pada wanita adalah pasti menarik, itulah yang menjadi ujian hidup yang utama. Kepincut wanita adalah seperti terkena rayuan dunia. Sebenarnya adalah bahwa kita ini pemimpinnya, jadinya nggak pas kalau sampai kita yang malah diatur seenaknya oleh si dunia. Lagian udah sejak dahulu sebelum jadi, si dunia emang ditugasi untuk menjajah para penghunianya. Setelah terjajah, lah kita malah bangga. Lagian para penjajah dari Eropa itu sebenarnya udah dijajah dunia kok, coba nanti kalau dunia udah menyelesaikan tugasnya, menyesal mereka pastinya. Ya kan dulu udah aku bilangi, pulang aja nanti malah nyesel, eh malah nggak percaya mereka, malah diriku yang dihajar. Untungnya sedikit tau aku masalah mengelak, akhirnya aku menang sedikit telak. Mereka terlalu percaya diri sih, rasain sekarang.
Setelah cukup lama, Sang Hyang Wenang sudah mempunyai anak dari hasil perkawinan dengan Dewi Sohati. Kelahiran anaknya berupa Akyan, artinya si anak memiliki sifat kemanusiaan yang berupa berbadan jasmani, namun diliputi cahaya kuning, merah, hitam, dan putih. Selanjutnya, ia dimandikan dengan air kehidupan. Adapun cahaya empat warna yang meliputinya tadi selanjutnya berkumpul menjadi satu. Setelah itu, sirnalah wujud badan jasmani dan tinggal menjadi badan rohani yang diliputi cahaya gemerlapan. Setelah proses pelenyapan badan wadag si bayi, akhirnya sang ayah memberi nama bayinya Sang Hyang Tunggal.
Sejak dahulu diriku diliputi rasa malu, metode pembelajaran diriku sejak lahir nggak pernah begitu. Belum pernah sekalipun diriku diajari untuk meninggalkan badan jasmani. Padahal, ketika ruhani kita masuk ke dalam jasmani, maka sejak itulah sistem kkebalan ruhani kita ditantang gelombang berat dari jasmani. Harusnya segeralah beregenerasi wahai ruhaniku, mengapa frekuensimu makin nggak merespon? Wahai ruhaniku, carilah celah yang pantas untuk dirimu berperang, tetapi ya jangan lupa bagian bagi jasmani kita. Ya mau gimana lagi, segala yang diciptakan kan nggak ada yang nggak berguna, pasti kita pada saatnya akan tau apa kegunaannya. Udah terserah lah, bergantilah menjadi yang sebenarnya. Sebelum diriku tau, bahwa ternyata jasmani terus terusan melanggar aturan teritorial perang raga jiwa. Jagad raya bukanlah medan laga bagi sang ruhani yang terlalu suci.
Komentar