Langsung ke konten utama

Pada Kunjungan Siang itu

Hujan untukku saja, seharian
dalam gema gemetar kemalasan
Tersengat, sambaran kilat pengantin baru
Berduaan di kamar, "Ngantuk" katanya
yang pria cuma,
yang wanita bugar kulihat
sudah seperti siap untuk berdansa, lagi

Cobalah aku eja kembali
apa perlu dicoba seperti Adam-Hawa dahulu?
itu dulu efek emosi diri manusia, menurutku.
Kalau boleh tau?
dengan siapa aku nanti bercumbu?
sebelum, dan apalagi setelah itu,
aku pasti berterima kasih padamu terlebih dulu
Itu pun kalau aku berani utarakan padamu!

Hari ini aku gagal bertemu
sejak pagi niat meronta ingin bertemu.
Di luar itu,
aku dapat berjuta ilmu!
dari pengemban sejati asal Banyuwangi.

Tentang jalan penuh liku
menuju tujuan yang sebenarnya satu
dari situ,
aku bergegas menuju rumah satu
rasanya begitu seru
tampak, sudahlah aku cocok di situ.

Jarang sekali terjadi hal seperti itu
mungkin awalnya,
dimulai dari obrolan satu lawan satu
yang ketiga jadi pemandu
atau pertimbangan saat keduanya buntu

Aku pengen mengupas satu hal,
bagaimana supaya bisa hidup seperti mendekam?
menuju satu tujuan.
Bukan keduniaan atau kasih sayang
Tenang dan tanpa beban pikiran.
terimakasih, kang!
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar