Langsung ke konten utama

Karya Mas Iwan Fals, Ijinkan Aku Menyayangimu

     Perlu diketahui bahwa lagu adalah godaan paling nyata. Semakin kita mendengarkan musik, semakin jiwa kita mudah terusik. Karena reflek lirik tentunya. Tetapi walau banyak efek buruknya, banyak juga yang menggandrungi, termasuk dari kalangan ahli kejiwaan. Tetapi aneh juga, alasan mereka soal dengerin musik sangatlah lebih menguji, katanya dengerin musik mampu mengubah ataupun mamantapkan semangat mereka, tentu saja hal ini sangatlah rumit. Memanglah dasar manusia, tidak ada yang mampu mengurus emosi manusia selain manusia itu sendiri, harusnya mereka banyak menyepi supaya sakti. Perlu juga untuk tambahan, bahwa ternyata para perancang musik adalah lebih daripada sakti, mereka mampu mengurus diri-diri mu yang begitu ternilai lugu, mudah ditusuk lewat lantunan syahdu. Dasar cupu. Pertimbangannya sangat ideal, ada yang mencari inspirasi dari keseharian setiap kejadian paling menyita perhatian, ada yang lewat pengalaman yang katanya semua pernah merasakan, ada juga yang emosian dengan rumusan masa depan yang kacau berantakan. Itulah menurutku dari jalan hidup sebuah lagu. Walau begitu, aku sendiri juga penikmat lagu, alasanku malah paling lugu; dengerin lagu karena biar nggak kesepian, wajar lah. Tapi tak akui, bahwa musik adalah lantunan bisik berisik yang sebenarnya mengusik. Ada satu musik yang menurutku lumayan menarik untuk terus ditelisik, setiap dengarnya diriku pasti terusik, dibawakan oleh maestro yang sangat penuh warna warni kehidupan. Betapa liarnya ini orang waktu mudanya, tentu keliarannya nggak sampai membuat lagunya meliar juga, masih waras setiap yang beliau persembahkan, dan bahkan selalu mengena pada apa yang ingin disampaikan. Menurutku, musik terbaik adalah hasil teriakan.

Andai kau izinkan
walau sekejap memandang
ku buktikan kepadamu
Aku memiliki rasa

     Jujur saja, diriku ini paling semangat kalau disuruh membuktikan sesuatu, termasuk membuktikan sebuah rasa. Namun dibalik semua kemauanku, tentu ada maunya juga dong. Jangan ditanya seberapa diriku dalam membuktikannya, sampai berdarah-darah pun diriku sudah biasa. Dan ya seperti inilah ciri khas pria buaya, selalunya mengungkap apa yang kiranya membuat si calon mangsa terpedaya. Udah jagonya diriku urusan beginian, namun tentu saja diriku ini cuma pandai mengolah kata yang sepertinya seolah memang seperti apa yang terasa, tetapi nyatanya sebenarnya diriku ini penuh dengan fakta yang cuma satu warna; kelabu. Cuma seperti itulah gambaran singkatnya saat diriku membaca lirik pembuka lagu ini.

Cinta yang kupendam
tak sempat aku nyatakan
karena kau telah memilih
menutup pintu hatimu

     Nah, ini baru wanita sejati, tapi harusnya ada alasan yang kuat mendasari. Namun, betapa kalian tak punya daya religi sama sekali, kalian akan menangis sesenggukan kalau tau keadaan cinta ku yang lama terpendam. Bila harus berpisah, setidaknya cobalah terlebih dahulu rasa cintaku. Kalau memang nantinya dalam percobaan kau muntah, waspadalah. Waduh payah bener ini malam, ya setidaknya itulah fakta lapangan yang di mana-mana ditemukan, yang dilantunkan para pemusik itu kan cuma khayalan ideal mereka doang. Yang terpenting saat ini adalah, seberapa sering kita memendam sebuah rasa? Dan apakah hasil akhirnya? Tentu saja untuk jenis manusia seperti diriku ini udah bisa disebut pakar dalam urusan pendam memendam, bahkan umpomo kalian gali tiap jengkal bumi, akan kalian temui rasa ku yang utuh wangi membumi. Kalian akan tau bahwa rasa, adalah sebuah filosofi.

Izinkan aku membuktikan
inilah kesungguhan rasa
izinkan aku menyayangimu

    "Sorry, aku telah dimiliki!" Untung aku belum pernah mengutip kalimat jawab ini dalam ingatan memori suciku. Kalau cerita dari orang sekitar yang curhat yo banyak, tak pikir goblok wong koyo ngono kui. Tapi karena diriku belum pernah mengalami jadi jawaban emosi adalah yang paling aku andalkan. Namun tentu tidak aku ungkapkan dong, jangan sampai rusak sebuah persahabatan hanya karena kalimat jawab yang mengecewakan dari orang yang kurang dalam hal pengamatan. Namun tentu menyalahkan pihak pemberi jawaban adalah bukan keputusan bijak, harusnya sebelum kita mengungkapkan sebuah rasa, layaknya kita minta izin terlebih dulu. Jangan sampai kita membuat orang lain sengsara hanya karena mau memutuskan memilih siapa. Dan jancoknya adalah, kok siapa coba yang aku ceritakan ini, seolah terkenal banget sampai jadi rebutan. Ingat, kau itu bukan pelangi yang memberi warna hidupku. Cuma sekedar bintang yang cuma kelihatan dan disayang waktu si dia kegelapan. Nggak masalah, yang penting jangan sampai kita cuma sekedar dibutuhkan waktu dia kelaparan. Kalau disuruh menyajikan masakan, tak kasih racun pastinya dong. Lagian membunuh karena kecemburuan sebuah rasa adalah bukan kejahatan, termasuk perbuatan normal sebagai efek usia percintaan.

Sayangku
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku
Dengarkanlah isi hatiku

     Kalian tentunya mengenal mbak Novia Kolopaking kan? Tentunya beliau wanita luar biasa, beliau nggak mau mengemis cinta hanya karena ingin menghilangkan duka. Beliau lebih memilih menunggu sesiapa yang mengulurkan tangan penuh rasa. Dan tentunya beliau punya reflek luar biasa, jangan sampai kita ditamparnya. Yang unik dalam usia muda begini adalah isi hati yang ternyata memang ada isinya loh, dan ruwet ini diri kalau sampai hati penuh sesak dengan rasa, mau diungkapkan takutnya was was nggak karuan, mau dipendam malah gentayangan. Jangan sampai nasib kita seperti mbak Desy Ratnasari dalam lantunan Tenda Birunya. Tentunya akan sulit bagi wanita, namun beda cerita kalau pria. Apakah wanita juga punya isi dalam hatinya? Kalau iya semoga saja itu rasa buat saya.


Cinta yang kupendam
tak sempat aku nyatakan
karena kau telah memilih
menutup pintu hatimu

Izinkan aku membuktikan
inilah kesungguhan rasa
izinkan aku menyayangimu

Sayangku
dengarkanlah isi hatiku
Cintaku
dengarkanlah isi hatiku

Izinkan ku membuktikan
kesungguhan cintaku

Bila cinta tak menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Izinkan aku tetap menyayangimu

    Nah ini juga yang paling bikin dunia nggak tenteram. Sejak dahulu kala, cerita cinta selalunya begini. Padahal kan ini situasi cuma sementara, efek spontan dari isi hati yang tiba-tiba kosong. Bagi para buaya, tentunya lain cerita. Mereka punya resep rahasia bahagia yang layak dicoba, namun tentunya menyakiti banyak jiwa, menodai arti cinta, dan memukul rata kaum pria. Perjalanan cinta kawula muda memang sangatlah penuh gejolak, banyak rasa yang sebenarnya sia-sia. Semoga hal itu membuat kita kaum muda makin tumbuh membara membakar semua goda. Cuma menurutku, jangan lah kita ini tumbuh dengan menjadi parasit. Malah menurut pengalamanku, tumbuh paling efektif adalah dengan isolasi emosi. Namun tidak banyak yang mampu bertapa emosi, mayoritas malah teriak sesuka hati tanpa tengok sana sini. Alhasil banyak pihak yang tersakiti, dasar bayi.

Sayangku
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku
Dengarkanlah isi hatiku

Izinkan ku membuktikan
kesungguhan cintaku
Izinkan ku membuktikan
kesungguhan cintaku
Izinkan aku membuktikan
Aku sayang padamu

    Udah lah, semakin larut ini hari, ikut larut pula ini isi kepala imajinasi. Wkwkwk.... ternyata aku butuh asupan imajinasi tiap kali merona ini hati. Sebenarnya diriku ini nggak percaya betul tentang isi hati, atau apalah itu bahwa ada isi dalam hati, atau dengan tetiba hati jadi ada rasa, atau membara ingin mengungkapkan sebuah rasa. Kalaupun ada rasa, yang ada adalah rasa penasaran doang, dengan diiringi akal yang sangat penuh perhitungan. Sungguh kasihan diriku memang, padahal aku kan sebagai manusia juga pengen tau rasanya dipeluk rasa cinta yang ogah mau lepas. Kemanakah aku harus mencarinya? Ataukah akan datang menabrakku dengan seenaknya begitu saja, nggak sopan banget. Percayalah padaku, pada saatnya pastilah kita akan menemukan seseorang yang sangat kita sayang, begitulah kalau menurut para pujangga kesepian di luar sana, yang selalu berkeliaran dan berkelekar membela para manusia kesepian tanpa keromantisan. Yang paling penting sebenarnya sangatlah sederhana, semoga yang kita sayang juga punya rasa sayang yang sama besarnya sama kita. Hingga kata sama mendominasi percakapan kita, ya sama-sama. Kita harus bersama-sama, dan bersama kita bahagia. Sebagai pedoman sebelum jatuh cinta, apakah kita sudah pernah mengecewakan orang tua kita?
Aku kurang yakin bahwa namaku ini Ridwan, tapi aku dipanggil dengan nama itu. Aku pria, tapi aku memiliki cita rasa wanita. Aku kurang normal, tapi aku yakin tidak gila. Aku hidup, tapi aku tak bernafas dengan hasratku. Gimana ini...?

Komentar