Anak-anak muda berkata tentang negerinya: Ayolah, dengan tangis atau tawa, ditangisi atau ditertawai, kita harus membelanya. Sudah sarapannya para pemuda ngomong masalah negerinya yang menurut mereka adalah bahasan utama. Ketimbang bahas nanti mau nikah sama siapa atau nanti mau tinggal di mana. Ya tapi setidaknya dengan satu dua butiran mimpi, berharap Indonesia yang jelita ini, Indonesia yang terancam nasibnya ini bisa diurus dengan sedikit keseriusan. Lagian Indonesia ini kan tanah surga, jadi ya wajar kalau buat rebutan, berhubung aku lahir di sini maka nanti ada kemungkinan jikalau aku buat kesalahan maka diriku bisa saja dibuang ke negeri seberang. Tentu saja di negeri seberang diriku akan memimpin orang sana, dengan penuh kontroversi tak apalah. Karena kontroversi adalah tontonan kawula muda yang paling diminati dan ruwetnya selalu merasuki hati dan opini. Bemikianlah, begitu kata muncrat dari mulut kami para pemuda, berpuluh kerja ala kadarnya terpacu dengan kerasnya, walau tentu saja kami ini sangat banyak keterbatasan. Sebenarnya kalimatku kali ini gak bener, aku nulisnya semrawut tanpa arah tujuan untuk dipergunakan sebagai apa ini nantinya. Tapi untungnya diriku ini suka banget nulis sesuatu yang begini. Kadang kita ini gak perlu lah menulis alasan ataupun jawaban, tentunya mas Iwan Fals adalah pelopor kejernihan opini kepemudaan. Untung mas Iwan Fals gak begitu liar sangat. Tapi tentu bagi orang tertentu, Iwan Fals adalah sesosok yang perlu ditonjok. Sebenarnya, ngulas pemuda itu unik benar, apa yang dilakukan mereka itu seperti menabur garam di samudera, tapi ya harus diapresiasi bahwa yang mereka lakukan itu adalah bentuk pembuktian cinta yang tak main-main.
Segala yang kita para pemuda lakukan, betapa sering terasa justru belum bisa dibilang sebuah perbuatan. Ribuan kata yang kita ucapkan sampai serak, cuma menghambur jadi debu, menambah kotor udara dan malah mengelilipi mata kita sendiri. Beraninya mereka bermain-main sama kita coba. Kita begini ini sudah sampai berani nekat mengorbankan impian yang terus membumbung tinggi loh. Kau mengerti apa maksudku kan? Bahwa grafik mimpi itu bergerak sebanding dengan makin membengkaknya perilaku dan kejadian yang merendahkan derajat kesejahteraan kekasih kita. Tapi, jangan khawatir, kami ini pandai bikin slogan, walau sebenarnya itu bukan yang kenyataan, namanya juga slogan. Hanya sekedar muncul begitu saja waktu kami kerasukan semangat muda yang membabi buta. Yang sejatinya mencenderungi pembesaran di beberapa hal dan pengecilan di beberapa hal yang lain. Dan kadang diriku juga percaya bahwa semangat yang meluap dari kami para pemuda adalah selalu cenderung terperosok ke dalam ketidakadilan dalam menilai kenyataan. Sanubari kami itu ada di mulut kami.
Kita bahkan sampai bertanya di antara kita, wajarlah karena memang anak muda selalu mengasah pengetahuan di antara anak-anak muda lainnya. Sampai ujungnya kalau gak punya dukungan yang kuat, maka kami akan mengadu langsung pada Tuhan agar sudi turun tangan. Aku sendiri kalau sampai mengadu pada Tuhan, sampai menutup mulut ini aku punya pikiran, biar mata yang bicara. Anak muda pasti tau bahwa itu adalah pilihan ungkapan yang ekstrem, tetapi kami juga sekaligus tak mampu berusaha meringankan bobot kenyataan yang memang tak lagi bisa diringan-ringankan. Lagian sebagai manusia yang masih berada di usia terpanjang, kami ini juga sangat suka menguji diri, tak peduli resiko nanti gimana, atau sekedar dikaplok si bapak mah enteng. Kami cuma perlu pergi sesuka kaki, tapi kami gak mau ikut arah angin juga. Jika kami ditanya, apa kabar negerimu? Kami cuma perlu menjawab: Lumayan. Kacal balau, kami semakin dipojokkan, struktrur makin memelaratkan kebanyakan penduduk, mahasiswa diternakkan, gak ada pemimpin, yang kelihatan cuma penguasa yang sok menguasai kita. Kalau kita marah yo habis kamu ki Demang. Tapi kalau kita lagi kepepet dan nurani lagi puasa, maka kami bisa saja menjawab bahwa negeriku baik-baik saja. Pembangunan lancar, tengah menuju masyarakat adil makmur, walau utang banyak tapi dibanding negeri lain kami ini di depan mereka semua. Cobalah perhatikan negeri di Afrika sana, kita haruslah banyak sujud bersyukur.
Kami para pemuda ini hitam putih, tapi tidak begitu hitam putih juga. Tergantung situasi. Wajar, kami juga pernah dididik dan belum selesai dididik, dan juga ada masa nanti yang harus kami hadapi. Tentu kami harus tepat memilih susuran jalan manakah yang akan kita lalui. Salah sedikit kami mati muda tanpa ilusi. Bayangin berapa banyak mata yang menangisi kawula muda kalau mati. Makanya kami cenderung berani, darah kami ini harganya mahal kalau dipermainkan.Walau sebenarnya kami juga takut kalau ini raga terjadi apa-apa, hantu kami adalah ambisi dan emosi.

Komentar