Langsung ke konten utama

Ya, Itu Dia

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah ku rasa senang

Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai


Air Mata

Darimana dia?
Untuk siapa dia, hilang begitu saja
Takut siapa?
Hati yang meronta, oleh cahaya mata

Acuh, diam, getir terasa
Ingin ku bersandiwara
Lidah buta akan rasa
Cuma dia!

Mengalur tanpa prasangka

Dialah aku!
yang sebenarnya


Ujian Hati

Pergi itu mudah, sumringah
Jalan pulang belukar, payah terengah
Jatuh hati dengan mudah
Setia sampai akhir tujuan, berkah

Tunggu bukan menunggu
Beda, perlu engkau tau
Sudut menggantung rindu
Air mata bukan banyu

Bayangmu

Tapi,
Aku merasa sepertimu
Aku tetes di air matamu
Aku ruh dalam ragamu
Aku gelak pada tawamu
Aku dirimu

Aku sepotong kalbumu
Aku naluri pada perilakumu
Aku tangan kiri di kananmu
Aku pola pikirmu
Aku perlu tau itu

Ya,
Itu rasa dadaku


Yakin Kita

Matikan aku wahai Gangga
Agar sukmaku ke arus surga
Agar puja terjunjung bara
Merintih janji, meraung dewa yang lara

Kau bentuk keyakinanku
Padamu kuasa di ruang sidangku

Syaratmu kutulis dengan mulai
Harapan yang tulus gemulai
Kemurnian di atas keinginan
Kutulis melodi di telapak tangan

Membawamu ke tanah haramku
Membunuhmu di sujud pagiku
Berlutut kau di mataku

Untuk langkah sealun
Gapai yakin pengharapan


Nah, hebat bener puisiku hari ini. Hasil kombinasi ketekunan dan ya itu pokoknya. Nggak sepenuhnya, selebihnya iya. Kalau sampai aku jelasin semuanya, bahaya. Aku bisa kena murka dari si dia yang katanya makhluk penjaga kemurnian karya. Lagipula bahwa karya adalah susunan kombinasi dan stimulan karya utama dan lainnya. Seni juga paduan rasa dan mata. Cinta juga bagian sejarah hidup yang melegenda, dan mengapa aku harus heran dengan paduan yang kamu tawarkan. Paduan hitam putih adalah awal dari berwarna. Ya aku banyak mendominasi para petarung di hutan belantara, walau aku didominasi selalu oleh dia punya rasa. Apa aku budak cinta? Ya nggak masalah, lagian aku masih waras, dan tau juga kapan aku membalas. Paham nggak aku bicara apa?

The Introvert
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar