Langsung ke konten utama

Aku Tulis Pamplet Ini

      Puisi, aku pengen menikmati puisi, aku selalu mengira bahwa puisi adalah nafas setan, dan ternyata itu benar aku punya dugaan. Sangat disayangkan, suatu saat aku pengen hidup dengan penuh ketenangan dan sedikit kesepian. Karena puisi itu sering menaburkan benih arogan, menumbuhkan kecemasan, dan merongrong kewibawaan setiap manusia. Aku selalu mengira pula bahwa puisi adalah bentuk ketidakjantanan kita punya pikiran, memanglah nasib apa mau dibilang. Aku sendiri pun lebih dominan teriak di secarik kertas ketimbang koar-koar dengan keringat bercucuran. Dasar manusia, kadang heran juga, kok bisa seseorang bisa terbentuk sedemikian, faktor lingkungan ataukah pengalaman? Terserah dengan apapun lah, yang jelas bahwa semakin seseorang mengalami berbagai tekanan yang membuatnya ingin menyerah, maka pribadi yang unik akan terlahirkan. Itulah yang menurutku dinamakan puisi cinta. Sementara para pujangga yang feminim memilih hujan sebagai puisi langit paling mengagumkan. Yang parah lagi ruwet lagi adalah pujangga muda yang tertarik pada kesenjangan kita punya harta maupun tahta, haduh gak bener mereka itu. Terserah dengan itu semua lah, lagian diriku juga sudah pernah melewati semua fase kepuisian yang begitu menyejukkan, oleh karena setiap apa yang kita lelakukan adalah bentuk puisi terpercaya. Cobalah diriku seumpama mau tapa olah rasa, maka tak lama akan aku lahirkan maha karya yang cuma aku saja yang memahaminya. Kadang aku juga mengira bahwa puisi adalah limbah keletihan kita punya jiwa, yang setiap harinya harus melayani nafsu kita punya raga. Itulah mengapa ada juga yang menyetujui bahwa puisi tertinggi adalah kematian, yang mana hal tersebut mampu membuat sang jiwa tenteram penuh kemenangan. "Merdeka...!" bentaknya seusai sesi tanya dengan Malaikat.

     Sebenarnya seumpama sejak dahulu kala para pujangga dikumpulkan, siapakah yang akan menang dengan tenang? Pertanyaannya juga adakah juri yang berani memberikan penilaian? Setiap pujangga tentulah tidak peduli dengan nilai setiap karyanya, mereka hanya perlu menumpahkan apa yang mengendap dalam dirinya, itu juga yang membuatku percaya bahwa puisi adalah kotoran jiwa. Ketika puisi tercipta, itu ibarat para manusia serigala yang kehilangan cahaya bulan. Mereka kembali ke bentuk semula, sementara tentu saja aumannya telah menakuti semua gadis di istana kahyangan sana. Sekarang waktunya kita simak puisi dari manusia seutuhnya, WS Rendra. Perlu diketahui juga, kadang aku sendiri yo heran juga, kenapa puisi mas Rendra selalunya panjang gak ketulungan?

     Eh, gak jadi lah, aku sebenarnya cuma ingin membicarakan mereka yang suka banget nulis puisi, apa yang ada di pikiran mereka coba, coba bayangkan sampai ada lomba tanding puisi. Kadang ada juga yang menyair atas dasar renungan perjalanan dia punya hidup, ataupun kiat-kiat dalam menjalani detikan waktu yang pada dasarnya sangat jelas menuju rumah puisi paling menakutkan kita punya badan. Sebenarnya adakalanya diriku sangat menyukai sulaman kata tentang kematian, ataupun hidup yang sangat penuh penderitaan. Tetapi yang unik lagi adalah bahwa mengapa pula jarang aku temukan puisi tantang kesenangan, mayoritas tentang kepedihan. Sangat jelas bahwa puisi adalah racun yang kita keluarkan demi mendapatkan kewarasan. Aku sendiri juga sangat mantep meracik puisi saat diri ini dilanda tanya yang begitu menyita pura. Bahwa sampai aku sangat percaya bahwa seumpama para pujangga dilarang keras menciptakan karya maka semua pujangga akan masuk rumah sakit jiwa maupun pergi menetap riang gembira di jantung hutan khatulistiwa.

     Tolonglah, jangan sampai raga kita terpenjara oleh kata, ya wajar seumpama jiwa kita ingin berontak membunuh kita punya raga, namun perlu juga kita sadar bahwa dengan raga ini sajalah kita mampu mencicipi seperti apa dunia yang sebenarnya. Menurutku, lagu-lagu karya mas Iwan Fals adalah karya puisi yang begitu berupa. Lagu beliau sangat kentara berbicara, meraung bagi yang terkena seragannya, dan bangkit busungkan dada bagi yang terbelanya. Itulah maha karya. Tetapi waspadalah dengan puisi cinta dari para pujangga wanita, mereka punya daya tarik luar biasa bagi kita kaum pria. Semoga para wanita sadar dengan apa yang sudah mereka perbuatkan untuk dunia perpuisian. Seperti inilah sejatinya manusia, ada saja hal yang membuatnya takluk tak berdaya. Apakah kita harus minta maaf? Gak usah, karena kita tercipta untuk hidup saling berbalas kata. Sesiapa yang emosi diakhir laga maka aku hanya berharap semoga dia berpuisi saja ketimbang berburuk sangka. Walau kadang pula puisi isinya cuma buruk sangka doang. Bagaimana dengan pantun? Itu bentuk pertemuan antara jiwa dengan kekasihnya. Lama lama aku pengen melamar perempuan kan malahan, nasib tenan. Udah lah terserah dengan apa yang aku beritakan. Karena bagiku, diam dengan tanpa kedigdayaan adalah bentuk kemenangan paling aku idamkan.

Inilah puisi ku, kasihan si Kamandanu, gagal dapetin Nari Ratih karena gak cakap berpuisi. Dan terlebih sial lagi si Nari Ratih yang akhirnya berkubang dalam telaga racun pujangga. Jangan memutuskan mandi dengan kata, gak baik.

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar