Langsung ke konten utama

F3

      Pada saat itu, orang-orang Mesir mengadakan sebuah majelis yang dihadiri qadhi Mesir, Badruddin As-Sinjawi dan Syaikh Izzuddin bin Abdissalam untuk mengatur urusan mereka. Mereka tengah memikirkan segala apapun guna menghadapi pasukan Tartar yang makin mendekat. Usulan yang menjadi pembahasan adalah agar pemerintah memungut harta rakyat guna dibelanjakan dalam urusan perang. Lantas Syaikh Izzuddin bin Abdissalam berpendapat, "Jika harta Baitul Mal tidak tersisa, kemudian kalin membelanjakan harta wanita-wanita haid yang memiliki emas, perak, serta perhiasan dan sebagainya, dan kalian mengenakan pakaian yang sama dengan masyarakat umum selain peralatan perang sehingga prajurit hanya memiliki kudanya yang ditunggangi, maka pada saat demikian seorang hakim diperbolehkan mengambil harta rakyat untuk menghalangi musuh. Sebab, jika musuh sudah menyerang sebuah negara, semua penduduk wajib mempersembahkan harta dan jiwa mereka."

     Seumpama saya disuruh ikut perang membela negara, saya tak akan ikut, saya mengusulkan untuk berperan dalam menyediakan pasokan makanan saja, karena saya cuma ahli dalam urusan pangan, daripada ikut perang dan malah tewas sia-sia ya kan. Lagian tanpa makanan ataupun minuman, tubuh manusia sekuat apapun pasti akan melemah. Terbukti bahwa makanan dalam hal ini sangat memengaruhi  jalan dan juga hasil akhir peperangan, contoh nyata adalah pasukan Tartar yang waktu itu punya pasukan khusus yang tugasnya menguras stok pangan musuh. Pasukan Tartar, setelah berhasil menguasai sebuah wilayah, maka para pejuang di wilayah taklukkan tadi akan dipaksa mendatangi wilayah lain yang selanjutkan akan diserbu. Para pejuang yang sebenarnya sudah jadi tawanan perang Tartar tadi, otomatis akan meminta makan dan tempat singgah, dan tentunya stok makan makin berkurang. Coba bayangkan kamu tinggal sendirian di rumah dengan persediaan makan dan minum cukup hingga setahun, lalu tetiba datang dua puluh orang minta makan dan tempat tinggal padamu selama setahun, kalau tidak kamu ijinkan maka mereka akan memaksamu, kalau kamu ijinkan mereka menguras stok panganmu. Kalau aku, langsung saya sambut namun makanannya tak kasih air tuba. Masalah racun, juga menjadi ciri khas pasukan Tartar, seringkali mereka menugaskan pasukan khusus guna meracuni air minum sebuah wilayah yang nak ditaklukkan. Sebenarnya strategi racun ini sangatlah efektif, walau terkesan kurang ksatria, namun perang, kepentingan, dendam, dan racun adalah satu kesatuan yang teguh. Ada begitu banyak Raja atau Sultan yang mati teracun.

     Pada masa perang, persenjataan memiliki peran vital, di samping juga stok pangan. Pasukan Mataram saja, andai dulu tidak kepayahan masalah stok pangan, akan lain cerita waktu mengepung  londo di Batavia, sampai Sultan Agung sendiri yang harus turun gunung pakai kanuragan. Jerman juga waktu perang dulu, sangat gencar dengan makanan, pun dengan Jepang yang sangat suka nasi, dan tentu langsung membidik kita punya sawah. Untung saat itu saya belumlah lahir, bisa disuruh kerja paksa saya kalau saat itu dah ada, padahal kerja mempersiapkan bahan pangan itu sangatlah capek minta ampun, apalagi menanam untuk disita orang. Makanya, kalau saya dengar atau lihat atau apapun lah yang menunjukkan para bangsawan dulu suka memungut upeti berupa bahan pangan kepada rakyat sendiri, saya paling benci. Dia cuma ngumpulin wedoan, makanan, dan keraton yang berkilauan, pengkhianat memang. Perlu diketahui, pada masa perang, ataupun krisis yang melanda sebuah peradaban, makanan menjadi lebih utama dibanding perhiasan. Dan juga salah satu sebab konflik dan atau pun bahkan perang, adalah juga ketersediaan makanan, manusia pada dasarnya akan cepat marah kalau lagi lapar, walau sebenarnya adalah keputusan blunder jika memutuskan perang di kala perut keroncongan. Sembahyang saja kalau perut lapar jadinya gak khusyuk, apalagi pegang pedang. Tapi blunder juga kalau mengatakan bahwa makanan adalah penentu keseriusan sembahyang, intinya yang sedengan wae lah.

     Di awal, tadi saya berniat pengen nulis tentang pasukan Mesir di bawah Saifuddin Qutuz dan juga Pangeran Baybars, malah terjerumus pada makanan. efek belum sarapan. Banyak dari kita saat ini juga menganggap remeh sarapan, ya mungkin untuk mereka yang aktivitasnya di dalam ruangan dan duduk diam, ngurus kewajiban dengan lidah bibir bergoyang, kaki ungkang-ungkang, jari tangan pegang pulpen ketikan, sarapan adalah buang buang persediaan makanan. Tapi lain fungsi bagi pekerja sejati, banjir keringat, otot menjadi saksi, tentu sarapan cuma sekedar ibaratnya pemanansan, kala menjelang siang butuh suplemen, di saat mereka butuh snack atau permen buat tahan kantuk. Tapi terserah dengan itu semua, karena semuanya adalah mulia, dengan syarat tak ada yang dirugikan, dan tentu membantu meringankan sesama.

     Ada juga saya sering dengar desas-desus masalah makanan, katanya saat ini makanan rasanya tak selezat dahulu, bahkan nasi pun kalau bukan dari beras yang khusus juga tak mengganjal lapar, yang mengerikan bahwa makanan saat ini menjadi bibit dari ramainya pasien di rumah sakit. Ada juga yang menilai makanan saat ini bikin cepat mati muda, orang-orang dulu bisa berumur panjang karena faktor makanan, lah sekarang kalau mau umur panjang malah disarankan menekan makan. Padahal makanan memiliki sifat khas juga, kita itu diperintahkan makan kalau sudah lapar, kalau belum itu namanya ngemil. Semua sepakat, bahwa makanan apapun akan terasa lezat pas dilahap waktu kaliren, sebaliknya makanan akan punah nikmatnya kalau sudah wareq, ndelok wae wes eneq.

     Yang masih membuatku penasaran, mengapa lidah orang yang lahir sebelum kemerdekaan gak mau menerima makanan yang lahir kekinian? Apakah mereka terkena efek rasan-rasan makanan zaman sekarang yang merusak kesehatan? Nyatanya kalau saya tanya memang iya, mbah-mbah buyut saya gak pernah mau makan waktu yasinan, ayam potong, ikan lele, patin, telur, atau apalah mereka gak mau, bahkan memilih singkong ketimbang nasi. Tapi gak usah khawatir, mereka yang sudah sepuh renta tersebut punya ilmu Jowo, yang mana sangat ampuh untuk umur dowo. Mereka mati kalau sudah bosen hidup, beda dengan kita yang hidup cuma bikin bosen orang lain yang hidup.

Padahal, harusnya sebagai akhir tulisan selayaknya berprasangka baik. Namun, prasangka kita terhadap mereka yang sudah koit menjadi rujukan semasa ia masih bernafas cantik. Kalian tau, ada saja jenis manusia yang suka makanan enak tapi gak suka bikinnya, kalau nggak bisa sih masih normal. Uniknya, ahli makanan didominasi kaum lelaki, yang ikut lomba masak itu apa nggak sakit hati ya kala masakannya dikomentari juri. Kasih racun wae biar sesekali juri tau oh gini toh rasanya nenggak racun. Tolong, hapus kata racun dari bahasan makanan.

Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar