Ada berapa banyak takhayul yang sudah kita ketahui, sebenarnya setiap orang siapapun dia, mampu dan berhak membuat takhayul, mengingat bahwa keingintahuan selalu membuat kita makin berpengalaman, lantas pengalaman akan jadi pelajaran untuk mereka yang masih awam. Jadi, pengalaman kita yang sangat kita banggakan ini hanyalah sebuah takhayul bagi mereka yang awam, terlebih belum mengalaminya. Perlu diketahui, kalau kita belum merasakan langsung, jangan percaya dulu, anggap saja takhayul. Ini supaya kita mau mencoba, tapi yo harus banyak dengar dulu kita sebagai manusia awam, jangan asal grusa-grusu tanpa pertimbangan, keingintahuan kadang juga kecelakaan bagi mereka yang kurang tatanan lewat kuping. Kalau bagiku, telinga lebih utama dibanding mata, apalagi mulut. Waspadalah dengan bibir lidahmu yang pastinya banyak menjerumuskan, kalau kita masih awam, jangan sesekali menasehati mereka yang banyak ilmu pengalaman, bahkan menurutku menasehati yang lebih tua juga pamalik, toh yang lebih tua jelas salahnya, jangan dinasehati. Jangan sampai lidah kita yang tanpa tulang ini mendorong kita lebih lantang dalam mengobarkan kebenaran. Percayalah padaku, kebenaran juga mempertimbangkan totokromo dalam penyampaian.
Takhayul yang paling ruwet adalah takhayul yang dituturkan oleh para ahli ilmu firasat. Kalau umpama kita acuh tak acuh, khurafat juga ada buktinya, walau yang membuktikan juga si pihak penutur takhayul sih. Umpama kita percaya takhayul, saya takut malah pikiran ikut melayang tak karuan, kalau bagus sih gak masalah, tapi kalau ora? Misal ada kupu-kupu masuk rumah, kupunya jelek lagi, kan jadinya tidur tak tenang, anggap saja itu takhayul. Kalau dulu saya masih bocah, walah banyak sekali takhayul-takhayul yang harus saya taati demi ketenangan orang tua, masalahnya sih, sebenarnya saya ini kan gampang penasaran, jadi kalau diberitahu kabar suatu takhayul misal, yo tak jajal, opo iyo ngono lo maksudku ki, tibakno enek seng iyo tapi okeh seng ora. Primbon ki termasuk takhayul uduk? Kalau menurut si embahku, yang punya cekelan kitab suci Primbon, uwakeh takhayul yang cuma dilihat berdasarkan ciri fisik seseorang yang mana hal tersebut nantinya menjelma menjadi kebiasaan seseorang. Umur dari segi garis telapak tangan misal, walah itu jangan dibahas mendalam, nanti kamu malah kurang berani melakukan sesuatu yang menurut akalmu sangat ideal. Tapi unik juga sih, kenapa garis tangan bisa ada? Kalau saya perhatikan, garis tangan kan gunanya supaya kala mengenggam sesuatu bisa pas gitu, kan si kulit bisa terlekuk dengan sempurna begitu. Mudahnya, saya ini jenis manungsa yang begitu suka takhayul namun tak banyak mempercayainya, eh... percoyo deng mbah. Sebagai wong Jowo, yang sialnya kakek nenekku juga kuat secara takhayul, diriku harus lebih bijaksana dalam setiap tindaknya, yang penting tidak secara terang-terangan melawan mereka, walau ngeyel juga pas mereka menuturkan ilmu takhayulnya, cuma ngeyelnya di belakang, nanti umpama ada apa-apa, saya menyalahkan mereka dong, yo piye, kan aku gak sengojo. Intinya, jangan sampai silang pendapat dengan orang tua cuma masalah takhayul, ingat bahwa manusia adalah makhluk yang pada dasarnya cerdik dalam mengotak-atik. Tapi saya ini gak pernah ngotak-atik, saya ini kan pria baik.
Sebenarnya, untuk mengatasi takhayul sangatlah mudah. Mereka yang percaya telak terhadap takhayul tentu saja akan mengembalikan kejadian yang menimpa saat ini pada apa-apa yang sudah terjadi pada masa sebelumnya, mereka begitu cinta terhadap sebab-sebab setiap akibat, kalau menurut kaum sufi, entahlah aku lagi tak pengen membahas ungkapan pecinta sufisme, tentu saja berlawanan dengan takhayul dong. Harusnya saya fokus belajar takhayul saja lah. Nah, saya pernah belajar ilmu takhayul dari kakekku, mulai dari ciri fisik sampai totokromo. Makan saja bisa menggambarkan seperti apa kamu nantinya, ada yang suka makan lauknya duluan terus akhirnya nasinya gak kemakan habis karena sudah kenyang duluan, ada yang makan nasinya duluan dan akhirnya lauknya seperti tak begitu nikmat lagi, ada yang makan nasi imbang dengan lauknya, walah pokoknya ruwet. Apalagi kalau sudah masuk bab hari pasaran, itu kita mau kemana dan mau ngapain ada waktu dan arah awalnya, bahkan kakekku berani mengatakan apa yang akan terjadi pada seseorang walau kejadian tersebut belum menimpa tuh orang, cuma berdasar takhayul yang berasa firasat menurutku. Untungnya, saya ini lumayan pinter mengelak, jadi walaupun kelihatannya saya ini memberontak takhayul tuturan nenek moyang, nenek moyang tak melihat yang saya lakukan adalah sebuah pemberontakan. Kalau menurut seniorku dalam ilmu memutuskan suatu perkara, intinya bahwa takhayul berasal dari mereka yang dulunya punya keunikan tersendiri, dan setiap takhayul akan menjadi kenyataan apabila si pihak penutur menuturkannya secara ikhlas dan penuh ketidakrelaan. Jadi, jangan melawan takhayul apabila di tuturkan pada kita dengan penuh ketidakrelaan, setiap takhayul hanyalah cerita, sementara cerita mereka yang cinta pada kita pastilah bernyawa doa. Maka, ngeyel juga ada ilmunya woi, jangan sok jagoan.
Pada dasarnya, saya secara pribadi belum pernah mengalami secara langsung akibat dari melawan takhayul, ataupun mengalami hasil dari kajadian takhayul. Walau saya juga masih penasaran dengan hitungan hari, pekan, bulan dan tahun. Angka-angka tersebut sulit untuk aku percayai namun begitu mengena dalam setiap aktivitas mental fisikku. Walaupun tidak secara detil, tetapi cukup lumayan. Anehnya, saya tak begitu pengen mempelajarinya, karena saya mengerti bahwa siapa saja yang mengerti sesuatu maka akan cenderung banyak kecemasan dan cuma mereka yang beruntung yang akan mengalami ketidakkhawatiran. Jangan khawatir, orang dahulu kalau tersesat maka mereka cenderung mengikuti insting binatang endemik, jadi misal kalau kita sering terjebak dengan keinginan ide ide brilian kita sendiri, kembalikan pada insting wanita, kaum hawa tau betul apa yang harus dilakukan. Itulah penyebab utama dan sah bahwa para bujangan banyak yang salah keputusan, giliran setelah nikah mulus-mulus saja kan? Entah ini takhayul atau bukan, namun saya begitu percaya bahwa ketika pria lagi error, wajib di servis wanita, kalau dibawa ke dukun pria, walah malah makin ruwet urusan. Nah, kalau wanita yang error, kemana memperbaikinya? ke dukun cabul? yo ojo to, neng pasar pastinya dong mereka, mata wanita memang seperti kunang-kunang, itu kunang-kunang sebenarnya adalah mata wanita yang sudah terkubur. Sebenarnya, saya ini punya sudut pandang yang sangat negatif terhadap wanita, yang sebenarnya bahwa sudut pandang lebih cenderung berasal dari rasukan penuturan takhayul khas pria kesepian yang gagal dalam percintaan. Memang sih, ada satu hal dan beberapa hal deng, yang menurutku jangan diserahkan pada wanita guna pengambilan keputusan, misalnya kalau kamu pengen nikah lagi, ya jangan didiskusikan sama istrimu dong, diracun malah bar kamu nanti. Begini, bagaimana kalau kita tak usah serius dalam setiap perkara, tapi saya ini jenis pria yang serius loh, yo berarti saya harus belajar ilmu humor dong?
Kalau disuruh meminta sesuatu kepada Yang Maha Memberi, saya cuma pengen supaya tidak begitu banyak pertimbangan negatif dalam setiap masalah yang menuntut keseriusan tanggapan. Ah, kenapa saya belum pernah tau seperti apa suara teriakan terkerasku? Saya malu mau teriak, saya takut kalau nanti ternyata suara teriakanku seperti teriakan Ratih si Dewi Kesuburan. Yo alah cong bencong, nasib.
Komentar