Banyak yang beranggapan bahwa untuk berpikir secara mendalam, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, atau menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada di dunia. Sungguh, kita telah menganggap berpikir secara mendalam sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Tapi kayaknya emang agak berat dan susah sih, tapi kadang menyenangkan juga. Akhirnya, kita berkesimpulan bahwa pekerjaan semacam ini hanyalah untuk kalangan manusia yang kurang kerjaan.
Padahal, sebagaimana telah disebutkan sejak dahulu kala, bahwa Allah mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Pernah juga aku selidiki, bahwa mereka yang mengubah tatanan buruk dalam masyarakat adalah mereka yang suka merenung. Awalnya emang berat, mau gimana berbuat apa gak tau, tapi ada keajaiban gitu ujungnya. Tepatnya bukan keajaiban sih, tapi hadiah terbaik untuk mereka yang setidaknya berusaha untuk peduli.
Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikirnya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat lalai dan lucu. Kata kelalaian mengandung arti ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan. Dalam sejarah, urutan fase masyarakat adalah begitu, entah gimana pokoknya. Kelalaian manusia yang tidak
berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya. Kasihan orang lain yang ikut merasakan dampak kelalaian kita kan? Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai.
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenunginnya dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka taat kepada Allah. Sebaliknya, Allah
juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena mereka lalai untuk berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa taat kepada Allah.
Jikalau demikian, diriku akan berpikir secara sangat dalam, tetapi kadang sampai kehilangan cahaya diriku karena saking dalamnya. Merupakan sesuatu yang menyenangkan kala diriku jatuh dalam renungan, kadang malah ketawa sendirian. Oleh karena diri yang udah lupa sama tempat asalnya. Akhirnya, aku ingin tau bagaimana para pendahuluku berpikir tentang apapun yang terjadi, sedang di lain sisi, kaum sufi mengajarkan untuk meditasi sendirian sampai lupa akan diri.
Padahal, sebagaimana telah disebutkan sejak dahulu kala, bahwa Allah mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Pernah juga aku selidiki, bahwa mereka yang mengubah tatanan buruk dalam masyarakat adalah mereka yang suka merenung. Awalnya emang berat, mau gimana berbuat apa gak tau, tapi ada keajaiban gitu ujungnya. Tepatnya bukan keajaiban sih, tapi hadiah terbaik untuk mereka yang setidaknya berusaha untuk peduli.
Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikirnya. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mau berusaha untuk berpikir mendalam akan terus-menerus hidup dalam kelalaian yang sangat lalai dan lucu. Kata kelalaian mengandung arti ketidakpedulian (tetapi bukan melupakan), meninggalkan, dalam kekeliruan. Dalam sejarah, urutan fase masyarakat adalah begitu, entah gimana pokoknya. Kelalaian manusia yang tidak
berpikir adalah akibat melupakan atau secara sengaja tidak menghiraukan tujuan penciptaan diri mereka serta kebenaran ajaran agama. Ini adalah jalan hidup yang sangat berbahaya. Kasihan orang lain yang ikut merasakan dampak kelalaian kita kan? Berkenaan dengan hal tersebut, Allah memperingatkan manusia agar tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lalai.
Dalam Al-Qur'an, Allah menyebutkan tentang mereka yang berpikir secara sadar, kemudian merenunginnya dan pada akhirnya sampai kepada kebenaran yang menjadikan mereka taat kepada Allah. Sebaliknya, Allah
juga menyatakan bahwa orang-orang yang mengikuti para pendahulu mereka secara taklid buta tanpa berpikir, ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan yang ada, berada dalam kekeliruan. Ketika ditanya, para pengekor yang tidak mau berpikir tersebut akan menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang menjalankan agama dan beriman kepada Allah. Tetapi karena mereka lalai untuk berpikir, mereka sekedar melakukan ibadah dan aktifitas hidup tanpa disertai rasa taat kepada Allah.
Jikalau demikian, diriku akan berpikir secara sangat dalam, tetapi kadang sampai kehilangan cahaya diriku karena saking dalamnya. Merupakan sesuatu yang menyenangkan kala diriku jatuh dalam renungan, kadang malah ketawa sendirian. Oleh karena diri yang udah lupa sama tempat asalnya. Akhirnya, aku ingin tau bagaimana para pendahuluku berpikir tentang apapun yang terjadi, sedang di lain sisi, kaum sufi mengajarkan untuk meditasi sendirian sampai lupa akan diri.
x
Komentar