Sejak awal, orang Yahudi memang belum berfilsafat, tetapi selama abad keempat mereka berada di bawah pengaruh rasionalisme Yunani. Pada tahun 332 SM, Alexander dari Makedonia menaklukkan Darius III dari Persia, dan orang Yunani sejak saat itu menjajah Asia dan Afrika. Mereka lantas mendirikan negara-kota di Tirus, Sidon, Gaza, Amman, Tripoli, dan bahkan Sekhem.Orang Yahudi di Palestina dan yang menyebar, dikepung oleh budaya Helenis yang oleh sebagian dianggap menganggu, tetapi yang sebagian lainnya menyenangi teater, filsafat, olahraga, termasuk juga puisi Yunani. Mereka mempelajari bahasa Yunani, berolahraga di Gymnasium, dan juga menggunakan nama-nama Yunani. Sebagian malah bekerja sebagai tentara bayaran dalam tentara Yunani. Mereka bahkan menerjemahkan kitab suci mereka ke dalam bahasa Yunani dan menghasilkan versi yang dikenal sebagai Septuaginta. Dengan demikian sebagian orang Yunani mulai mengenal Tuhan Israel dan memutuskan untuk menyembah Yahweh (atau Iao, begitu mereka menyebutnya) di samping Zeus dan Dionisus. Sebagian tertarik kepada Sinagoga atau tempat-tempat pertemuan yang telah diubah oleh orang-orang Yahudi menjadi kuil tempat peribadatan. Di sana mereka membaca kitab suci, berdoa, dan tentu saja mendengarkan khotbah-khotbah. Sinagoga tidak sama dengan apa pun yang ada di seluruh dunia keagamaan kuno. Karena tidak ada ritual atau pengurbanan, sinagoga lebih mirip dengan sekolah filsafat, dan mereka berbondong-bondong menuju sinagoga ketika seorang penceramah Yahudi terkenal tiba di kota. Sebagian mereka akan rela antre untuk mendengarkan para filosof mereka sendiri. Sebagian orang Yunani bahkan menunaikan bagian-bagian tertentu dari kitab Taurat dan bergabung dengan orang Yahudi dalam sekte-sekte sinkretis. Selama abad keempat SM, ditemukan satu-dua kejadian orang Yahudi dan Yunani menggabungkan Yahweh dengan salah satu dewa-dewa Yunani.
Akan tetapi, kebanyakan orang Yahudi tetap menyendiri, dan ketegangan tumbuh antara orang Yahudi dan Yunani di kota-kota Timur Tengah yang telah terhelenisasi. Di dunia kuno, agama bukanlah persoalan pribadi. Dewa-dewa sangat penting bagi perkotaan, dan diyakini bahwa dewa-dewa akan mencabut perlindungannya jika pemujaan terhadap mereka diabaikan. Orang Yahudi yang mengklaim bahwa dewa-dewa ini tidak ada, disebut "ateis" dan menjadi musuh masyarakat. Pada abad kedua SM, permusuhan makin meningkat. Di Palestina bahkan timbul pemberontakan ketika Antiokhia Epiphanes, yang saat itu adalah Gubernur Seleukia, berupaya melakukan Helenisasi atas Yerusalem dan memperkenalkan kultus Zeus di kuil. Orang Yahudi mulai menerbitkan literatur mereka sendiri, yang menjelaskan bahwa hikmat bukanlah kecerdasan Yunani, melainkan ketakutan kepada Yahweh. Literatur hikmat menjadi genre yang mantap di Timur Tengah, yang mana literatur hikmat berupaya mendalami makna hidup, bukan dengan refleksi filosofis, melainkan dengan cara mencari cara terbaik untuk menjalani hidup. Literatur ini sering bersifat pragmatis. Penyusun kitab Amsal, yang menulis pada abad ketiga SM, melangkah lebih jauh dan menyarankan bahwa hikmat merupakan rencana yang telah dibuat Tuhan saat menciptakan dunia dan, dengan demikian, merupakan ciptaannya yang pertama. Gagasan ini menjadi sangat penting bagi generasi awal Kristen. Pengarang mempersonifikasikan hikmat sehingga ia seolah menjadi sosok tersendiri:
Tuhan telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya,
sebagai perbuatannya-Nya yang pertama-tama dahulu kala.
sudah pada zaman purbakala aku dibentuk,
pada mula pertama, sebelum bumi ada ...
Aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan,
setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya,
dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya;
aku bermain-main di atas muka bumi-Nya,
dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.
Namun, hikmat bukanlah suatu wujud suci, malainkan secara spesifik dikatakan telah diciptakan Tuhan. Dia mirip dengan "kemuliaan" Tuhan, seperti yang dijelaskan oleh para penulis tradisi. Mewakili rencana Tuhan bahwa manusia dapat meraih pandangan sekilas tentang penciptaan dan persoalan-persoalan manusia. Para penulis menampilkan hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, mengimbau umat agar takut kepada Yahweh. Pada abad kedua SM, Yesus bin Sirakh, seorang Yahudi Yerusalem yang saleh, melukiskan potret hikmat yang serupa. Dia membuatnya berdiri di hadapan Majelis Suci dan menyenandungkan puja-pujinya sendiri: dia keluar dari mulut Yang Mahatinggi sebagai firman suci yang dengannya Tuhan menciptakan dunia; dia hadir dalam setiap ciptaan, tetapi mengambil tempat berdiam yang menetap di tengah-tengah orang Israel. Sebagaimana "kemuliaan" Yahweh, figur hikmat merupakan simbol aktivitas Tuhan di dunia. Orang Yahudi menumbuhkan gagasan yang begitu agung tentang Yahweh sehingga sulit membayangkan dia ikut campur tangan langsung dalam persoalan manusia. Mereka lebih suka membedakan Tuhan yang bisa kita ketahui dan alami dari realitas suci itu sendiri. Tatkala kita membaca tentang hikmat suci yang meninggalkan Tuhan untuk menyusuri dunia mencari manusia, sulit untuk tidak teringat kepada dewi-dewi pagan semacam Isytar, Anat, dan Isis yang turun dari alam suci dengan membawa misi penyelamatan. Dalam hikmat Salomo, seorang Yahudi Aleksandria, tempat berdiamnya komunitas penting Yahudi, mengingatkan kaum Yahudi untuk menahan diri dari godaan budaya Helenis yang ada di sekeliling mereka dan tetap setia kepada tradisi mereka sendiri. Bahwa rasa takut akan Yahweh, bukan filsafat Yunani, yang merupakan hikmat sejati. Menulis dalam bahasa Yunani, dia juga mempersonifikasi hikmat (Sophia) dan berpandangan bahwa hal itu tidak dapat dipisahkan dari Tuhan Yahudi:
Hikmat (Sophia) adalah napas kekuasaan Allah,
Pancaran murni kemuliaan Yang Mahakuasa;
maka tak ada noda yang mengotorinya,
Dia adalah pantulan cahaya abadi
cermin kekuasaan Tuhan yang tiada bercela,
bayangan kebaikannya.
Kalimat ini juga menjadi sangat penting bagi kaum Kristiani ketika mereka mulai mendiskusikan status Yesus. Namun, penulis Yahudi secara sederhana memandang Sophia sebagai sebuah aspek dari Tuhan yang tak dapat diketahui, yang menyesuaikan dirinya dengan pemahaman manusia. Dia adalah Tuhan, sebagaimana dia telah mewahyukan diri kepada manusia: persepsi manusia tentang Tuhan, secara misterius berbeda dari realitas Tuhan yang sepenuhnya, yang selalu luput dari jangkauan pemahaman kita. Penyusun hikmat Salomo benar adanya saat merasakan ketegangan antara pemikiran Yunani dan agama Yahudi. Kita telah melihat bahwa ada suatu perbedaan krusial yang mungkin tak terdamaikan antara Tuhan Aristoteles, yang sama sekali tidak sadar akan dunia yang telah diciptakannya, dengan Tuhan Alkitab, yang secara hangat terlibat dalam urusan-urusan manusia. Tuhan Yunani bisa ditemukan oleh akal manusia, sedangkan Tuhan Alkitab hanya menampakkan diri melalui wahyu. Suatu jurang memisahkan Tuhan Yahudi dari dunia, namun orang Yunani percaya bahwa karunia akal membuat manusia serumpun dengan Tuhan; mereka, oleh karena itu, bisa mencapainya dengan usaha mereka sendiri. Walaupun demikian, setiap kali kaum monoteis jatuh cinta kepada filsafat Yunani, maka tak pelak lagi mereka ingin mencoba mengadaptasikan konsepsi Tuhan Yunani dengan Tuhan mereka sendiri. Salah satu orang pertama yang melakukan ini adalah filosof kenamaan Yahudi, Philo dari Aleksandria (30-45 M). Philo adalah seorang Platonis dan memiliki reputasi gemilang sebagai filosof rasional pada zamannya. Dia menulis dalam bahasa Yunani yang baik dan tampaknya tidak bisa berbahasa Ibrani meskipun dia juga seorang Yahudi yang beriman dan menaati Mitzvot. Dia tak melihat adanya perbedaan antara Tuhannya dengan Tuhan Yunani. Akan tetapi, mesti dikatakan bahwa Tuhan Philo tampak sangat berbeda dengan Yahweh. Karena suatu hal, Philo tampaknya kurang senang dengan kitab-kitab sejarah Alkitab, yang coba dia ubah menjadi kiasan-kiasan yang rumit: Aristoteles, dapat diingat kembali, memahami sejarah secara tidak filosofis. Tuhannya tidak memiliki sifat-sifat manusia: dalam konsepsi Aristoteles, adalah tidak tepat, misalnya, menyatakan bahwa Tuhan "marah". Yang dapat kita ketahui tentang Tuhan adalah fakta tentang eksistensinya saja. Meskipun demikian, sebagai praktisi Yahudi, Philo sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan telah menampakkan dirinya kepada para nabi. Bagaimana hal ini menjadi mungkin?
Tentu saja, ini bukanlah berasal dari pendapatku, oke
Komentar