Bagaimana caramu beradaptasi? Sejak dahulu kala, manusia adalah makhluk yang paling cakap beradaptasi, namun untuk mencapai sesuatu yang lebih, manusia akan cenderung mengikuti dorongan sifat jahatnya. Atau adakalanya kelakuan jahat akan muncul akibat alam yang memaksa manusia gagal berdaptasi. Peperangan, perampasan, dan juga pendudukan adalah yang paling tidak mencerminkan kelebihan adaptasi. Mereka bilang hal ini adalah upaya menyebarkan pengetahuan, nyatanya mayoritas adalah eksploitasi jahat. Terkadang tatkala saya membayangkan peradaban manusia dahulu kala, sangat membingungkan, mereka suka perang. Atau memang salahnya ada pada buku pelajaran yang isinya cuma memuat kalah menang? Nyatanya waktu yang dilalui mereka kan sangat panjang, kita saat ini yang hidup belasan tahun saja sudah bisa menyaksikan banyak kejadian, entah itu baik atau buruk. Namun, bukankah perubahan pada masa dahulu itu sangat lambat? Jika membaca era Raja siapa misal, yang dikupas cuma seputar upacara kerajaan maupun serangan-serangan. Padahal hal paling penting adalah kondisi produksi distribusi pangan. Sungai pada masa itu punya peran yang sangat signifikan, begitu juga dengan peradaban di tempatku, penduduk asli sini sangat suka tinggal di pinggir atau pokoknya dekat sungai lah, padahal kalau saya coba, bahaya. Misal pas malam hujan lebat, badai bergluduk, rasanya gak bisa tidur nyenyak, suara arus sungai yang mengamuk begitu menyiksaku, gimana-gimana kalau tiba-tiba banjir menerjang, jujur saya ini kalau membayangkan air bah, rasanya mau pingsan, saya punya mental yang sangat lemah terhadap air. Saya takut tenggelam, saya takut binatang buas khas perairan, saya sekarang benar-benar tak mampu nyebur sungai, pikiranku sudah khawatir duluan. Padahal saya dulu waktu bocah adalah jagoan perairan, bertahan hidup di sungai sejak pagi sampai matahari tenggelam pun saya pernah, padahal masih bocah. Kalau membahas peradaban, menurutku yang paling ruwet adalah miliknya Yunani, mereka punya kanuragan tetapi dipersalahgunakan. Namun belum ada yang sesakti orang Jawa, kita bisa terbang, menghilang mah gampil. Semua ilmu tersebut akan hilang apabila kita jatuh ke pelukan perempuan. Tujuan diciptakannya wanita memang untuk memupus harapan, terlebih perempuan-perempuan mitologi Yunani. Tapi, saya termasuk penggemar Dewi Sri, dewi pangan yang sangat tegar penuh keberanian, namun kala panen tiba, dijarahlah oleh penguasa lalim guna menyuapi selir-selirnya. Kalau saya hidup pada zaman peparangan dan sangat menjunjung kesatriaan, tentu saya akan berkelana dan hidup seperti Gendowor si topeng hitam. Yah, setidaknya supaya ada wanita yang terpesoni gitu lo maksudku. Jujur saya pengen punya ilmu hitam, tapi yo tirakatnya nggak enteng, dan sejak kitab pusaka milik kakek dibakar nenek, menipis kesempatanku. Padahal waktu kakekku dulu pegang tuh kitab, waduh gampang punya urusan, sekarang wes tobat si mbah, nasib woi. Mengingat penguasa-penguasa dahulu kala yang suka dapat hadiah berupa harta dan wanita, saya tertarik jadi Raja. Tenang, saya ini dasarnya punya sifat mulia, pasti saya gunakan untuk kebajikan itu ilmu hitam.
Kalau saat ini, saya pengen mengetahui pandang pikiran sebanyak mungkin orang, saya pengen mendengar cara seseorang bertahan hidup, apa yang membuatnya tetap ceria dan terus berusaha? Bahkan saya sendiri pun belum paham tentang semua yang setiap harinya kulakukan. Mengapa kita mesti mengerjakan sesuatu? Saya yakin bahwa seluruh aktivitas manusia adalah bentuk tolong-menolong yang sangat luar biasa. Semoga tidak sampai mengerjakan hal-hal yang merusak harga diri kita sebagai manusia merdeka yang berpikir mulia. Sebenarnya saya juga penasan dan lumayan bertanya-tanya, mengapa ada saja manusia yang sampai melukai ataupun mengelabui atau melakukan hal-hal tak bermoral? Dan ada juga yang menyuruh atau meminta atau memanfaatkan sebagian lainnya? Kalian tau seberapa penting dan berharganya kita sebagai manusia yang berwawasan nan merdeka? Namun, apabila dirujuk pada ilmu tasawuf, semua apapun dan bagaimanapun kapanpun siapapun tentu sudah ada ketentuannya. Sudah, itu sudah menjelaskan segalanya. Umpama masa ini ada perang, tentu saya yakin bukan perang pada arti yang sesungguhnya, senjata dan pemikiran saat ini adalah pemusnahan tanpa ada alasan yang berkehormatan. Dampak perang saat ini lebih menyasar pada lingkungan, yang mana hal ini begitu merusak kehidupan. Namun, kalau manusia sudah kesurupun, tentu tak akan peduli dengan apapun. Tentu saja, bagi yang akalnya selalu sehat, akan sennatiasa ingat dampak ke depan akibat ulah manusia yang kurang pertimbangan lingkungan. Padahal kita ini hidup di planet yang sangat peka dan pemarah, kalau alam sudah emosi, habis kita. Ada banyak contoh peradaban yang musnah karena alam, dan tentu saja sebuah peradaban akan berkembang seiring manusianya melestarikan alam. Kita harus paham betul peran alam dalam menyediakan pangan dan penghidupan, walau nyatanya saya sekarang memberi makan pabrik, bukan manusia sih. Yang jelas, saya yang lahir dan hidup berdekatan dengan alam, sangat merasakan bagaimana alam mengurus kita. Saya sudah sedikit paham, mulai dari hutan perawan, lalu hutan janda, lalu tua dan diurus manusia. Kalau kita nggak peka dalam mengurus alam yang udah berusia lanjut, maka pasti tercaplok stroke, jangan sampai kita pula yang dikutuk. Alam saya kira sangat penting, dan mulai perlahan saya mulai paham bagaimana akhir kesudahan kehidupan. Yaitu ketika kita, pikir saja sendiri lah, saya sendiri juga takut. Sebenarnya saya yakin nggak mungkin jadi pemeran utamanya, namun pastinya saya ikut terjangkit wabahnya dong, dan perlu diketahui bahwa kenyataan paling pahit adalah terfitnah kenyataan padahal kita diam dan taat aturan.
Kalau kalian bisa makan saat ini, bersyukurlah paling serius. Itu hal dasar kehidupan, yang menyokong kita sebagai manusia pada dasarnya tak butuh makan, jadi kalau kita sudah tak butuh makan maka kita pisah dengan manusia. Saya tidak pernah kelaparan, namun saya sering kekurangan makan, dahulu waktu hutan perawan disini dilucuti, dan masyarakan tak punya ide untuk apa itu lahan, terjadilah kelaparan, sebabnya tentu saja sangat jelas, yaitu curah hujan juga ikut kondisi hutan. Adanya cuma semak belukar yang tak bisa dimakan, tanah yang tak ramah guna tanaman pangan, serta kurangnya wawasan. Bahkan saat ini, yang mana wawasan begitu berserakan, tidak ada yang mau memungutnya guna sedikit perbaikan, saya mau mempeloporinya malah sudah dikepung tanaman serta binatang yang begitu kusayang. Tentu saja saya ini sangat lihai beralasan, tapi jujur aku ki yo kekurangan waktu tenaga, sementara ideku begitu berjubel ingin segera lahir ke dunia. Saya pun tak begitu percaya, bahwa ternyata manusia punya batas daya, padahal saya pengen mengeksplore banyak hal. Ingat, makin hari makin berkurang ini daya, jangan khawatir sebab alam dapat di isi ulang, waspadalah kalau sampai hujan mulai jarang kita saksikan. Maka akan ada penurunan produksi pangan, terjadilah wabah kelaparan dan manusia akan emosi kalau perut keroncongan. Kemudian, saksikanlah bentuk kejahatan. Ketenangan yang kita biasa menyebutnya masa keemasan adalah yang mana pasokan pangan berlimpah ruah beraneka ragam. Wes lah, kebanyakan mengkhayal aku, umpomo aku dadi Rojo layaknya Sulaiman, emoh deng, tapi aku yo ogah seperti Firaun, lah terus Rojo sing koyok piye? Tentu saja saya pengen kebal segala macam senjata, Pancasona adi kuasa, bertahta dengan aturan mulia, lalu saya uzlah bersama warga pedalaman menikmati indahnya perjuangan rakyat jelata. Kalian tau nikmatnya berusaha dengan segala keterbatasannya? Sebenarnya saya nggak pengen tau, tapi sudah terlanjur, sejarah yang begitu menyenangkan mampu mengingat apa yang dulu saya perbuat.
Usia kita kalau dipikir mendalam, sangatlah singkat woi, jangan bandingkan dengan nanti setelah kehidupan dunia, dibandingkan dengan sejak awal manusia kemari sampai saat ini saja kita seupo. Namun, membandingkan hal tersebut bukanlah hal yang bijak, kita berbicara tentang umat mausia dan pribadi kita sebagai manusia. Karena pada dasarnya, mengetahui cerita kita sejak lahir sampai mati lebih sangat penting dibanding mengetahui lahirnya Romawi sampai runtuhnya. Terserah apa yang pernah dilakukan Romawi, karena nanti kita menghadap secara pribadi. Engko disek Gusti, kulo pengen, eh manut deng kulo kaleh sampean Gusti, gak sido. Malu aku.
Ingat, buah terlarang yang termakan oleh perempuan, jangan kalian sentuh. Kecuali,
Komentar