Setelah membereskan Bghdad dan juga Syam, Hulagu Khan berniat melanjutkan misi ke Mesir. Sebelum datang ke Mesir, Hulagu mengirimkan surat kepada pemimpin Mamluk, Sultan Saifuddin Qutuz, isinya tentu saja berupa ancaman dan intimidasi. Kalau menurut penelitian, siapa saja dikatakan kalah jikalau sudah takut ataupun menyerah sebelum perang. Perlu diketahui loh, bahwasanya pahlawan kaum Muslim dan khususnya rakyat Mesir ini wafat dengan cara yang begitu menyakitkan, dibunuh dengan cara kurang ksatria. Urusan kasus pembunuhan Saifuddin Qutuz belum ingin aku tuliskan, di sini ada surat penting yang isinya menurutku sedikit tidak menggambarkan orang Mongol sejati.
Dalam surat itu Hulagu mengatakan:
"Dari Raja Diraja dari Timur hingga ke Barat. Khan teragung...
Dengan nama Tuhan yang membentangkan bumi dan meninggikan langit. Dia Mahatahu, tentang Raja Al-Muzhaffar Qutuz yang berasal dari bangsa Mamalik, yang melarikan diri dari pedang kami ke wilayah ini untuk menikmati segala kenikmatan yang ada di sini, setelah itu membunuh orang yang menguasainya. Dia Mahatahu, tentang Raja Al-Muzhaffar Qutuz dan para petinggi negaranya dan penduduk kerajaannya di negeri Mesir dan sekitarnya.
Sesungguhnya kami adalah prajurit Tuhan di bumi ini, kami diciptakan dari murka-Nya, dan kami berkuasa atas orang-orang yang telah membuat-Nya murka. Menyahlah kalian pada kami, sebelum penutup ini kami buka, dan kalian akan menyesal dan dipersalahkan, karena kami tidak akan memberi ampun meski pada orang yang menangis, dan kami tidak akan mengasihani orang yang mengeluh kesakitan.
Kalian telah dengar bahwa kami telah menduduki berbagai negara, kami telah bersihkan bumi ini dari kerusakan, dan kami bunuhi siapapun. Maka janganlah kalian melarikan diri, kalaupun kalian lakukan itu maka kami pasti akan kejar kalian. Di belahan dunia mana pun kalian berada, di jalan mana pun yang kalian lalui, dan di negeri mana pun kalian berlindung, pedang kami pasti akan tetap menghabisi kalian, kewibawaan kami pasti akan menemukan kalian, karena tak ada seorangpun yang dapat lolos dari pedang kami, tadak ada siapapun yang dapat lolos dari kewibawaan kami, karena kuda kami pasti lebih cepat, tombak kami dapat menembus apapun, pedang kami bagaikan kilatan petir, hati kami seperti gunung, jumlah kami seperti pasir, maka tidak ada benteng yang dapat mencegah kami, dan tidak ada pasukan yang berguna untuk melawan kami, doa kalian untuk keburukan kami tidak akan didengar, karena kalian memakan dari cara haram, kalian tidak menjaga lisan kalian, kalian mengingkari perjanjian dan sumpah, dan telah semakin meluas kedurhakaan dan kemaksiatan, maka sambutlah kabar gembira yang akan menghinakan dan merendahkan kalian.
Di dalam Al-Quran disebutkan, "Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya." (Al-An'am:93). Lalu disebutkan pula, "Dan orang-orang yang zhalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka kembali." (Asy-Syu'ara:227).
Siapa saja yang meminta perang dengan kami, maka ia akan menyesal. Siapa saja yang meminta pengamanan dari kami, maka ia akan selamat. Jika kalian patuh pada syarat dan perintah kami, maka kalian mendapatkan hak yang sama dengan kami dan memiliki kewajiban yang sama dengan kami. Namun jika kalian melanggarnya, maka kalian akan binasa. Janganlah kaian binasakan diri kalian akibat ulah tangan kalian sendiri. Siapa berhati-hati, ia akan selamat.
Bagi kalian kami ini dianggap orang kafir, tapi bagi kami kalian itu pembuat dosa. Kami telah diberi kuasa atas kalian dari Dzat yang menetapkan takdir dan mengurusi segalanya. Jumlah sebanyak apapun kalian bagi kami hanya sedikit. Manusia semulia apapun kalian, bagi kami hanya orang hina. Tanpa maksud mempermalukan, tapi kerajaan kalian tidak memiliki jalan lain. Maka janganlah kalian mengukur waktu dan cepatlah mengirim jawabannya, sebelum api perang dinyalakan, dan keburukannya dilemparkan ke arah kalian. Maka kalian tidak akan mendapatkan penolong, tidak juga teman, tidak juga penjaga, tidak juga pemelihara. Jika kalian meremehkan kami, maka negeri kalian akan kami kosongkan.
Kami telah berlaku adil karena kami menulis surat ini terlebih dahulu pada kalian. Kami telah sadarkan kalian dengan peringatan dari kami ini, dan tidak ada bagi kami maksud lain kecuali kalian.
Salam sejahtera untuk kami dan untuk kalian dan untuk siapa saja yang patuh kepada petunjuk dan takut kepada akibat yang buruk dan patuh kepada raja tertinggi.
Katakan pada penduduk Mesir, ini Hulagu sudah datang, dengan membawa pedang yang tajam yang terhunus dan siap memotong. Di hadapan kami kaum yang mulia menjadi hina, dan anak-anak kecil akan sama nasibnya dengan orang-orang besar.
Seperti itulah isi surat yang pada ujungnya menyeret bangsa Mongol pada kekalahan. Walau begitu, para pimpinan di bekas wilayah kekuasaan Mongol masih ada darah bangsa Tartar, bahkan termasuk aturan dan budaya pemerintahan masih merujuk pada peninggalan bangsa Tartar. Kalau saya baca catatan Ibnu Batutoh, yang mana beliau berpetualang setalah era Mongol, nampak jelas saat itu kondisi kenegaraan sangat berbau Tartar. Terutama yang membuatku tertarik adalah, bahwasanya saat itu para istri pimpinan punya andil dan lumayan berpengaruh. Kalau dibanding dengan kemaharajaan lainnya, era Mongol memang tidak lama, tapi itu kan cuma bacaan sejarah, tapi kalau kita mengalaminya akan tau lamanya, sekitar 1206 sampai 1368 Masehi loh bangsa Tartar murni berkuasa penuh. 162 tahun itu bukan waktu yang singkat, Indonesia saja baru berumur 76 tahun, dan kalian tau sendiri rasanya. Tapi menurutku, umpama saya hidup di era Hulagu Khan, maka saya bersyukur. Mengingat masa itu bagi rakyat biasa hidup terasa susah, dan bagi para bangsawan hidup penus was-was dan ancaman. Namun, kala itu rasa takut lagi merasuki bangsa yang tak patuh pada Mongol, ya mau bagaimana lagi, nagsa Tartar suka perang, dan hampir mustahil dilawan. Kalau kalian tak percaya, simak penuturan Sultan Saifuddin Qutuz ini:
"Tapi keadaannya begini, semua kota seperti Diyar Bakir, Rabiah, dan juga Syam, penuh dengan musibah. Berbagai negeri dari Baghdad hingga Rum sudah hancur berantakan. Mereka menghabisi semua tanaman dan ternak. Jikalau kita maju untuk melawan mereka dan melakukan peperangan, maka Mesir akan hancur seperti negeri lainnya. Menghadapi kelompok ini kita harus memilih satu di antara tiga hal, apakah kita mau berdamai saja, atau apakah kita akan melawan, ataukah kita akan evakuasi seluruh negeri? Tapi jika kita memilih opsi ketiga, maka hal itu tidak mungkin dilakukan karena kita tidak akan mendapatkan tempat untuk melarikan diri kecuali ke Maroko, dan jarak antara kita dengan Maroko sangatlah jauh."
Yang jelas, nyatanya pasukan Mongol tak pandai di lautan, mereka gagal menguasai Jepang dan juga gagal mengalahkan kita. Mereka cuma unggul di pegunungan dan dataran tandus. Mereka juga tak punya kuasa mistikal seperti kita, jadi jangan khawatir jika mereka mengirim surat pada kita, tinggal bilang pada mereka; "Kami tunggu di seberang lautan."
Komentar