Manusia adalah makhluk sosial, tapi aku nggak peduli dengan cap itu. Lewat persiapan yang matang, maka hasilnya akan sempurna. Sayangnya diriku paling malas melakukan persiapan, mengingat saya yang ternyata kurang suka mengikuti aturan, meskipun aturan tersebut berasal dari visi ku sendiri. Akhirnya aku menjadi illegal secara esensi. Becanda saja, aku ini sangat mempedulikan apa yang layaknya didapatkan oleh manusia. Secara naluri, manusia ingin dirinya tampak ada, dan kalau bisa, menjadi pusat sosialisasi manusia lainnya. Tentu saja kecuali diriku, apa enaknya bercengkrama dengan banyak manusia coba, sementara setiap manusia antara satu dengan lainnya sangatlah berbeda dan parahnya tiap mereka punya tujuan berbeda, tentu saja ini berasal dari pikiranku yang sangat dangkal. Namun jujur, diriku paling males urusan dengan banyak orang, demi kedamaian dong tentunya. Walau begitu, oleh karena setiap manusia tidak dilahirkan sama, terjadilah apa yang dinamakan ketidakpantasan. Alangkah sengsaranya mereka yang dianggap nggak pantas, aku pernah sih. Tapi aku nggak begitu tersinggung, cuma kadang ada kemauan untuk bisa pantas. Walau akhirnya yang harus aku lakukan ternyata sederhana; 'Terima dan kembangkan apa yang sudah menjadi esensi, nanti pada saatnya akan muncul mereka yang memahami.' Nah, kalimat motivasiku tadi lumayan oke, tapi nggak semudah itu. Di lapangan, akan kita temui berbagai macam situasi yang tampaknya seperti jelmaan setan yang terkutuk. Ada juga yang menilai sebagai ujian kepantasan. Nggak masalah, manusia pada dasarnya pandai beradaptasi, cukup terima dulu saja, jangan aneh-aneh. Misal, dengan mengubah esensi fisik ataupun mental. Aku kira mental nggak usah diubah, cukup nanti pada saatnya si mental akan berubah sendiri. Mental masa muda adalah yang paling saya benci, terutama ketika masih muda dan keras kepala ditambah sok keren lagi, kalau tak ingat-ingat masa itu adalah masa kelam, dan di sekitarku saat ini banyak manusia muda yang lagi keras kerasnya dalam berambisi, tentu mereka punya semangat mendidih, walau saya cukup berhati-hati menghadapi mereka. Pola pikirnya harus sadar diri dulu dan selalu rasional. Begitu yang pengen saya tekankan pada mereka.
Dalam hubungan antar manusia, kurangnya elemen kedekatan bisa membuat kita merasa terisolasi atau terkucilkan, harus ada kesan kepedulian saling membutuhkan gitu. Jika tidak mutualisme, nantinya hubungan sosial ini kemudian bisa membuat kita merasa ditinggalkan dan dijauhi, sangat kronis jika sudah begini. Untungnya, diriku tidak jatuh ke suasana begini, cuma hampir. Kalau jatuh, pola pikir bisa dirasuki oleh roh pikiran negatif, tapi kadang enak juga loh bisa berburuk sangka pada setiap orang, apalagi umur kita masih muda, ya ampun rasanya seperti paling benar sedunia. Sekalipun kita dikelilingi oleh banyak orang baik, tapi jika tak ada kedekatan yang bisa dirasakan, maka perasaan kesepian akan semakin menguat. Kalau urusan kesepian, diriku benar-benar sudah senior, tak ada yang lebih sepi dari tingkah omelanku, dalam 24 jam diriku tak pernah bertemu dan mengobrol dengan lebih dari 3 orang, bahkan tak mengeluarkan kalimat pada orang lain dalam seharian sudah menjadi hal biasa untukku. Mungkin, aktivitasku sangat bertanggungjawab dalam sepinya diri ini, walau nyatanya memang saya tak begitu tertarik keluar bersama orang-orang, tapi jangan khawatir karena saya ini jenis manusia yang mampu menciptakan situasi adem ayem. Walau secara apapun, hal tersebut mampu membuat kita nggak percaya dengan esensi diri. Dilarang mengejar eksistensi, itu bisa membuat kita lupa diri, lalu berakibat kita nggak peduli lagi dengan diri kita sendiri. Kasian kan nanti si diri kita itu...
Kita mesti berdamai terlebih dahulu dengan esensi kita. Dengan menyadari bahwa kita itu begini, maka nantinya si pola pikir akan menelurkan ide supaya kita nanti harus begitu. Oh... aku ternyata begini, berarti aku bisa begitu dong?! Ya emang bisa, cuma sebagai makhluk yang sangat terpengaruh faktor eksternal, kita ini berjalan dengan penuh jebakan dan pertimbangan. Begitu pula dalam hubungan sosial, kualitas waktu dan energi yang dicurahkan lebih penting daripada sekadar jumlah atau angka banyaknya orang yang kita ajak bersosialisasi. Seperti inilah alasan terbaikku jika kalau-kalau pikiran setanku mulai tak sopan menggoda. Kualitas memberi ketenangan, sedang kuantitas cuma menelan ketenangan, plus ngabisin banyak uang. Sebagai contoh, kita punya banyak teman tapi tak pernah benar-benar meluangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang bermakna secara mutualisme. Dari situasi tersebut bisa muncul perasaan kesepian, bahkan kekecewaan dan berujung pada kesalahpahaman dan berakhir dengan pertengkaran ambisi yang begitu jelek untuk ingatan masa depan. Apalagi teman sedikit, nggak berkualitas pula... nasib jadi parasit dah.Maksudku begini, jika kita memiliki pola pikir mutualisme, cobalah cari mereka yang juga memiliki pola pikir sama. Jika tidak, kan ada juga manusia yang seolah ingin seperti pahlawan, dengan tujuan ingin berbagi perdamaian, ada yang berhasil, tapi lebih banyak yang gagal. Bahkan aku sering membaca cerita manusia lain, yang sepakat mengatakan bahwa; 'cuma kita saja yang mampu mengubah diri kita sendiri!' Aku bahkan begitu juga, cuma diriku yang bisa mengubah pola pikirku. Tapi, manusia itu esensinya makhluk berpasangan lho... ada kemungkinan bahwa kita akan menjadi seutuhnya manusia jika sudah berpasangan. Yang aku maksud pasangan, ya memang antara laki perempuan. Aku merasakan ada suatu ikatan misterius di kala pola pikir pria wanita menyatu, begitu misterius. Apa cuma aku saja yang begitu? Rasanya emang harus segera dibuktikan. Aku jadi nggak sabar gimana pola pikirku nanti setelah menyatu dengan pasanganku. Nikmati dulu pola pikir timpang ini, nggak masalah juga. Tapi, perempuan pada dasarnya adalah sebab dari segala masalah. Mungkin hal itu secara alami akan memberikan perubahan positif pada kaum lelaki, kalau bisa sabar dan tetap rasional menghadapi godaan mesra mereka sih. Namun perlu diingat bahwa pria diciptakan memang sebagai pemimpin, dan tentunya tugas utama pemimpin adalah menangani segala masalah untuk ke depan yang lebih mulus, perempuan mana paham.
Komentar